
Pagi ini Anin setelah menyelesaikan urusannya di tempat ia membuat kripik singkong.
"Lek Tarmi, aku tinggal disek (dulu) nggak pa pa ya!"
"Arep nyang endi Nin (Mau ke mana Nin)?" tanya lek Tarmi, dia seorang janda dua anak yang di tinggal kawin.lagi oleh suaminya yang merantau ke Malaysia.
"Arep nggolekne bahan nggek kerajinan Nopi, lek (mau cari bahan untuk kerajinan Novi, lek)! Kemarin lupa!"
"Ohhh, Yo wes ati-ati. Engko lek wes mari nggoreng kripikne tak gowo neh omahku Yo , tak adahane Kono ( oh, ya sudah hati-hati. nanti kalau sudah selesai menggoreng kripiknya saya bawa ke rumah ya, saya bungkus di sana)!"
"Iyo, nggak po po lek (iya nggak pa pa lek), assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Anin pun keluar dari pabrik kripik yang lebih mirip gubuk Dnegan dua kompor dan dua wajah. besar, bagian lantainya bahkan masih tanah dan dindingnya bambu dengan atas es bes, jika siang hari akan terasa lebih panas dan jika malam hari akan sangat dingin. Hanya ada sebuah dipan yang beralaskan karpet karakter sebagai tempat duduk dan juga beberapa kursi plastik yang berada di depan kompor untuk duduk saat menggoreng.
Hari ini hanya ada lek Tarmi yang menggoreng, Mbah Dami tidak datang karena sedang ada acara tujuh bulanan di rumah anaknya.
Udara sudah cukup panas sekarang meskipun masih jam depalan pagi karena matahari tengah bersinar cerah, Anin pun bergegas memacu motornya, bergumul dengan panasnya pagi ini, terlihat sesekali ia menutup kaca helmnya saat benar-benar menghadap ke matahari agar tidak begitu silau.
Akhrinya setelah perjalanan lima belas menit, Anin sampai juga di toko obras, tampak toko sepi. Anin bisa bernafas lega setidaknya ia tidak perlu berjubel dengan pembeli lain. Ia pun segera masuk ke dalam toko dan mencari peralatan seperti yang di sebutkan oleh Novi.
"Tahu gini ogah aku suruh beliin!" gerutu Anin sambil menatap daftar belanjaan yang hampir habis lima puluh ribu. Ia juga melihat kantong plastiknya bahkan tidak penuh.
"Mana hari ini belum jualan, belum juga menghasilkan lima puluh ribu, sudah habis segini!" keluhnya lagi sambil keluar dari toko.
Anin kembali melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam sembilan, setengah jam lagi adiknya istirahat.
Ia memacu motornya sedikit lebih cepat agar bisa sampai di sekolah sebelum jam istirahat. Agar sekolah tidak begitu ramai, ia malas saja jika harus jadi pusat perhatian.
Karena postur tubuhnya yang mungil, teman-teman Novi kerap menganggap jika Novi dan Anin hanya berjarak satu atau dua tahun. Padahal usia mereka berjarak hampir satu dekade.
Benar saja, sesampai di sekolah, halaman sekolah masih terlihat sepi. Anin segera memarkir motornya tepat di samping pos satpam.
"Maaf pak, boleh saya masuk sebentar?" ucapnya pada satpam yang tengah berjalan.
"Mau apa dek?" tanya satpam itu.
"Saya mau ngantar ini ke adek!" ucap Anin sambil menunjukkan kantong plastik di tangannya.
"Adeknya kelas berapa?" tanya satpam lagi.
__ADS_1
"Kelas delapan B, kalau nggak salah!" ucap Anin ragu, semester kemarin abuknya yang mengambil rapot sang adik karena ia sibuk sidang skripsi.
"Namanya siapa? Biar saya kasih pengumuman, adek nunggu di tempat tunggu aja nggak pa pa ya!" ucap pak satpam dengan ramah.
"Iya pak, nggak pa pa. Namanya Nopiana Putri,"
Pak satpam mengeryitkan keningnya dan kembali menirukan ejaan yang diucapkan oleh Anin.
