Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 26


__ADS_3

Tapi langkahnya segera melambat saat melihat seseorang yang tengah berada di sana, ia tengah menatap ke arahnya.


Ustad Farid memperlambat langkahnya, segera ia ingin berbalik dan pura-pura tidak melihat, tapi ternyata terlambat.


"Ustad!" dan teriakan itu berhasil menghentikan langkahnya yang hendak berbalik,


Ya Allah, kenapa kemana-mana selalu ketemu dia sih ya Allah ...., batinnya mengeluh. Ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan gadis itu untuk saat ini.


Ia pun hanya bisa tersenyum dan melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di depan gadis itu,


"Assalamualaikum, Anin!" sapanya dengan di buat ramah meskipun batinnya tengah meronta dan menganggap pertemuannya kali ini adalah kesialan.


"Waalaikum salam ustad!" dan Anin menjawabnya dengan begitu bersemangat, "Ya Allah jodoh ustad!" celetupnya sambil segera menutup bibirnya yang kelepasan dengan sebelah telapak tangannya.


"Jodoh apanya?" ustad Farid pura-pura tidak tahu.


"Ya jodoh karena ketemu sama ustad!"


Mendengar jawaban Anin, ustad Farid hanya memurar bola matanya tanpa berniat menanggapi lagi.


"Ustad ngapain ke sini?" karena.usrad Farid tidak lagi bertanya, Anin pun mengambil inisiatif untuk bertanya.


"Ada urusan!" jawab ustad Farid dengan nada ketus.


Kenapa dia senyum-senyum, mencurigakan ..., batin ustad Farid saat tidak sengaja mereka saling bersitatap. Membuat suasana menjadi begitu canggung.


Dia manis juga ...., batin ustad Farid tapi segera ia mengendalikan perasaannya, astaghfirullah hal azim ....


Hgermmm ...., dengan cepat ustad Farid menormalkan suaranya sebelum akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan.


"Bukankah tadi sudah mau pergi, nggak jadi pergi?" tanyanya sambil memilih menatap ke arah lain.


"Enggak," jawab Anin seperti tanpa ada beban, "sengaja aku tunda maksudnya!" jelasnya lagi.


Ustad Farid mengerutkan keningnya tanpa berani menatap ke arah Anin, "Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Karena ada ustad di sini!"


Astaghfirullah hal azim, sekali lagi ustad Farid beristigfar dalam hati. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis di depannya itu.


Ia merasa hal yang aneh jika seorang wanita yang melamar seorang pria, tapi gadis di depannya itu malah dengan getol melamarnya. Ia merasa aneh dan nggak biasa,


"Ya sudah kalau gitu aku yang pergi!" ucap ustad Farid sambil berbalik hendak meninggalkan tempat itu.


"Ya nggak bisa gitu dong," ucap Anin sedikit berteriak membuat ustad Farid mengurungkan niatnya, ia memilih kembali berbalik,


"Sesuai janjiku kemarin sama ustad."


"Apa?" tanya ustad Farid, ia tidak merasa jika gadis di depannya itu punya janji dengannya,


"Masak lupa? Yang kemarin pas ketemu!"


"Janji?" terlihat ustad Farid berusaha keras untuk mengingatnya.


"Iya! Masih ingat kan ustad?" tanya Anin lagi.


"Enggak!" jawab ustad Farid yang memang benar-benar tidak ingat sesuatu.


"Jangan pura-pura nggak ingat!" tuduh Anin, ia meras ustad Farid sengaja berpura-pura.


"Memang nggak ingat," ustad Farid masih denga jawabannya. "Ya sudah aku yang pergi! Aku ada urusan!"


Akhirnya ustad Farid kembali berbalik hendak meninggalkan Anin, tapi ....


"Ustad, yuk nikah!"

__ADS_1


Seketika ustad Farid berhenti, seakan dunia ikut berhenti berputar Dnegan ucapan Anin barusan.


Memang orang nikah kayak beli cabe apa ..., batin ustad Farid.


Ustad Farid pun akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan semuanya hari ini, ia tidak merasa kenal dengan gadis itu tapi ia seperti tengah terikat dengan sebuah tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang belum ia mulai,


Ustad Farid pun berjalan melewati Anin yang masih berdiri di tempatnya dan duduk di belakang Anin, ia tidak bisa kabur terus dari gadis di hadapannya.


Melihat ustad Farid duduk, akhirnya Anin pun ikut duduk di sisi lain,


"Kenapa begitu ingin menikah denganku?"


"Karena ustad orang yang Anin yakini mencintai Allah!" jawab Anin seperti tengah wawancara pekerjaan.


"Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan?"


"Ya sepertinya yang ustad kemarin katakan! Anin pengen nikah sama orang yang punya tujuan yang sama denganku, bisa di bilang punya visi dan misi yang sama!"


"Tapi bukankah hal aneh jika wanita melamar seorang pria?"


"Kenapa aneh? Bukankah Siti Khadijah juga melamar Baginda Rasulullah, apa itu aneh?"


"Ya tidak, tapi aku bukan Baginda Rasulullah!"


