Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 79


__ADS_3

Di tempat lain, saat Anin tengah menemui Nur. Ustad Farid curhat pada ustad Zaki tentang keinginannya untuk memulai membuat usaha sendiri.


"Sejak kapan nih? Kenapa bisa dengan cepat berubah pikirkan? Bukankah yang terpenting bagimu hanya ilmu dan ilmu?" tanya ustad Zaki. Sudah sejak usia mereka dua puluhan, ustad Zaki selalu mengingatkan ustad Farid untuk mencoba sebuah usaha. Tapi jawabannya selalu sama, baginya asal cukup untuk biaya sehari-hari dan sedekah ia tidak akan muluk-muluk dalam mengejar dunia.


"Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Anin?" tanya ustad Zaki lagi, tidak mungkin ustad farid bisa berubah pikiran secepat itu.


"Salah satunya!"


"Jadi ada yang lainnya? Atau ini berhubungan dengan saingan cinta?"


"Bukan seperti itu,"


Melihat ustad Farid yang sedikit panik ustad Zaki pun tersenyum sambil meneguk kembali kopinya yang sudah hampir dingin. Ia tahu berarti itu jawabannya benar.


"Baiklah, kamu bisa mulai dari kedai lalapan milikku. Dan setelah itu kamu bisa mengembangkannya,"


"Aku ingin mencoba untuk membuja usaha sendiri Zak, bukan dari kamu."


"Iya, iya tahu." bagi seorang laki-laki, pantang untuk bergantung pada orang lain kecuali pada Allah. Dan hal seperti ini juga pernah di alami oleh ustad Zaki, hingga ustad Zaki bisa memahaminya dengan baik.


"Baiklah kamu bisa mulai dari sesuatu yang kamu suka."


"Aku akan pikirkan dulu,"


"Tanyai aku nanti jika sudah punya ide."


"Siap bos."


Ustad Zaki dan ustad Farid pun melanjutkan ngopinya, moment seperti sudah lama sekali tidak mereka lakukan.


***


"Biar aku antar kalian sampai di stasiun." tawar ustad Zaki.


"Tidak perlu, sudah ada mas Amir. Insyaallah kami akan sampai dengan selamat, doakan saja."

__ADS_1


"Baiklah, telpon aku kalau sudah sampai."


Setelah mereka berpamitan pada ustad Zaki dan Zahra, Anin dan ustad Farid pun akhirnya pulang di antar Amir sampai di stasiun.


Meskipun hanya dua hari, menjadi pengalaman yang cukup bagi pengantin baru itu.


Setelah sampai di Tulungagung mereka akan menata kembali sesuatu hal yang mungkin belum tertata dengan benar.


"Terimakasih ya mas Amir!" ucap Ustad Farid begitu mereka sampai di stasiun.


"Sama-sama ustad, nanti kalau mau main ke Blitar lagi, kabari Amir saja biar Amir jemput."


"Insyaallah,"


Setengah jam setelah sampai, akhirnya mereka mereka datang.


Amir menunguu hingga kereta datang dan baru pulang setelah ustad farid dan Anin naik ke dalam kereta.


"Ini tempat duduk kita dek," ucap ustad Farid sambil menunjukkan tempat duduk kosong pada Anin.


"Iya mas."


Hingga kerena kembali berjalan tidak ada lagi percakapan antara Anin dan ustad Farid. Sepertinya mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


Hingga saat kereta berhenti di stasiun berikutnya, seseorang menyapa mereka.


"Mbak Anin, ustad Farid."


Suara itu cukup familiar, Anin pun segera mendongakkan kepalanya begitu juga dengan ustad Farid.


"Nur,"


"Sebenarnya aku dapat tempat duduk di gerbong belakang sana, tapi pemilik tempat duduk ini mengajakku untuk bertukar tempat duduk karena mereka suami istri." ucap nur sambil menunjuk tempat duduk yang berada tepat di depan ustad Farid.


"Ohhh, duduklah nggak pa pa." ucap Anin sambil mempersilahkan Nur duduk.

__ADS_1


"Serius nggak pa pa?" tanya Nur lagi sambil melirik ustad Farid yang hanya diam.


"Duduklah, aku akan bertukar tempat dengan dek Anin," ucap ustad Farid lalu menatap sang istri dengan lembut, "nggak pa pa kan dek kalau mas di dekat jendela?" tanya ustad Farid pada Anin.


"Nggak pa pa."


Anin pun segera berdiri tapi ustad Farid segera menahan pinggang Anin agar tidak terjatuh saat kereta sedikit goyang,


"Hati-hati dek,"


Ustad Farid pun segera berdiri dan membiarkan Anin menggeser duduknya sedangkan dia memilih duduk belakangany melewati kaki Anin.


Hal lembut yang di lakukan oleh ustad farid tentu menjadi perhatian nur, bohong jika Nur tidak merasa cemburu. Tapi ia juga tahu posisinya, saat ini dan untuk seterusnya ia sudah berusaha melupakan keinginannya untuk menjadi halal bagi ustad farid karena pria itu sudah dimiliki orang lain.


"Jika tahu kamu juga berangkat hari ini, seharusnya tadi kita bisa barengan." ucap Anin pada Nur.


Sebenarnya Nur sudah tahu, tapi ia sengaja ingin menghindar. Dan ternyata takdir mempertemukan mereka.


"Nggak pa pa mbak,"


"Oh iya, di Tulungagung sudah ada tempat tinggal?" tanya Anin lagi.


"Kebetulan tinggal di asrama mbak, temennya banyak soalnya. Sekalian biar bisa fokus belajarnya."


Selagi Anin dan Nur mengobrol berdua, ustad Farid memilih menyandarkan kepalanya ke jendela kereta dan memejamkan matanya pura-pura tidur sedangkan tangannya terus menggenggam tangan Anin di balik jaket yang sengaja ia jadikan sebagai selimut.


Ia tahu, meskipun antara dirinya dan Nur memang tidak pernah terjalin hubungan yang istimewa, tapi Meraka pernah mengucapkan akad meskipun hanya sebatas akad perjanjian. Dan Anin adalah seorang wanita yang perasaannya begitu lembut.


Mungkin bibirnya tersenyum tapi siapa tahu dengan hatinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2