
"Mas David!" gumam Anin dan dengan cepat ustad Farid menggenggam tangan Anin membuat Anin terpaku dibuatnya. Ia juga menarik Anin agar sedikit di belakangnya.
"Anin!" ucap David dengan tangan yang hampir menarik tangan Anin tapi segera di tepis oleh ustad Farid.
"Maaf mas, tolong jaga sikap!"
"Kamu siapa berani menghalangiku!?" ucap David dengan begitu marah.
"Perkenalkan mas, saya suami Anin!"
Jedeeerrr
Mendengar hal itu, David terdiam. Ia menatap Anin dan dengan cepat Anin menundukkan pandangannya. Kemudian tatapan itu beralih pada ustad Farid. Tapi segera ekspresi wajahnya yang marah berubah meremehkan,
"Jadi berita yang saya dengar benar. Kamu menikah dengan pria seperti ini, pria kere ini?" ucapnya sambil meletakkan jari telunjuknya tepat di dada ustad Farid,
"Lihatlah, dari pakaian saja sudah kelihatan!" ucapnya lagi sambil menarik sedikit baju Koko ustad Farid dengan ujung jari telunjuk dan dari jempol yang di satukan. "Bahkan baju ini di dalam sana tidak sampai seratus ribu! Sedangkan aku, bahkan kaos kaki yang aku pakai lebih mahal dari celana yang dia pakai!" ucapnya begitu meremehkan dan ustad Farid hanya diam.
Kok diam saja sih ...., batin Anin tidak terima.
Ia pun hendak melangkah maju tapi kembali tangannya di tahan oleh ustad Farid.
"Alhamdulillah mas, saya beli semua ini dengan uang yang halal, insyaallah!" ucap ustad Farid dengan tenang.
"Jadi menurut kamu, apa yang saya dapat tidak halal? Hahhh?" David tidak terima, ia sampai menarik baju ustad Farid dengan genggaman tangannya.
"Insyaallah jika mas David dapatnya dari sesuatu yang halal, mas David tidak akan tersinggung!"
Syitttttt
Nyatanya ucapan dan sikap tenang yang di miliki oleh ustad Farid mengetarkan keberanian David. Ia hanya bisa mengumpat dan pergi begitu saja meninggalkan mereka.
Hal itu malah membuat Anin tertegun, ia sampai memutari sang suami tidak percaya,
"Kenapa sih dek?"
"Mas Parid pakek ilmu apa sih, mas David nya bisa langsung pergi tunggang glanggang itu?" tanya Anin heran.
"Di Fatihah i aja dek!" jawabnya dengan enteng sambil berjalan menuju ke mobil pick up nya.
"Dek, mau tetep di situ?" pertanyaan dari Farid menyadarkannya, ia pun segera berlari menyusul sang suami yang sudah bersiap membukakan pintu mobil.
"Makasih mas!" ucap Anin dan segera masuk ke dalam mobil, sendangkan ustad Farid berlari mengitari mobil dan membuka pintu samping, ia duduk di kursi di balim kemudian.
"Pakek sabuknya ya," ucap ustad Farid kemudian. "Atau biar mas pakek in lagi!?" tanya ustad Farid lagi menbuat Anin dengan cepat mengibaskan tangannya.
"Nggak, nggak, Anin bisa sendiri!" ucapnya sambil berusaha memakai sabuk pengamannya.
__ADS_1
Bisa katahuan kalau aku mengaguminya kalau kayak gini terus ...., batin Anin.
Ustad Farid kembali melajukan mobil pick up nya meninggalkan lapangan parkir. Sepanjang perjalanan Anin hanya sibuk untuk menatap wajah sang suami, ia masih tidak percaya dengan yang baru saja ia lihat tadi setelah beberapa kali dirinya selalu kalah dengan David. Tapi hanya beberapa ucapan dari ustad Farid bisa membuat David pergi begitu saja tanpa melakukan kekerasan.
"Serius mas Ustad tidak cuma baca Al Fatihah?" tanya Anin kemudian.
"Maksudnya?" tanya Anin sambil menoleh ke arahnya sebentar dan kembali fokus pada jalanan.
