
Sesuai janjinya pada kyai Hasan, ustad farid pun mulai mengisi pengajian setelah habis isya' dan akan kembali ke rumah hampir jam sembilan malam.
Beruntung Anin menyetujuinya dan Anin juga tidak keberatan.
Sembari menunggu sang suami datang, biasanya Anin tengah mengecek pemasukan dan pengeluaran produksi kripiknya.
Akhir-akhir ini produksi kripiknya meningkat, Anin kerap kewalahan melayani pesanan. Meskipun begitu ia belum berniat menambah produksi karena masih terkendala tempat dan peralatan juga, selain itu ia juga belum berani menambah karyawan.
Tapi kali ini beda, Anin tengah memasang sebuah kertas Manila berwarna biru di dinding kamarnya, hingga ia tidak mendengar salam dari sang suami.
"Lagi sibuk banget ya?"
Pertanya itu mengagetkannya, hampir saja ia terjatuh dari pijakannya beruntung ustad Farid dengan cepat menangkap tubuhnya.
"Astaghfirullah hal azim," ustad farid pun tidak kalah terkejutnya.
"Ya Allah mas, bisa jantungan aku." keluh Anin sambil memegangi letak jantungnya. "Mas Parid kapan datangnya? Kenapa Anin tidak dengar?" tanya Anin setalah ustad Farid menurunkan tubuh Anin.
"Mas sudah berkali-kali mengucapkan salam, tapi dek Anin nggak denger. Maaf ya mas sudah mengejutkan dek Anin."
"Lain kali jangan langsung bicara kalau Anin ngahk denger!" keluh Anin masih tidak terima.
"Jadi mas harus langsun apa? Langsung peluk atau langsung cium?" tanya ustad Farid sambil melingkarkan lengannya di pinggan anin.
"Ihhh mas, geli tahu." keluh Anin saat ustad Farid juga menyusupkan tangannya di balik kaos yang di kenakan oleh Anin.
Cup
Cup
Cup
Bukannya melepaskan Anin, ustad Farid malah menciumi wajah Anin hingga bertubi-tubi.
"Jadi pengen." bisiknya lagi.
__ADS_1
"Ihhh mas, kita sudah kayak minum obat loh mas. Pagi siang sore malem, nggak bosan?"
Ustad Farid mengerutkan keningnya dan melepaskan tautan tangannya,
"Memang dek Anin bosan?"
'Waduh salah ngomong lagi,' batin Anin merasa bersalah.
"Bukan, bukan gitu." Anin bingung bagaimana harus beralasan, "Maksud Anin ini, " Anin menunjuk pada kertas Manila besar yang masih berusi setengah itu,
"Ini apa dek?" tanya ustad Farid sambil membaca beberapa tulisan yang ada di kertas itu.
"Ini namanya target di masa depan."
Ustad farid tidak berniat memotong ucapan Anin, ia lebih memilih menjadi pendengar.
"Jadi untuk target sepuluh tahun kedepannya, Anin sengaja merincinya dari tahun pertama bisa beli tanah, trus tahun berikutnya membuat tempat produksi kripik yang lebih bagus, berikutnya lagi menambah karyawan, berikutnya lagi beli peralatan produksi yang lebih canggih, lahan untuk menanam singkon sendiri, trus apa lagi ya mas?"
"Jadi mas boleh menambah?" tanya ustad Farid memastikan.
"Baiklah bagaimana kalau mas tambah ini." ustad Farid pun mulai menuliskan di tempat yang masih kosong.
"Buah hati di tahun kedua,"
'Ahh iya, kenapa tidak kepikiran?' batin Anin. Tapi kali ini fokus Anin tertuju pada tahun ke dua.
"Kenapa tahun kedua?"
"Karena tahun pertama, mas pengen bisa buatin rumah impian buat dek Anin."
"Ini aja sudah cukup mas." Anin tahu jika rumah yang mereka tempati saat ini sudah di beli suaminya dengan susah payah.
"Insyaallah nanti bisa dek."
Anin berhambur memeluk sang suami, dan mereka pun saling berpelukan sambil memandang kertas manila besar itu.
__ADS_1
"Kayaknya masih ada yang kurang dek."
"Apa lagi?"
Ustad Farid kembali mengambil spidol besar, sekarang Dnegan warna yang berbeda.
"Membahagiakan istriku di setiap tahun." tulisnya dengan ukuran yang lebih besar di banding yang lainnya.
"Bagaimana?" tanyanya, meskipun tidak di tanya Anin sudah tersipu di buatnya, ia benar-benar merasa di cintai oleh pria yang tengah mengapit pinggangnya itu.
"Ini lebih dari cukup mas,"
"Mas harap dek Anin akan menjadikan mas sebagai orang yang berhak untuk mewujudkan cita-cita dek Anin, apapun itu."
Wussss ....
Seperti angin surga yang menerpa wajah Anin, sejuk dan mendamaikan. Rasanya tubuhnya sekarang kehilangan gravitasi hingga terasa melayang di udara.
"Masih ada yang kurang deh, dek." ucap ustad Farid lagi sambil meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu seperti tengah berfikir.
"Apa lagi?"
"Kita hanya punya hak untuk berusaha dan berencana, tapi tetap pemilik keputusan final hanya pada Allah." tulisnya besar di bagian bawah.
"Mas sengaja menuliskan ini agar kita tidak merasa sedih jika ternyata bukan ini yang di takdirkan oleh Allah, karena Allah pemilik rencana terbaik."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1