
Pagi ini ustad Farid sengaja memberikan tugas mengambil timun di tempatnya pak Suroso kepada Aan, ia sengaja mau ijin pergi ke pasar dengan. Wahid seperti yang di rencanakan kemarin.
Dua pria itu pun bergegas ke pasar, tetapi sesampai di pasar mereka malah tampak kebingungan.
"Kita ke mana dulu ya Hid?"
"Lah ustad mau beli apa memangnya?"
"Kalau mau nikah biasanya beli apa?"
"Astaghfirullah hal azim, Wahid juga belum nikah ustad, mana tahu Wahid soal itu!"
"Astaghfirullah hal azim!" ustad Farid memilih duduk di tepi jalan dekat pasar, "Trus sekarang gimana?"
"Wahid juga nggak tahu!" jawab Wahid dengan entengnya, "Eh tunggu ustad. Bukannya hari ini Ambu dan Abah ustad datang?"
"Iya, tapi masih nanti sore sampeknya sini!"
"Berarti kelamaan ya ustad!?" Wahid langsung bisa memperhitungkan sendiri, "Ya udah gini aja deh ustad. Aan kan udah nikah. Dia mungkin tahu apa saja yang harus di beli, terlebih dia kan orang sini asli."
"Tapi kan aku nyuruh dia ke_!"
"Biar aku yang gantiin deh ustad!" ucap Wahid bersemangat, ia pikir-pikir dari pada pusing muter-muter dengan ustad Farid lebih baik ke sawah panen timun.
"Okey lah kalau kayak gitu!"
Ustad Farid pun segera menghubungi Aan dan meminta tolong agar datang ke pasar saja menggantikan Wahid.
Selang seperempat jam akhirnya pria itu datang dan kini bergantian Wahid yang pergi.
"Ada apa ya ustad?" tanya Aan was was.
"Sebenarnya aku mau minta sarang untuk belanja!" ucap ustad Farid ragu.
"Ada yang masih kurang ya ustad? Padahal acaranya kan nanti malam!"
"Bukan, bukan itu. Sebenarnya ini acara pernikahan!" ucap ustad Farid terlihat malu-malu.
"Maksudnya pernikahan, ustad farid mau nikah beneran?" tebaknya dengan begitu bersemangat.
Dan ustad Farid hanya bisa mengangguk pasrah.
Pura-pura aja nih Aan, padahal kemarin dia yang paling bersemangat , batinnya.
"Jadi_?" tanya Aan.
"Jadi aku bingung apa yang harus di beli untuk acara pernikahan. Tidak besar yang penting ijab Qabul saja. Tapi saya tidak tahu apa yang harus di bawa ke pengantin perempuan!"
"Anda bertanya pada orang yang tepat ustad!" ucapnya membanggakan diri.
__ADS_1
"Beneran tahu kan?"
"Iya lah, mas kawin, seserahan, kue kering, kue basah, pokoknya apa saja yang di bawa Batur manten, Aan siap menunjukkan! Asal_!"
"Asal?"
"Aan di ajak kan ustad?"
"Insyaallah!"
"Alhamdulillah!"
Akhrinya mereka pun memutuskan untuk mencari mas kawin terlebih dulu baru mencari pernak pernik seserahan, beruntung mereka membawa pick up jadi tidak kesulitan untuk membawanya.
Setelah membeli semuanya, ustad Farid sampai di buat tercengang dengan barang-barang yang sudah berada di ata pick up.
Ini serius sebanyak ini ...., ia bisa membayangkan kalau kali ini tabungannya mungkin kehilangan banyak angka untuk membeli semua ini.
"Serius ini besok di bawa?" tanya ustad Farid memastikan.
"Ya begitu ustad. Ada Jawa emang gini, biasanya pengantin laki-laki membawa berbagai perlengkapan dapur walaupun hanya sebagian syarat saja, tapi harus lengkap mulai dari gula, kopi, bawang, cabe, kecap, kelapa, beras dan lainnya. Dan Aan lihat ini sudah lengkap, tinggal tanjap ke rumah pak Suroso!"
Kenapa jadi dia yang bersemangat ....
"Oh iya, masih ada lagi ustad!" ucapnya menghentikan langkah ustad Farid yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Biasanya bawa jadah atau wajik (jadah atau wajik adalah olahan dari ketan. jadah biasanya hanya di kukus dengan parutan kelapa dan di tetep (dilumet) sedangkan wajik olahan ketan dengan gula dan santan dibuat semacam dodol tanpa di haluskan terlebih dulu)!"
