
Hari ini jadwal ustad Farid mengajar di madrasah, terpaksa rencana untuk bertemu dengan Wahid dan pemilik rumah yang akan di kontrakan harus di tunda sampai nanti sore.
"Dek, mas berangkat dulu ya!" ucap ustad Farid, Anin hendak bicara tapi ustad Farid segera meneruskan ucapannya,
"Maaf ya, dek Novi di anter dek Anin nggak pa pa!?" ucapnya segera. Memang Anin sudah menjadi mahramnya tapi Novi tetap bukan dan hal itu lah yang membuatnya ingin segera mencari rumah kontrakan.
Berada satu rumah dengan yang bukan mahram membuat ustad Farid takut menimbulkan fitnah.
Anin yang belum faham segera memicingkan matanya,
"Mas Parid malu kalau ketahuan nikah sama mbaknya Nopi?"
Pertanyaan itu berhasil membuat ustad Farid menghela nafas,
"Duduklah!" akhirnya ustad Farid mengurungkan niatnya untuk segera berangkat. Ia menarik tangan Anin lembut dan mendudukannya di tepi tempat tidur. Ustad Farid duduk berjongkok di hadapannya Anin agar bisa menjangkau wajah Anin.
"Dek, mas bukannya malu! Dek Anin masih ingat saat dek Anin dan mas pulang ke Tulungagung?" tanya ustad Farid dan Anin pun mengangukkan kepalanya.
"Padahal tujuan kita sama, tapi mas sengaja tidak menawarkan tumpangan pada dek Anin, insyaallah bukan karena mas pelit atau mas malu harus berada satu mobil dengan dek Anin."
"Lalu?" ya_, sampai saat ini pun Anin masih tidak nggeh dengan alasan ustad Farid saat itu. Dan mungkin ini kesempatan bagi Anin untuk mengetahuinya.
"Karena kita, saya dan dek Anin, Wahid dan dek Anin, kita buka mahram saat itu. Tidak baik jika laki-laki dan perempuan berada dalam satu tempat, selain dapat menimbulkan fitnah juga godaan syetan lebih dahsyat dek!"
"Jadi?" tanya Anin lagi, seakan memberi jeda pada uxapan ustad Farid.
"Jadi, sekarang beda keadaanya, dek Anin sudah jadi mahram mas, tapi tidak dengan Novi dek! Mas hanya khawatir jika timbul fitnah, dek Anin tidak keberatan kan jika mengantar Novi ke sekolah. Dek Anin Pakek motor mas saja nggak pa pa!"
Anik tersenyum, dalam hatinya berdesis. Seperti inilah jawaban atas doa-doanya. Ia menginginkan suami yang meletakkan Allah di tempat yang paling atas bahkan di atas rasa sungkan dan rasa tidak enak,
Ya Allah, engkau begitu baik padaku ....
"Kenapa dek Anin malah tersenyum?" tanya ustad Farid heran.
"Itu tandanya, Anin setuju! Jangan khawatir mas, Anin masih ada motor, nanti Anin sekalian keliling soalnya bawa keripik!"
"Baiklah, dek Anin di depan biar mas ikuti di belakang!"
"Maksudnya mah ngikut ider keliling juga?"
__ADS_1
"Maaf kalau itu nggak bisa dek, mas kan harus ngajar! Dek Anin nggak keberatan kan?"
"Ya enggak lah!"
Ustad Farid tersenyum, meskipun Anin kadang-kadang lambat memahami sesuatu, setidaknya dengan sedikit penjelasan saja Anin bisa langsung mengerti.
Akhirnya ustad Farid dan Anin pun berangkat dengan motor yang berbeda.
"Mbak, Iki satru-satruan to karo ustad farid (Ini diem-dieman ya sama ustad Farid)?" tanya Novi yang heran. Padahal kalau hanya ingin ke sekolah tidak perlu di antar dua orang, ia bisa nebeng saja sama ustad Farid. Sebuah pemikiran yang sama dengan yang di pikirkan oleh Anin sebelumnya.
"ora (tidak)!" jawab Anin singkat ambil senyum-senyum menatap spionnya, melihat pantulan pria yang berkendara dengan jarak dekat di belakang motornya.
"Mbak Karo mas ustad Ki aneh, Peh ndwe sepedah loro ngono ye, gek di gowo Kabeh. Ra ngerti bensin larang (Mbak sama mas ustad aneh, karena punya sepeda dua gitu ya? Jadi di bawa semua. Nggak tahu apa kalah bensin mahal)!" Novi ngedumel sendiri, padahal ia ingin sekali berangkat bareng dengan ustad Farid agar teman-temannya iri karena bisa punya kakak ipar seganteng dan sepintar SE Sholeh ustad Farid.
