
Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Anin, tampak pintu rumah Anin masih terbuka, itu tandanya kedua orang tua Anin masih belum tidur meskipun seorang sudah hampir jam sembilan malam.
Benar seperti dugaan Anin, orang tuanya pasti sangat mengkhawatirkannya. Mereka tampak duduk di serambi beralaskan tikar mendong yang ada di teras rumah.
Tidak ada yang punya ponsel di rumah selain dia, jadi sulit menghubungi orang rumah kalau ada apa-apa. Anin sengaja tidak membelikan adiknya hp agar ia bisa konsentrasi dengan pelajarannya, Novi hanya akan meminjam miliknya jika butuh, itupun hanya satu atau dua jam per hari.
Biasanya kalau benar-benar mendesak, Anin akan menghubungi buk leknya yang rumahnya dekat dengan rumah mereka.
Mas Ipul sebenarnya juga punya hp tapi jarak rumah mereka cukup jauh karena mas Ipul ikut dengan istrinya tinggal di rumah mertua.
"Assalamualaikum, pak, buk!" sapa Anin segera setelah turun dari motor, ia segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu.
"Waalaikum salam, ya Allah Nin, Nyang Endi ae awakmu mau (kemana aja kamu tadi)?" tanya ibuknya Dangan begitu khawatir.
"Katane Nopi kamu tadi ke sekolah adekmu, trus ngluyur (Jalan-jalan) kemana lagi?" bapak Anin tidak kalah hebohnya.
Tapi kini fokus Anin buka pada kedua orang tuanya, melainkan pada motor yang seharusnya mengikutinya di belakang motornya. Tapi setelah pertigaan masuk ke rumahnya, motor itu tidak terlihat lagi. Bahkan saat Anin sudah berhenti cukup lama, motor itu tidak juga datang.
Apa mereka nggak mampir? yahhhhhh ....., ada rasa kecewa yang mendera dalam hati Anin. Anin pun kembali fokus pada kedua orang tuanya.
"Nggeh pak buk, ngapunten Anin nggak Maringi kabar (iya pak buk, maaf Anin tidak kasih kabar). Nanti Anin jelasin di dalam pak!"
Baru saja hendak masuk, tiba sebuah motor berhenti di depan rumah mereka, perhatian mereka tertuju pada motor itu dan mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Mereka siapa?" tanya ibuknya Anin pada bapak.
"Tamu buk!"
"Tamu? Jam segini?"
Ustad Farid dan Wahid pun akhirnya turun dari motor dan melepas helmnya, Anin tersenyum lega.
"Mereka tadi sama Anin pak!" ucap Anin kemudian mematahkan kebingungan kedua orang tuanya.
Mereka pun berjalan mendekati Anin dan orang tuanya,
"Assalamualaikum!" sapa ustad Farid sambil tersenyum ramah.
"Waalaikum salam!" melihat penampilan ustad Farid dan Wahid yang tampak rapi sopan dengan peci dan baju kokonya, bapaknya Anin segera bersikap ramah, ia yakin kali ini tamunya orang baik,
__ADS_1
"Mohon maaf pak, sudah lancang mengantar Anin selarut ini!" ucap ustad Farid segera meminta maaf sebelum bapaknya Anin bertanya macam-macam.
"Monggo-monggo (mari-mari) masuk dulu, kita bicara di dalam saja sambil minum kopi!"
"Terimakasih pak, tapi_!"
"Nggak usah sungkan, ayok!" bapaknya Anin segera menarik tubuh ustad Farid untuk masuk ke dalam rumah. Wahid hanya bisa mengikutinya dengan pasrah di belakang.
Sepertinya situasi ini sudah diperhitungkan oleh Anin hingga ia hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Nak_!" tampak bapak Anin masih bingung harus memanggil ustad Farid bagaimana karena ustad Farid belum memperkenalkan diri.
"Farid pak, dan ini teman saya Wahid namanya!"
"Ya, nak Farid sama nak Wahid bagaimana bisa sama anak saya? Sampai malam begini?"
"Sebenarnya tadi ada acara, mohon maaf karena mendadak jadi tidak bisa memberitahu bapak dan ibuk dulu, insyaallah lain kali tidak lagi!"
"Alhamdulillah, kalau masih ada lain kali!"
Hahhh, apa aku salah bicara? Iya deh kayaknya ...., batin ustad Farid sambil mengingat kembali perkataannya.
"Oh iya, silahkan. Tapi kalau boleh, bisa kan besok ba'dha dhuhur nak Farid datang ke sini? Itupun kalau nak Farid tidak keberatan!"
"Insyaallah ya pak! Kalau begitu saya permisi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Ustad Farid dan Wahid pun akhirnya berpamitan.
"Lohhh pak, mas Parid sama mas Wahid nya kemana?" tanya Anin begitu keluar membawa beberapa cangkir kopi.
"Sudah pulang!" jawab bapaknya dengan singkat.
Mereka ngomongin apa ya? batin Anin sambil meletakkan nampannya di atas meja.
"Bapak wes nyuruh di kesini lagi besok!"
"Hahhhh?" Anin begitu terkejut, ia tidak yakin kalau mereka akan datang.
__ADS_1
Trus gimana dong ....., batin Anin sambil tanpa sadar ia meneguk segelas kopi di tangannya.
"Hahhh hahhhh hahhhh panas!" Anin sampai mengipasi lidahnya.
"Gek piye to,wes ngerti panas di kokop ae (bagaimana sih, sudah tahu panas di minum saja)!"
"Yo wes lah ngantuk, mau tidur!" ucap bapak Anin sambil berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
"Trus Iki piye pak kopi ne?"
"Ombene Dewe (minum saja sendiri)!" ucap bapak sambil berlalu meninggalkan Anin.
"Kembung aku pak!" keluh Anin sambil menatap tiga cangkir kopi di depannya.
"wes piye neh Iki sesok (Aduh bagaimana lagi ini besok)?" Anin kembali bingung memikirkan cara untuk besok.
"Ya Allah, aku pasrah Karo lakuMu (Ya Allah aku pasrah dengan jalanMu)!"
***
Di tempat lain tampak ustad Farid tidak bisa tidur, ia masih memikirkan tentang besok. Datang atau tidak.
"Bagaimana menurut kamu Hid, aku datang nggak?"
"Ya datang aja ustad. Kalau ustad memang suka sama Anin, ya tinggal lamar aja!"
"Enak banget kalau ngomong! Emang segampang itu apa!"
"Ya anggap aja rejeki nomplok ustad, merantau cari pengalaman plus dapat istri!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1