
"Astaghfirullah hal azim!" sentaknya terkejut sambil reflek menutup kepalanya yang tidak mengenakan hijab dan dengan rambutnya yang berantakan saat melintas di ruang tamu.
Dua pria yang semalam datang ke rumahnya kini tengah duduk bersama dengan bapaknya di ruang tamu.
Rupanya bukan hanya Anin yang terkejut tapi tiga pria itu juga tanpa terkejut dengan penampilan Anin yang acak-acakan.
Wussss
Dengan langkah seribu Anin pun langsung berbalik arah dan berlari menuju ke kamar mandi belakang.
"Astaghfirullah hal azim, astaghfirullah hal azim!" ucap Anin sambil memegangi dadanya yang seperti tengah melakukan disko di dalam sebelum ia benar-benar masuk ke kamar mandi.
Tapi kembali ia di kejutkan Dnegan keberadaan ibuknya yang tengah membawa nampan,
"Nyapo Nin?" tanya ibuk Anin membuat Anin memegangi letak jantungnya kembali.
"Ya Allah buk, Anin Sampek kaget! (Anin sampai terkejut)!" keluhnya.
"la Kowe mlayu-mlayu nek njero omah koyok cah cilik (la kamu lari-larian di dalam rumah seperti anak kecil)!"
"Ibuk kenapa nggak bilang kalau ada tamu?" Anin malah menyalahkan ibunya.
"Memang kamu tanya, makane kalau bangun tidur itu jangan ujuk-ujuk nylonong ke depan, kebiasaan sih kamu!"
"Kok malah Anin sih yang salah buk!"
"Wes gek wudhu, Selak entek dhuhur e! (sudah cepetan wudhu, keburu habis dhuburnya)!"
Anin pun akhirnya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi meskipun masih dengan mengomel tidak jelas.
Di ruang tamu, bapaknya Anin tengah mengobrol dengan ustad Farid dan Wahid.
Ya Allah yang begitukah jodoh saya, batin ustad Farid begitu melihat Anin tadi, ia tidak bisa membayangkan jika tinggal serumah dengan wanita yang baru saja berlalu dari hadapannya.
"Monggo minumnya!" ibuknya anin datang dengan membawa nampan yang berisi tiga cangkir kopi dan sepirinh camilan pisang godok, kebetulan tadi ia baru saja merebus pisang.
"Jadi merepotkan ibuk!"
"Nggak kok nak, Monggo Monggo ...!" ibu Anin mempersilahkannya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Wahid sambil tangannya perlahan mengambil sepotong pisang godok yang sudah menggoda lidahnya itu.
Awalnya ustad Farid tidak berniat untuk datang tapi saat mengingat pria yang bersama Anin tadi malam, entah kenapa ia menjadi berubah pikiran. Ia pun akhirnya mengajak Wahid untuk menemaninya ke rumah Anin, hanya untuk memenuhi undangan bapaknya Anin.
"Kalau boleh tahu nak Farid dan nak Wahid ini asalnya dari mana? Kok saya perhatikan logatnya kayak dari jauh!" tanya bapaknya Anin penasaran.
"Kebetulan kami dari Bandung, pak!" jawab Wahid dengan cepat sebelum ustad Farid menjawabnya.
Bapaknya Anin yang memang berasal dari Bandung bisa mengimbangi bahasa ustad Farid dan Wahid.
Mendengar jawaban Wahid, bapaknya Anin begitu senang, karena merasa Sepahan sekarang, "Kebetulan sekali, saya juga dari Bandung!"
"Benarkah pak?" tanya Wahid lagi, kali ini ustad Farid lebih banyak diam.
"Iya, tapi sudah dua puluh lima tahun kalau nggak salah tinggal di sini. Sudah lupa sama suasana Bandung, sejak menikah langsung pindah sini!"
"Ohhh pantes_!" nggak pakek Pe, pakek eF ...., lanjut Wahid dalam hati.
"Jadi bagaimana kok bisa ketemu sama putri saya, yang nak Farid atau nak Wahid?" tanya bapaknya Anin bingung harus fokus pada salah satu dari mereka.
"Ustad Farid, pak!" dengan cepat Wahid menyahutnya.
"Oh jadi nak Farid nih seorang ustad?" tanyanya dengan begitu bersemangat.
"Masih belajar pak, hanya mengisi pengajian kecil-kecilan!" jawab ustad Farid merendah, sebenarnya ia tidak jauh beda dengan ustad Zaki, ia juga tidak banyak menerima undangan jika terlalu jauh, ia lebih memilih mengisi pengajian di dekat-dekat pesantren atau lintas kota saja.
"Tetap saja, namanya ustad! Jadi nak Farid menetap di sini?" tanya bapak Anin lagi.
"Hanya untuk sementara pak!"
Tampak Anin yang sudah rapi keluar dan ikut bergabung dengan mereka,
"Mas Parid sama mas Wahid sudah lama?" tanyanya setelah ikut duduk.
"Alhamdulillah, sudah!" jawab ustad Farid.
"Sambil di minum kopinya!" perintah bapaknya Anin sembari memberi contoh dengan meneguk secangkir kopi miliknya.
"Loh kok tadi katanya cuma tinggal sementara? Kenapa?" tanya bapak Anin lagi pada ustad farid.
__ADS_1
"Iya pak, nanti di pikirkan lagi! Soalnya kan mas Parid nih baru pindah dari Bandung pak!" sahut Anin sok tahu.
Ia sengaja menyahutnya dengan cepat sebelum ustad Farid mengatakan hal-hal yang tidak-tidak. Atau mungkin malah bapaknya.
"Ohhh gitu, tapi kalau sudah rumah tangga baik ya menetap saja. Kayak bapak, wes ikut babon (Perempuan) saja enak!"
"Iya pak, insyaallah!"
Ustad Farid dan Wahid pun segera menghabiskan kopinya,
"Oh iya pak sudah sore, kami permisi pulang dulu ya pak!" pamit ustad Farid setelah memastikan kopi mereka habis.
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Masih banyak pekerjaan di kedai soalnya pak, maaf!"
"Yo wes nggak pa pa! Jadi kapan rencananya ke sini lagi? Kalau bisa langsung sama bapaknya." ucap bapak Anin membuat Anin segera menelan Salivanya.
Bapak inih ....
"Hahhh?" ternyata bukan hanya Anin yang terkejut tapi ustad Farid juga.
"Ustad Farid sibuk pak, insyaallah nanti kesini kok pak! Iya kan mas?" sahut Anin lagi.
"I_iya. Kalau begitu kami permisi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Akhirnya ustad farid dan Wahid pun meninggalkan ruang tamu.
"Anin anter mereka dulu ya pak!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...