"Aku juga bukan Khadijah, tapi aku ingin menjadi seperti Khadijah dengan berusaha meneladani sifat-sifat terpujinya!"


Pinter juga nih anak jawabnya ..., batin ustad Farid.


"Saat kamu mengutarakan keinginan kamu untuk menikah denganku, kenapa bisa seyakin itu bahwa aku akan menerimanya?"


"Karena Allah!"


"Maksudnya?"


"Karena Allah maha membolak-balikkan hati manusia, mungkin kemarin ustad masih menolak, tapi insyaallah hari ini atau besok, ustad akan menerimaku!"


Hehhhhh ....


Anin menghela nafas panjang, seakan iru bisa mengurangi beban pikirannya saat ini.


"Ya mau bagaimana lagi, ini sudah mentok ustad! Anin harus segera nikah!"


"Mentok? Maksudnya segera nikah gimana?" tanya ustad Farid penasaran.


"Berarti Anin boleh cerita nih ustad?"


"Cerita saja jika itu bisa membuatmu lega dan tidak mengumbar kejelekan orang lain atau diri kamu sendiri!"


"Sebenarnya Anin dapat lamaran dari seorang pria, ustad."


"Bagus dong!"


Meskipun menjawab seperti itu, tapi mendengar Anin mendapatkan lamaran dari pria lain, ia merasa tidak terima akan hal itu.


"Gitu banget sih ustad!" protes Anin.


"Baiklah, lanjutkan saja. Aku tidak akan komentar lagi sampai kamu selesai cerita!"


Setelah mendapat lampu hijau, Anin pun melanjutkan ceritanya,


"Tapi Anin merasa tujuan saya dan pria itu tidak sama, dan aku hanya punya waktu dua Minggu untuk terhindar dari lamarannya, jika dalam dua Minggu aku tidak punya jodoh yang pas, kamu terpaksa menikah!"


"Maksudnya?"


"Jika dua Minggu aku belum juga menikah, berarti aku akan memikirkan ulang tawaran pria itu untuk menikah denganku! Dan sudah bisa di pastikan aku tidak bisa menolaknya!"

__ADS_1


"Lalu kenapa bawa-bawa saya dalam urusan kamu?"


"Karena ustad punya tujuan yang sama dengan Anin!"


"Seyakin itu?"


"Ustad pasti sangat meneladani sifat Rasulullah kan?"


"Baru belajar?"


"Nahhh, jadi saya juga lagi belajar meneladani sifat Siti Khadijah. Sama kan?" tanyanya, kemudian Anin melanjutkannya lagi,


"Dan lagi, ustad tahu kan jika menjaga kehormatan seorang wanita itu pahalanya besar?"


"Iya!"


"Maka, untuk segala hormat saya memohon, tolong jaga kehormatan saya sebagai seorang wanita muslim dengan menikahi saya!"


Mendapat jawaban yang menohok dari Anin membuat ustad Farid terdiam, ia jadi tidak punya stok kata-kata lagi untuk mematahkan argumen Anin,


"Memang tidak ada pilihan lain?" tanyanya kemudian untuk memastikan sesuatu,


Belum sampai Anin menjawab, tiba-tiba seorang wanita menghampiri mereka. Wanita itu berpakaian guru, sepertinya dia salah satu guru di madrasah itu. Ia juga tampak masih seumuran dengan ustad Farid, masih muda dan cantik.


"Assalamualaikum," sapanya.


"Waalaikum salam!" jawab ustad Farid dan Anin. Tampak Anin terpaku sekaligus penasaran dengan wanita itu.


"Ustad Farid ya?" tanyanya sambil menoleh ke arah ustad Farid.


"Iya Bu!"


"Saya Nisa, guru kurikulum di sini. Maaf sudah membuat ustad menunggu!"


Ohhh guru kurikulum ...., batin Anin sambil terus memperhatikan penampilan guru itu. Meskipun berhijab, tapi penampilannya tampak modis. Tidak seperti dirinya yang sekenanya. Ia hanya memakai celana longgar, kemeja dan jilbab segi empat.


"Tidak pa pa Bu, kebetulan sedang istirahat!"


Karena merasa terus diperhatikan oleh Anin, guru yang bernama Nisa itu pun akhirnya menoleh pada Anin dan tersenyum,


"Ini istri ustad ya? Saya pikir ustad masih sendiri!" ucapnya sambil memperhatikan penampilan Anin.


"Bukan Bu, kebetulan tadi ketemu di sini!" jawab ustad Farid Dnegan cepat, ia tidak ingin terjadi salam faham.


"Ohhhh! saya pikir istri ustad!"


"Bukan!" jawab ustad farid Dangan yakin tapi jawaban itu berhasil membuat Anin kesal.


"Bagaimana, bisa bicara sekarang di ruangan saya ustad?"


"Bisa Bu!"


"Kalau begitu, mari ikut saya, ustad!"


"Baik Bu!"


Mereka pun akhirnya meninggalkan Anin sendiri, bahkan tanpa mengucapkan salam.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2