
"Ehhh mau ngapain?" Ustad farid yang hendak ikut naik ke atas tempat tidur segara ia urungkan begitu Anin meneriakinya,
"Mau tidur!" jawab ustad Farid dengan wajah bingung.
"Nggak boleh, ini tempat tidur Anin!" ucap Anin persis seperti anak kecil.
Nih anak maunya apa sih? batin ustad Farid dan memilih mengurungkan niatnya untuk naik ke atas tempat tidur.
Ia mengamati sekeliling kamar dan menemukan sebuah tikar karakter yang di gulung, tikar itu biasanya di gunakan Anin untuk mengerjakan tugas di lantai.
"Aku tidur di bawah ya!" ucap ustad Farid sambil mengambil tikar itu dan menggelarnya di lantai.
Ehhh beneran dia mau tidur di lantai, aku akan cuma becanda tadi ngambeknya ...., batin Anin menyela. Ia mengulurkan kepalanya agar bisa menjangkan ke bawah dan benar saja, ustad Farid merebahkan tubuhnya di atas tikar dengan sarung sebagai selimutnya.
"Serius mau tidur di bawah?" tanya Anin memastikan.
"Iya, nggak pa pa. Lagi pula kalau berbagai ranjang kan sempit. Enak di lantai aja lebih lega!" ucap ustad Farid dengan begitu entengnya hingga membuat anin mendelik kesal, ia tidak menyangka candaannya di anggap serius oleh suaminya itu.
"Aku kasih tempat loh, nggak mau pindah ke atas aja!?" bujuk Anin sambil menyisakan tempat yang lega di sampingnya. Bahkan ia rela jika tubuhnya harus berhimpit dengan dinding.
"Iya!" jawab ustad farid dengan yakin, "Dek Anin cepetan tidur. Besok kan kita harus ke tempatnya David!"
aisttttt ....
Anin hanya bisa menggerutu kesal, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kesal, ia pun kembali bangun dan tangannya menggapai skaklar yang ada di dinding atas kepalanya dan mematikan lampunya.
"Dek, mas nyalahin lampu tidurnya ya!" ucap ustad farid meminta ijin, ia tidak terbiasa tidur dalam keadaan yang benar-benar gelap seperti ini.
"Nggak, Anin nggak suka terang. Nggak bisa tidur!"
Sebenarnya Anin hanya beralasan saja, ia hanya ingin ustad Farid tahu kalau ia kesal dengan keputusan ustad Farid untuk tidur di lantai. Ia sendiri sebenarnya takut jika tidur dalam keadaan gelap.
Akhrinya ustad Farid pun pasrah, ia memilih untuk tidur dalam keadaan gelap, berbeda dengan Anin yang kebingungan karena ulahnya sendiri.
"Mas, mas !" panggil Anin tidak berani dengan suara keras karena takut menggangu penghuni rumah yang lainnya.
Bukanya jawaban yang ia dapat, tapi malah suara dengkuran halus.
"Beneran sudah tidur!?" gumamnya pelan.
Tapi tiba-tiba Anin beringsut dan turun dari tempat tidur. Memeluk pria yang tengah tertidur itu, membuatnya terkejut dan kembali bangun.
"Astaghfirullah hal azim!" ucapnya terkejut sambil menjauh dari Anin.
__ADS_1
"Anin takut mas!" ucap Anin masih menarik lengan kaos ustad Farid.
"Dek, mas kaget!"
"Nyalain lampunya kalau nggak mau kaget!"
Ustad Farid pun mengheningkan kepalanya tidak percaya, ia pun segera berdiri dan menyalakan lampu tidur.
"Begini cukup?" tanya ustad Farid dan sama-sama ia bisa melihat Anin mengangukkan kepalanya.
"Ya sudah, dek Anin kembali ke tempat tidur ya, biar mas tunggu dek Anin tidur baru mas tidur!"
Anin pun melakukan seperti yang di perintahkan,
"Trus kenapa mas Parid turun?" tanya Anin saat melihat suaminya memilih duduk di lantai.