"Iya mas, masalahnya mas tahu sendiri kan kalau mas Dapid punya banyak anak buah, mas Parid ngaji takut di keroyok sama anak buahnya?"
"Takut!" jawab ustad Farid tanpa menoleh pada Anin, tapi sejurus kemudian ia pun menoleh dan tersenyum pada Anin, "Tapi mas lebih takut sama Allah!"
Nyesss
Rasanya jantung dan hati Anin sepeeti baru tersiram air dari freezer, dingin.
"Ini kemana dek?" tanya ustad Farid begitu dekat dengan kampungnya.
"Nanti di pertigaan itu, belok kiri ya mas!"
"Tapi yang ini nggak salah kan?" tanya ustad farid memastikan.
"Yang ini nggak pakek google map mas!" ucap Anin sambil pura-pura cemberut membuat ustad Farid tersenyum.
Mereka pun akhirnya menuju ke tempat yang di tunjuk oleh Anin,
"Itu mas, yang cat putih. Ya di depannya ada orang duduk!" tunjuk Anin sambil menurunkan kaca jendela mobil pick up nya.
Ustad Farid pun segera meminggirkan mobil pick upnya dan memarkirkannya di pinggir jalan.
Melihat ada mobil pick up yang berhenti di depan rumahnya, bapak itu pun segera berdiri.
Anin dan ustad Farid pun segera turun dari mobil danenghamkrij bapak itu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, oh mbak Anin yo. Saya kira siapa! Ini suami mbak Anin ya?"
"Iya pak!" jawab Anin sambil tersenyum.
"Kenalkan pak, saya Farid!"
"Saya Bejo, nak Farid panggil saja pak Bejo. Orang kampung sini sudah kenal semua sama saya!"
"Iya pak!"
"Oh iya pak, singkongnya sudah siap pak?" tanya Anin.
__ADS_1
"Ya sudah mbak, ini di karung ini. Sengaja bapak nungguin mbak Anin di sini!"
Ternyata di samping pak Bejo ada tiga karung besar singkong.
"Ini semua berapa kilo pak?"
"Kemarin bapak total ada 150 kilo, tapi kalau mbak Anin mau timbang lagi saya ambilkan timbangan gantungnya ya!"
"Nggak perlu, Anin percaya kok sama bapak! Baiklah kalau gitu uangnya 375 ribu ya pak!" ucap Anin sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya tapi segera ustad Farid cegah.
"Biar mas aja yang bayar ya!" ucap ustad Farid dengan lembut.
"Enggak mas! Ini ada uangnya sendiri. Biar ini jadi urusan Anin, urusan uang untuk Anin nanti aja kita bicarakan di rumah!" jawab Anin dengan tegas.
Melihat ketegasan Anin, ustad Farid pun tidak berniat mendebat. Dalam diam, ia mengagumi ketegasan wanita yang resmi menjadi istrinya itu.
"Baiklah, sekaranh biar mas bantu bawa ke pick up. Nggak nolak kan sekarang?" tanya ustad Farid sambil tersenyum dan Anin pun menganggukkan kepalanya.
Ustad Farid pun membantu pak Bejo membawa singkong-singkong itu ke atas pick up.
"Terimakasih ya pak, kami permisi dulu. Nanti kalau ada lagi, tolong hubungi Anin ya pak!"
"Iya mbak!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Mereka pun meninggalkan rumah pak Bejo.
"Harusnya mas tadi nggak usah ikut angkat, baju kokonya kan jadi kotor!" ucap Anin saat melihat tanah yang menempel di baju ustad Farid.
"Dek, baju bisa di cuci. Tapi takdim pada orang tua tidak ada harganya!" ucap ustad Farid, ia tidak mungkin membiarkan pak Bejo yang jelas-jelas tenaganya tidak lebih kuat dari ustad Farid mengangkat semuanya sendiri.
"Insyaallah doa dari mereka yang akan membuat kita lebih baik!"
"Aamiin!"
Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga tidak henti-hentinya Anin bersyukur katena Allah mempertemukannya yang jauh dari sempurna dengan pria sebaik ustad Farid.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...