"Mben ngeri sebab e, wes rasah kakean tekok (Nanti tahu alasannya, sudah jangan banyak tanya)." Anin memacu motornya lebih cepat hingga membuat pria yang berada di belakang motornya mendengus.
Akhrinya mereka sampai juga di depan sekolah. Novi sudah lebih dulu turun tapi saat Anin hendak menghidupkan kembali mesin motornya, helm Anin di tahan oleh sebuah tangan membuat kepala Anin yang berada di dalam helm ikut berputar.
"Aduh, aduh aduh!"
Ternyata ustad Farid berdiri di belakangnya membuat Anin tersenyum dan kembali turun dari motor,
"Maaf Anin lupa pamitan!" ucapnya kemudian.
"Trus apa dong?"
"Dek Anin tahu kan, kalau wanita yang sudah menikah. Semua hal yang ia lakukan harus seijin suami?" tanya ustad Farid dan Anin mengerutkan keningnya, meskipun begitu ia juga mengangukkan kepalanya.
"Jadi_!"
Karena ustad Farid menghentikan ucapannya, Anin jadi semakin penasaran,
"Jadi?"
"Jadi mas akan mencabut hak dek Anin bawa motor sendiri kalau dek Anin bawa motornya kebut-kebutan seperti tadi, mengerti?"
Anin nyengir kuda dengan tangan yang reflek menggaruk kepalanya yang tertutup helm,
"Iya!" jawabnya singkat.
__ADS_1
Kemudian ustad Farid pun mengulurkan tangannya pada Anin, dan Anin segera menyambutnya dan mencium punggung tangan sang suami meskipun kesusahan karena harus bersaing dengan helm yang menutupi sebagian wajahnya.
"Assalamualaikum!" ucap ustad farid.
"Waalaikum salam, semangat ngajarnya mas!" ucap Anin saat ustad Farid berjalan memasuki sekolah.
Ternyata sedari tadi ada yang mengawasi interaksi antara Anin dan ustad Farid, setelah melihat ustad Farid masuk, dia pun bergegas menyusulnya.
"Assalamualaikum, ustad!" sapaannya berhasil menghentikan langkah ustad Farid dan menoleh ke sumber suara.
"Waalaikum salam!" jawab ustad Farid, ia tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya.
Ternyata hal itu masih dalam jangkauan penglihatan Anin, membuat Anin mengerutkan keningnya tapi segera ia menggelengkan kepalanya. Ia berusaha mengabaikan sesuatu yang muncul di pemikiran dan perasaanya.
Mau lama atau masih sebentar sebuah pernikahan itu terjalin, perasaan seorang istri itu tetap peka. Ia tahu mana yang memandang suaminya biasa saja dan mana yang memandang suaminya dengan pandangan yang berbeda.
Anin pun memilih kembali menaiki motornya dan memacu motornya meninggalkan sekolah.
Sedangkan ustad Farid yang terbiasa memarkir motornya di dekat pos satpam pun akhrinya berjalan beriringan dengan Bu Nisa, guru muda itu terlihat begitu cantik dengan seragam kekinya.
Ustad Farid sengaja memarkir motornya di dekat pos satpam agar nanti saat keluar dari sekolah ia tidak menggangu kegiatan pembelajaran karena fokus memperhatikannya. Ustad Farid tidak sampai siang, ia hanya punya jadwal sampai istirahat pertama saja dan selebihnya akan di isi oleh guru yang lain.
Dapat kata-kata bagus dari story mas ustad nih, semoga bermanfaat.
...Setuju banget ; Bukan soal sbearapa banyak ilmu yang kita dapat, tapi seberapa banyak ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Walaupun itu hanya satu atau dua kata tapi jika mampu membuat orang lain lebih baik, insyaallah akan lebih baik dari ratusan bahkan ribuan ilmu yang kita dapat tapi tidak kita bagikan pada orang lain, ...
...Semangat puasa💪 ...
Lagi bingung bin pusing cari visual nih buat ustad Farid, mau dong di bantu, siapa yang paling cocok buat jadi visual ustad Farid. Bisa di tulis yang di kolom komentar atau sekalian kirim foto di Ig ya, makasih🙏
Trus buat yang kemarin penasaran sama arti gethun, sudah di jawab lunas sama teman-teman semua. Trus yang tanya aku ini orang Jawa apa bukan, Alhamdulillah aku orang Blitar asli, jadi jawabnya orang Jawa, tapi nggak njawani 🤣🤣🤣, alias nggak ISO boso, isone mek blenyak-blenyak, mohon di maklum.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...