
Akhrinya selesai sholat isya' ustad Farid dan pak Suroso kembali pulang, hanya hal yang di ceritakan ustad Farid tentang abahnya, seperti penawar rindu bagi pak suroso, sekali ia terlihat tertawa saat ustad Farid menceritakan hal yang lucu.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah, Berbeda dari biasanya yang jalan kaki, kali ini mereka naik motor karena ustad Farid sejak ba'dha ashar tadi.
"Assalamualaikum!" sapa ustad Farid dan pak Suroso, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Bu Wiji.
"Waalaikum salam!"
"Loh, Anin neng Endi buk (di mana buk)?" tanyanya pada sang istri saat tidak melihat putrinya.
"Kae Lo pak, nyiapne maem ngge nak Farid, kat awan nak farid kan urong maem (itu loh pak, menyiapkan makan untuk nak Farid, dari siang nak Farid belum makan)!" ucap Bu Wiji membuat pak Suroso menoleh pada menantunya itu.
"Jangan sungkan begitu loh nak Farid, sudah sana susul Anin di dapur! Bapak sama ibuk mau istirahat dulu, tadi sudah makan!" ucap pak Suroso sengaja agar menantunya itu tidak merasa sungkan.
"Iya pak!"
Jika jam-jam seperti ini Novi juga tidak ada di rumah, ia sedang di rumah tetangga untkm les private. Meskipun sebenarnya Anin bisa mengajarinya, tapi Novi lebih nyaman jika belajar dengan orang lain. Biasanya ia akan kembali jam sembilan.
Ustad farid menghela nafas mengatur detak jantungnya yang semakin deg-degan saat mendekati sapur. Rasanya ingin kabur saja dan segera pura-pura tidur, ia benar-benar tidak nyaman dengan perasaan ini. Tapi ia juga ingin melihat wajah wanita itu, seharian tidak melihatnya ada sesuatu yang hilang.
Ahhhh, kenapa ini merepotkan sekali ya Allah ..., ini sebenernya perasaan apa? batin ustad Farid.
Deg
Rasanya seperti di dihantam batu besar, jantungnya semakin bertalu saat melihat wanita itu tengah duduk dan menunggunya di sana.
"Assalamualaikum!" sapa ustad Farid.
"Waalaikum salam!" jawab Anin sambil tersenyum, begitu manis.
Cantik sekali ...., batin ustad Farid.
"Duduk mas!" ucap Anin sambil menepuk kursi plastik di sampingan. Sebuah meja kecil berbentuk persegi itu sudah tersaji makanan, oseng kangkung, tempe goreng dan kerupuk. Memang makanan sederhana tapi tampak begitu nikmat.
"Anin ambilin ya mas!"
"Hmmm!" ustad Farid mengangukkan kepalanya. Dia tampak biasa saja, batinnya heran.
"Apa ini cukup?" tanya Anin. dan sekali lagi ustad farid hanya mengangukkan kepalanya.
"Maaf Parid sakit gigi ya?" tanya Anin kemudian sambil menatap aneh pada sang suami.
"Ahhh_, eng_nggak! Ada apa?" ucap ustad Farid tergagap segera ia menyantap makanannya dengan cepat.
"Ohhh, aku kira. Soalnya mas Parid ngak bersuara!" ucap Anin.
"Enggak kok, tadi hanya lagi males!" ucap ustad Farid membuat Anin memicingkan matanya. "Eh maksudnya lagi males_, malestarikan budaya makan tanpa bicara dulu, takut tersedak!" ralatnya kemudian.
Ya Allah, ngomong apa aku ..., ustad Farid merutuki ucapannya sendiri.
"Ohhh, Anin kira ustad Parid males ngomong sama Anin!" ucap Anin dan ustad Farid bernafas lega.
"Ya enggak lah!"
Akhirnya mereka kembali terdiam, dan ustad Farid menikmati makanannya.
"Kayaknya aku semalam mimpi aneh deh mas," ucap Anin segara membuat makanan ustad Farid terhenti di tenggorokan, "Mas ustad mimpi juga nggak?" tanyanya kemudian dan akhirnya berhasil membuat ustad Farid tersedak.
Hugh Hugh Hugh
__ADS_1
"Ya Allah, mas Parid kenapa?" Anin dengan cepat mengambilkan air mineral untuk ustad Farid. "Minum mas!"
Ustad Farid pun segera meraihnua, setelah mengucap basmallah ia segera meneguk air mineral itu hingga gelapnya kosong.
"Ya Allah mas, ini salah Anin. Padahal mas tadi sudah bilang mau melestarikan budaya diam saat makan, tapi Anin malah ngajak bicara!" ucap Anin merasa bersalah.