"Mas duduk di sini aja, biar dek Anin nyaman tidurnya!" ucap ustad farid, ia khawatir jika istrinya itu kesempitan jika dirinya duduk di atas tempat tidur.
Ya Allah gini amet punya suami, nggak ada romantis -romantisnya, istri takut bukannya di peluk malah kayak lagi nungguin lilin babi ngepet ...., batin Anin. Walaupun kesal tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun memutuskan untuk tidur.
***
"Nak Farid panggil pick up ya?" tanya pak Suroso saat melihat sebuah pick up terparkir di depan rumahnya.
"Inggih pak. Itu, jika bapak dan ibuk tidak keberatan, saya sama Anin mau mengembalikan barang-barang pemberian mas David!"
Tadi Wahid yang datang mengantar pick up di temani Aan karena bahkan saat ini istri Farid tidak membawa motornya, motor barunya masih di mes.
"Ohhhh, Yo nggak po po, bapak malah seneng. Biar nggak jadi beban!" ucap apo Suroso yang baru menyadari jika di dalam pick up itu sudah berisi barang-barang dari David. "Tapi nak Farid tahu alamatnya nak David?"
"Insyaallah sudah pak, kebetulan saya tahu di mana Hypermart nya!"
"Alhamdulillah kalau begitu, tapi ingat jangan sampai terjadi keributan. Bapak khawatir!"
"Insyaallah tidak, pak! Farid akan berusaha untuk tidak menimbulkan keributan!"
"Baiklah, cepat berangkat saja. Kayaknya mendung mau hujan!"
"Iya pak!"
Akhrinya setelah menunggu cukup lama, Anin keluar juga. Entah sejak kapan wanita itu jadi suka dandan, biasanya jika bepergian ia hanya mengoleskan bedak tipis. itu pun sambil lari dan sekarang wajahnya tampak lebih segar dengan tambahan lipstik di bibirnya dan beberapa make up naturalnya.
"Ayo mas! Ajak Anin.
__ADS_1
Dan mereka pun akhirnya berpamitan pada pak Suroso.
"Dek Anin cantik!" ucap ustad Farid saat mereka sudah berada di dalam pick up dan hendak melakukan pick up nya, hal itu berhasil membuat Anin tersipu.
"Makasih!" jawabnya dengan sedikit malu-malu.
"Di pakek dek sabuknya!" ucap ustad Farid.
"Hahhh?" Anin malah tidak fokus, ia menatap bajunya yang memang tidak mewajibkan untuk memakai sabuk.
"Anin nggak bawa sabuk mas!"
"Sabuk pengamannya dek!" ucap ustad Farid dan seketika Anin merasa malu,
Isstttt, bisa-bisanya nggak kepikiran sih, jadi malu sendiri kan.....
Srekkkkkk
Deg
Tiba-tiba tubhh ustad Farid mendekat hingga Anin bisa mencium aroma parfum dari pria itu, begitu dekat jarak wajahnya dnwhan wajah Anin.
Ceklik
"Sudah!" ucapnya ustad Farid kembali membuyarkan imajinasi Anin. Ustad Farid pun kembali menjauhkan tubuhnya begitu berhasil memasangkan sabuk pengaman di tubuh Anin.
"Ahhh iya, terimakasih!" jawab Anin dengan gugup.
Ya Allah Nin, mikir apa sih. Ngajak mungkin pak mas Parid cium kamu di mobil, di kamar aja banyak kesempatan nggak di pergunakan, apalagi di sini ....., Anin merutuki dirinya sendiri yang berimajinasi terlalu tinggi.
"Kita berangkat sekarang kan?" tanya ustad Farid lagi dan Anin hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Bisa-bisanya jadi orang gagu gini sih Deket mas Farid ..., batin Anin lagi sambil menatap wajah tampan sang suami, tanpa sadar ia sampai menelan Salivanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kampungnya. Untuk pertama kalinya mereka duduk berduaan tanpa ada orang lain, tapi malah tidak ada perdebatan seperti biasanya. Anin tiba-tiba jadi pendiam di dekat pawang nya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...