Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 58


__ADS_3

"Kamu yakin dek ini jalannya?" tanya ustad farid yang memang belum tahu seluk beluk jalan-jalan di Tulungagung.


"Iya mas!"


"Tapi kok nggak nyampek-nyampek?" tanya ustad Farid curiga, terakhir kali ia mempercayakan membaca google map pada Anin dan hasilnya mereka hanya muter-muter.


"Coba pinjem hp nya dek!" ucap ustad Farid dan menghentikan sejenak mobi pick up nya.


"Ini!" Anin menunjukkan ponselnya pada ustad Farid.


"Kayaknya Sudja Deket ini dek!" ucap ustad farid lagi, "Biar mas yang liat aja ya!"


"Jadi mas Parid nggak percaya sama Anin?" ucap Anin kesal.


"Bukan gitu dek, tapi_!"


"Ya udah mas, bilang aja nggak percaya!"


Ya Allah sensi banget sih , batin ustad farid.


"Baiklah, dek Anin saja yang baca!"


"Nggak deh, mas aja!"


"Adek aja!"


"Mas aja!"


"Dek Anin aja!"


"Nggak mau, mas aja!"


"Dek Anin ajaaaa!"


Anin dan ustad farid malah saling melempar ponsel.


"Baiklah,Anin aja tapi jangan salahkan Anin kalau nyasar ya!"


"Insyaallah enggak!" ucap ustad farid dengan yakin. Karena ia sudah melihat sekilas google map itu. Untuk sampai ke tempat tujuan mereka hanya perlu melewati satu kali perempatan belok kanan dan pertigaan berhenti.


Ustad Farid pun kembali menjalankan mobilnya, hingga sampailah di perempatan yang di maksud. Lampu tengah menyala mereka dan ustad farid menghentikan lagi mobilnya.


"Habis ini kita belok ke sana mas!" ucap Anin, bukannya menunjuk belok kanan tapi Anin malah menunjukkan ke arah sebaliknya.


Akhrinya lampu berubah hijau dan ustad Farid menjalankan mobilnya kembali.


"Loh mas salah belok!" protes Anin saat ustad farid malah belok ke arah lain.


"Nggak pa pa, kayaknya di sana macet, jadi lebih baik kita lewat sini aja. Insyaallah tembus nanti jalannya!" ucap ustad Farid beralasan agar sang istri tidak ngambek lagi gara-gara ucapannya tidak di dengar. Dan benar saja, cara ini berhasil. Ustad Farid tersenyum puas karena berhasil mencegah perang dunia.

__ADS_1


"Iya mas bener, orang googlenya juga bilang bener!" ucap Anin lagi saat melihat arah panah di google sesuai.


Ya iya lah, emang itu yang bener ...., batin ustad Farid tapi tidak berani mengutarakannya.


"Itu mas, itu Hypermart nya!" ucap Anin begitu senang saat melihat gedung tinggi dengan banyak kaca di depan. Bukan karena berhasil melihat Hypermart itu, tapi ia tengah begitu senang karena untuk pertama kalinya berhasil membaca google map.


Ustad farid pun memarkirkan mobil pick up nya di lapatang parkir pengunjung.


"Bagaimana dek, apa dek Anin punya nomornya David?"tanya ustad Farid begitu selesai memarkirkan mobilnya pick upnya.


"Udah Anin hapus!" jawab Anin dengan polosnya.


"Baiklah, dek Anin tunggu di sini dulu ya!"


"Mas Parid mau ke mana?"


"Sebentar saja! Jangan kemana-mana ya!"


"Hmmm!" Anin hanya bisa mengangukkan kepalanya.


Ustad farid pun meninggalkan Anin dengan pick up ya yang masih berisi penuh barang-barang dari David.


Tidak berapa lama, ustad Farid datang dengan seorang scurity.


"Mas, kok sama scurity sih?" bisik Anin pada ustad Farid.