"Nopi?"
"Maksudnya No_Vi!" tampak Anin sedikit kesusahan menyebutkan nama Novi dengan benar.
"Ohhh Novi?
"Iya pak!"
"Ya sudah silahkan tunggu di sana saja ya dek, biar saya melakukan panggilan untuk Novi kelas delapan B!"
"Tapi saya nggak yakin pak kalau delapan B!"
"Tapi kelas delapan kan?"
"Iya pak!" ucap Anin dengan tidak enak, "Baik pak, saya ke sana!"
"Terimakasih ya pak!" ucapnya lagi sambil cepat berlalu dari hadapan satpam sebelum di lempar sama pentungannya.
Anin memilih menunggu di sebuah tempat terbuka yang katanya tempat tunggu itu. Cukup sejuk setelah berpanas-panasan di jalan. Angin semilir dari pepohonan dan juga gemericik air dari kolam ikan kecil memberikan kesan sejuk dan menenangkan.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Novi datang juga. Ia menghampiri Anin dengan sedikit berlari.
"Gimana mbak?" tanyanya langsung membuat Anin mendengus kesal.
"Datang-datang, bukannya gimana dulu, udah nanyain gimana!?" protes Anin kemudian sambil mengulurkan Dnegan kasar kantong plastik di tangannya.
Novi nyengir kuda, "Maaf!" ia pun segara menarik tangan Anin dan mencium punggung tangannya.
"Aku ambil ya mbak!" ijinnya sambil perlahan mengambil kantong plastik dari tangan Anin,
"Ini lengkap?" tanya Novi kemudian.
"Periksa sendiri!" jawab Anin dengan judesnya dan Novi pun segera memeriksanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, lengkap!" ucap Novi dengan senyum sumringahnya khas anak ABG.
"Ya sudah sana kembali ke kelas! Belum istirahat kan?" usir Anin.
Bukannya pergi, Novi malah mengantungkan kedua telapak tangannya membuat Anin mengerutkan keningnya.
"Apaan?" tanya Anin bingung.
Novi kembali nyengir, "Sangu (Saku)!" ucapnya dengan malu-malu.
"Sangu, Sangu opo, nggak Sangu sanguan neh (saku, saku apa, nggak saku sakuan lagi)!" jawab Anin dengan spontan.
"Ya Allah mbak, pelit banget sih. Limang ewu ae Lo, tak gae tuku cilok (lima ribu aja Lo, buat beli cilok)!"
"Ya Allah, Nop...., ini mau wes entek penting puluh limo ewu loh (ini tadi sudah habis empat puluh lima ribu loh)!"
"Digenepi pisan mbak (Digenapkan sekalian mbak) biar jadi lima puluh ribu, enak ngitungnya!"
"Bocah sangune ae seng di gedekne, sekolah e ora tenanan, dolan AE, Ra ngerti Sinau (anak kok saku aja yang di besar-besar kan, sekolahnya tidak sungguh-sungguh, main terus, nggak pernah belajar)!" omel Anin persis seperti emak-emak.
Meskipun terus menggerutu dan mengomel tapi Anin tetap memberikan uang yang di minta adiknya.
"sangune akeh, sekolahe kudu tenanan (Sakunya banyak, sekolahnya juga harus bener)!"
"Iyo, Iyo mbak! Novi ke kelas dulu, assalamualaikum!" teriak Novi sambil berlari menjauh dari Anin.
"Waalaikum salam!"
Anin menggelengkan kepalanya menatap kepergian sang adik.
"Enak awakmu Nop, iso jajan. Jamanku, lek bapak nggak panen Ra tau Sangu (Enak dirimu Nov, bisa jajan. Jamanku, kalah bapak nggak panen nggak pernah punya saku)!" gerutu Anin sambil terus menatap sang adik hingga mengulang di balik dinding sekolah.
Anin pun kembali meraih tas sampingnya yang sempat ia letakkan, tapi belum sampai di bahu, ia sudah menghentikan kegiatannya saat melihat seseorang yang dia kenal.
Ya Allah ..., kayaknya ini jodoh ....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...