"Trus siapa yang mau buat?"
"Gampang, nanti Aan minta tetangga-tetangga Aan buat bantu, ustad tonggak belikan bahannya saja!"
"Beneran nggak pa pa?"
"Iya ustad, nggak pa pa!"
***
Di tempat lain, rupanya bapak Anin_, pak Suroso, ia memberitahu papak perempuan istrinya tentang pernikahan Anin.
Budhe Anin itu pun segera berkunjung ke Tulungagung, ia benar-benar tidak terima jika Anin menikah dengan pria laind an bukan David.
"Kalian ini bagaimana? kurang apa coba David, dia itu pengusaha kaya, mainnya ke luar negri. Luar negri kayak rumah sendiri. Masih di tolak. Memang laki-laki seperti apa sih pilihan Anin itu?"
Anin hanya bisa menunduk Dnegan kemarahan budhenya, begitu juga dengan bapak dan ibu.
"Ayo jawab, kenapa hanya diam saja. Anin, jawab!" sebenarnya malas berdebat dengan budhenya pasti ia tidak akan pernah menang, tapi mau bagaimana lagi.
Mau tidak mau Anin pun harus menjawabnya.
__ADS_1
"Seorang ustad budhe!" ucap Anin sambil menunduk. Ia tahu saat ini budhe nya tengah tersenyum remeh padanya.
"Ustad?" terlihat wanita itu meremehkan, "Ustad itu bukan pekerjaan, itu amal buat akherat. Memang mau di kasih makan apa kamu sama dia, kalau lapar di kasih ceramah? Heh?"
"Nggak gitu mbak, nak Farid juga menjadi karyawan di kedai lalapan temannya!" ucap pak Suroso memberi bantahan atas apa yang di dituduhkan oleh mbaknya.
"Ya Allah, cuma jaga kedai lalapan saja di banggakan! Memang berapa penghasilannya, lima ratus ribu, enam ratus ribu, delapan ratus ribu? Memang cukup buat hidup satu bulan?"
"Insyaallah cukup budhe, Anin kan juga punya penghasilan!" Anin masih tidak mau kalah, ia tidak begitu suka saat calon suaminya di rendahkan seperti itu.
"Jualan kripik saja di banggakan, pakek gaya-gayaan bayar karyawan lagi. Wes tak lagi Nin, di penakne budhe mbok Yo manut. David itu berpendidikan, gelarnya berjejer panjang di belakang namanya, usahanya di mana-mana, anak buah banyak. Kalau dia mau, bisa buat usaha kripik kamu go internasional!"
"Enggak budhe, Anin sudah mantap dengan keputusan Anin!"
"Ya Allah, bodoh sekali sih ini anak!" budhe Anin hanya bisa mengeluh, ia sampai menyenderkan punggng di sandaran kursi dan memijat pelipisnya yang terasa kaku karena sejak datang sudah langsung teriak-teriak.
"Mbak istirahat saja ya, biar Wiji siapkan kamarnya!" ucap ibu Anin.
"Hooh, aku juga pusing!"
Akhirnya Bu Wiji mengantar kakak perempuannya itu ke kamar, dan memintanya untuk tidur.
"Ya kalau bisa tetap di ingatkan Pumpung belum kejadian. Mending mundur, terima lamaran si David. Anin itu anak pintar, jangan sampai salah pilih jodoh!" ucap budhe sebelum merebahkan tubuhnya kali ini dengan suara pelan.
"Iya mbak, nanti Wiji katakan sama Anin!"
"Beneran loh ya!"
"Iya mbak!"
Akhirnya bapak dan Anin bisa bernafas lega setelah kakak perempuannya itu meninggalkan mereka.
"Hehhh, akhirnya nduk!"
"Iya pak, Anin jadi curiga sama budhe. Ngotot banget jodohin Anin sama David!"
"Jangan pikir macam-macam, sudah sana sudah siang cepetan jemput adik kamu!" pak Suroso segera mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau putrinya itu berpikir buruk pada budhenya, mau bagaimana pun kakak perempuan istrinya itu telah banyak berjasa pada keluarganya. Saat keluarganya terlilit hutang, kakak perempuan istrinya itulah yang membatu melunasi hutang-hutangnya.
"Iya pak!" ucap Anin dengan malas, ia pun kembali masuk ke kamar untuk mengambil jaket dan helm. di luar udara begitu panas, rasanya baju saja tidak cukup untuk melindungi kulitnya dari panasnya sengatan matahari.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1