"Mas mengatakan kalau ada kiriman buat mas David dan kebetulan sekali memang mas David sedang menunggu kiriman barang, makanya scurity dengan suka rela membantu mas menurunkan barang-barangnya dan membawa ke tempat David." ucap ustad Farid saat scurity mulai membantunya mengeluarkan barang-barang itu.


Kayaknya di sana mahal ..., batin Anin saat melihat kafe yang terlihat mewah itu.


"Nggak deh, Anin di sini aja!" tolak Anin,


"Di sini panas dek, kayaknya bakal lama soalnya ruangan David ada di lantai dua!"


Anin pun mencari solusi lain, beruntung di samping gedung tinggi itu ada beberapa warung tenda.


"Aku minum es pleret di sana aja ya mas!" ucap Anin sambil menunjuk ke arah warung tenda itu.


"Baiklah, jangan kemana-mana ya!"


"Hmmm!"


Akhirnya ustad Farid pun membantu dua scurity yang tengah menurunkan dan membawa barang-barang itu di dalam gedung sedangkan Anin memilih menuju ke kedai tenda es Pleret, ia memesan empat gelas es Pleret yang dua sengaja ia bungkus untuk dua scurity itu.


Dari kedai tenda, ia bisa melihat suaminya,


"Sudah mbak yang di bungkus!"


"Ya udah bentar ya mas, aku antar ini ke scurity dulu!"

__ADS_1


"Iya mbak!"


Anin pun membawa dua gelas es Pleret dalam kemasan gela plastik itu untuk dua scurity yang membantu ustad Farid.


"Wah terimakasih mbak, jadi merepotkan!" ucap salah satu scurity itu.


"Nggak pa pa pak, justru saya yang terimakasih!"


Akhirnya selesai juga, setelah berterimakasih kepada kedua scurity itu, ustad farid pun segera menyusul Anin.


Tepat saat mereka selesai, David yang dari Surabaya datang. Ia begitu terkejut saat melihat barang-barang itu berada di tempatnya. Ia masih sangat ingat barang-barang itu sengaja ia kirim ke keluarga Anin.


"Ini siapa yang bawa ke sini?" tanya David dan dua scurity pun di panggil ke hadapannya.


"Itu tadi tuan, katanya barang kiriman untuk tuan David. Kami kira itu yang di maksud pak Rendi tadi!"


"Di mana mereka?" tanya David dan dua scurity pun terlihat bingung dan saling berpandangan.


"Orang yang mengantar ini?" tanya David lagi.


"Mungkin mereka masih di kedai tenda es Pleret depan tuan!"


David tanpa ba-bi-bu lagi ia pun berdiri dan meninggalkan dua scurity itu.


Di kedai es pleret, ustad Farid menyelesaikan tegukan terakhir esnya.


"Alhamdulillah!"


"Kita langsung pulang, mas?" tanya Anin saat menyelesaikan pembayaran.


"Terserah dek Anin aja, kalau dek Anin mau kemana dulu, nggak pa pa! Mas anterin!"


Kebetulan sekali nih, Pumpung bawa pick up kan aku bisa ambil singkong di kampung sebelah, kalau kayak gini kan sekali mendayung dua pulau terlampaui...., batin Anin senang mendapat tawaran itu.


"Kok malah senyum, ada apa?" tanya ustad Farid lagi yang mulia terbiasa dengan senyum Anin.


"Enggak! Kebetulan satu Minggu lalu Anin ada janji buat ambil singkong hari ini, kira-kira mas ustad keberatan nggak?"


"Nggak pa pa, justru mas seneng! Ayo!"


Baru beberapa langkah meninggalkan kedai tenda itu, manik mata mereka menangkap sosok yang tidak asing tengah berjalan menuju ke arah mereka.


"Mas David!" gumam Anin dan dengan cepat ustad Farid menggenggam tangan Anin membuat Anin terpaku dibuatnya. Ia juga menarik Anin agar sedikit di belakangnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2