
...**Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku. Aku berbisik pada bumi dan biarkan doaku di dengar oleh langit malam saat aku menyebut namamu....
...🌺🌺🌺**...
Pertanyaan itu berhasil membuat Zahra berhenti mengunyah makanannya.
"Kenapa mbak Anin tanya gitu?"
"Ya enggak! Cuma penasaran aja, kalau iya juga nggak masalah buat aku, yang terpenting sekarang kan aku masa depannya mas Parid, terlepas siapa saja yang pernah menjadi masa lalu mas Parid tentunya."
Zahra sampai menyanggah dagunua mendengarkan penuturan dari Anin yang terkesan dewasa itu,
"Wahhhhh, nggak nyangka. Ternyata casing belum tentu sama sama isinya." ucap Zahra kemudian.
"Maksud kamu apa dek?"
"Mbak Anin nih ya, kalau di lihat sepintas kayaknya nggak mungkin deh punya pemikiran kayak gitu, basan tak denger-denger ternyata luar biasa." kali ini Zahra berucap sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah dek, gini-gini meskipun tubuhku mungil tetap saja aku sarjana strata satu yang sudah lulus tahun kemarin."
"Ahhhh iya, berasa seumuran aja mbak."
"Jadi gimana nih, cerita masa lalu mas Parid sama nur?"
"Pernah sih, kayaknya cuma satu atau dua kali ketemu, kalau masalah yang di bicarakan, Zahra juga nggak tahu."
"ohhhh, sayang sekali."
Akhrinya obrolan mereka harus terhenti saat suami-suami mereka pulang dari masjid.
"Kalian istirahat saja, kami juga mau istirahat. Jika kalian ingin makan-makan apa silahkan cari sendiri di lemari ya." ucap ustad Zaki sambil memeluk pinggang Zahra dan menyandarkan dagunya di bahu Zahra.
"Iya, istirahatkan. Kayaknya aku masih ingin ngopi." ucap ustad Farid.
"Baiklah, ayo dek!"
Srekkkk
Tiba-tiba ustad Zaki mengangkat tubuhnya membuat ustad Farid dan Anin terbungkam menyaksikannya.
"Assalamualaikum," ucap ustad Zaki berpamitan.
"Wa_ Alaikum salam!" jawab ustad Farid dan Anin bersamaan.
Setelah ustad Zaki dan Zahra benar-benar masuk ke dalam kamar, Anin pun menawarkan diri untuk membuatkan kopi untuk ustad Farid.
"Nggak usah dek, biar mas aja." cegah ustad Farid, dan dia ohh berdiri. Ia segera merebus air dan tangannya tampak cekatan meracik kopi.
__ADS_1
"Dek Anin mau juga, kopi?" tanya nya sambil mendongakkan kepalanya menatap sang istri.
Anin pun menggelengkan kepalanya,
"Baiklah, coklat panas?" tanya ustad farid lagi.
"Nggak usah mas, Anin sudah kenyang banget!" tolak Anin lagi.
"Baiklah."
Akhrinya setelah hampir lima menit kopi buatan ustad Farid pun jadi. Ia pun duduk berhadapan dengan Anin.
Sepertinya ia menyadari kegalauan Anin,
"Ada apa dek? Banyak pikiran?"
"Dikit."
"Cerita aja kalau dek Anin tidak keberatan."
"Jangan tersinggung yang mas, tapi ini soal mas Parid."
Kali ini ustad farid mengerutkan keningnya,
"Katakan saja, aku tahu aku banyak sekali kekurangan semoga dek Anin tidak merasa kecewa."
"Tapi bukan itu mas masalahnya!"
"Apa?"
"Nur,"
"Nur?"
"Iya, tiba-tiba menyusul rasa cemburu di hari Anin mas, sepertinya ada sesuatu yang belum tuntas antara mas Parid dan Nur."
"Begitukah menurutmu?" tanya ustad Farid dan Anin pun mengangukkan kepalanya.
Flashback on
Di hari di mana ustad Farid datang pertama kali ke Blitar untuk menjenguk Zahra, ia tanpa sengaja bertemu seorang gadis berhijab di mushola.
"Mbak, jam tangannya ketinggalan." ucap ustad Farid membuat gadis itu menoleh ke sumber suara,
Bukannya langsung menyahut, gadis itu malau terkesima dengan ketampanan pria di depannya itu, meskipun mungkin usia mereka terpaut jauh, wajah matangnya malah membuatnya semakin terlihat tampan.
"Mbak, ini jam tangan mbak kan?" tanya ustad Farid lagi sambil mengibaskan tangannya di depan gadis itu.
__ADS_1
"I_iya! Ustad temennya ustad Zaki ya?" tanya Gadis itu dan berhasil membuat ustad Farid mengerutkan keningnya berusaha mengingat wajah gadis itu yang terlihat familiar.
"Iya,"
"Kenalkan saya Nur. Senang deh bisa ketemu ustad Farid di sini, kayaknya kita jodoh deh."
"Insyaallah,"
"Jadi ustad setuju kalau kita berjodoh?"
"Jika memang dek Nur yang di takdir kan oleh Allah untuk menjadi belahan jiwa saya, lalu saya siapa berani menolaknya."
"Aamiiin."
"Kok diamini,?"
"Biar itu menjadi doa pertama Nur, janji ya ustad nanti kalau sudah yakin datang ke orang tua nur, lamar nur."
"Insyaallah, belajar dulu yang rajin, insyaallah nanti Allah yang akan memantaskan sendiri."
"Nur jadi semangat nih kuliahnya,"
"Trus ini jam tangannya?"
"Bawa aja ustad, nanti kembalikan kalau ternyata kita tidak di takdirkan berjodoh. Tapi aku tengah memaksa Allah untuk menjadikan ustad Farid sebagai jodoh nur sih."
Ustad Farid tersenyum menanggapi ucapan Nur, sudah menjadi hal lumrah untuk anak seusia Nur yang emosinya masih labil.
Flashback off
"Mana?" Anin mengacungkan kedua tangannya.
"Apa?"
"Jam tangannya?"
"Ohhhh," jawab ustad farid datar, "Aku lupa taruhnya, kayaknya di dalam tas rangsel mas deh."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1