"Ohh iya, apa tidak sebaiknya dek Anin istirahat saja, biar mas makan sendiri. Nanti kalau mas sudah selesai makan, kita bicara lagi, bagaimana?" ucap ustad Farid beralasan.
"Gitu ya! Tapi nanti siapa yang beresin piring kotornya?"
"Biar mas saja, nggak pa pa!"
"Tapi mas_!"
"Nggak pa pa!"
"Ini mas yang maksa loh ya!"
"Iya!"
Akhrinya setelah Anin meninggalkan ustad Farid. Ustad Farid bisa bernafas lega sekarang.
Ahhh akhirnya .... batinnya lega.
"Jadi dia juga merasakannya? Kok bisa? Dan tanda merah ini?" ucap pada diri sendiri sambil mengusap letak tanda merah di dadanya.
"Apa yang semalam itu benar-benar terjadi?"
Cegluk
Tiba-tiba ia begitu berat menelan Salivanya. Rasanya sangat aneh saat mereka melakukan sesuatu tapi tidak saling faham.
Tepat saat ia salesai, tiba-tiba ponselnya berdering. Itu dari Wahid.
"Hallo, assalamualaikum Hid. Bagaimana?"
"Waalaikum salam, ustad. Nggak sabar banget sih ustad. Nggak sabar lengan belah duren ya ustad?"
"Astaghfirullah hal azim, Wahid. Saya serius!"
"Iya, iya maaf ustad. Gini tadi saya sudah tanya sama temennya wahid, ada tapi agak jauh dari rumah Anin. Tapi ini malah Deket sama jalan raya!"
"Bagaimana rumahnya?" tanya ustad Farid lagi.
"Memang tidak luas, hanya tujuh kali lima belas meter, dua kamar dua kamar mandi, satu di kamar utama dan satunya di belakang. Trus dapur , ruang keluarga sama ruang tamu!"
"Baiklah, besok antar saya ke sana ya!"
"Siap ustad! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Farid tersenyum mendengar berita bagus itu.
Ia pun segera ke kamar menyusul Anin. Terlihat Anin tengah merekap jualan kripiknya hari ini.
Ustad Farid pun ikut duduk di lantai, mereka hanya di pisahkan oleh sebuah meja lipat kecil,
"Bagaimana hari ini? Lancar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah mas, setelah Anin keliling tiga kampung ada toko yang mau nambah stok kripiknya jadi sepuluh bendel pertokonya!"
"Alhamdulillah!"
Anin kembali melanjutkan kegiatannya. Tapi ternyata rasa penasarannya mengalahkan pekerjaannya.
Srekkkk
Anin dengan cepat menutup bukunya membuat ustad Farid terkejut,
"Ya Allah dek, pelan-pelan. Jagung mas bisa copot kalau kayak gitu!" ini bukan pertama kalinya Anin punya reflek yang cepat seperti itu.
"Ya maaf, sudah kebiasaan soalnya mas!"
Anin diam dan kemudian menatap ustad Farid membuat ustad Farid salah tingkah.
"Kenapa menatapku seperti itu dek?"
"Mas, kayaknya Anin mimpi aneh deh semalam. Mas mimpi juga nggak?" tanya Anin kembali menahan soal mimpi.
"Mimpi!" jawab suagf Farid dengan cepat.
"Serius mas, kok bisa gitu ya! Mas tahu nggak, Anin gethun!" ucap Anin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apa itu gethun ?" tanya ustad Farid tidak mengerti.
"Apa ya bahasa Indonesia nya!?" ucap Anin tampak tengah berpikir keras, "Apa ya mas?"
"Nggak tahu!"
"Itu loh, kalau ngerasa rugi itu namanya apa?"
"Bangkrut?"
"Bukan! Tapi sama halnya, tapi bukan itu maksud Anin!"
Ustad Farid pun berpikir keras dari maksud perkataan Anin tapi juga tidak menemukan maksud dari Anin,
"Ya udah gini aja, kamu gethun kenapa?"
"Itu ciuman pertama Anin, tapi ternyata hanya dalam mimpi! kan gethun aku!"
Mendengar ucapan Anin yang polos itu membuat ustad Farid harus berusaha keras untuk menahan tawa.
"Aku tidur duluan ya!" ucap ustad Farid yang sebenarnya tengah menahan tawa, tanpa menunggu jawaban dari anin. Ia sudah tidak tahan ingin segara tertawa.
Ustad Farid langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut dan tertawa lirih.
Bersambung
Yang tau arti gethun bisa nih bantu Anin dan ustad Farid menerjemahkan di kolom komentar, (Aslinya authornya juga bingung mau menerjemahkannya bagaimana🤭)
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1