
Brokkkk
Anin meletakkan bukunya dengan kasar di atas lemari. Membuat ustad Farid yang tengah menggantung handuk kecilnya itu menoleh pada sang istri.
"Ada apa sih dek?" tanyanya kemudian.
Anin pun memilih naik ke atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut,
"Nggak pa pa, lagi mumet!"
Melihat Anin telah merebahkan tubuhnya, ustad Farid pun juga bersiap untuk tidur, tapi ia tidak menemukan tikar yang semalam ia gunakan untuk tidur.
"Dek," panggilnya dengan pelan pada Anin.
"Hmmm!" jawabnya. Ia begitu malas untuk membuka selimutnya lagi.
"Tikar yang kemarin di mana ya?" tanyanya membuat Anin terdiam.
Aku lupa, aku kan sengaja menyembunyikannya di kamar ibuk ..., batin Anin.
"Dek," panggil ustad Farid lagi saat Anin hanya diam.
Anin pun segera membuka selimutnya dan melihat ke arah ustad Farid yang tengah kebingungan mencari tikar.
"Sebenarnya tikarnya sama Anin_!" ucap Anin sebelum ia melanjutkan ucapannya ustad Farid sudah lebih dulu menoleh padanya.
"Anin_, tadi di pinjam ibuk di kamarnya! Apa mas mau Anin ambilin?" tanya Anin sebenarnya hanya untuk basa-basi saja.
"Jangan, kasihan sudah malam. Nanti malah ganggu ibuk sama bapak!"
Anin tersenyum, berhasil ...., batinnya senang.
"Gini aja mas, di luar dingin. Mas Parid tidur di sini saja!" ucap Anin sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Nggak pa pa?" tanya ustad Farid.
Memang siapa yang berani melarang, batin Anin kesal dengan kepolosan sang suami.
Ustad Farid pun mendekat ke arah Anin, ia hendak duduk di samping Anin tapi segera ia urungkan.
"Nggak deh, mas di bawah saja. Mas pakek sarung aja!" ucapnya dan menggelar sarung di lantai.
Kalau soal agama aja pinter, tapi kalau soal begini kok ..., Anin sampai menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Baiklah, mungkin butuh aku yang kerja keras nih, batin Anin. Ia pun mengeser tubuhnya membawa selimutnya dan turun dari tempat tidur. Ia ikut duduk di lantai dan merebahkan tubuhnya di samping ustad Farid.
"Astaghfirullah hal azim, dek! Ngapain dek Anin tidur di sini?" tanya ustad Farid terkejut. Ia pun kembali bangun dan duduk.
"Di atas soalnya panas. Pengen ngadem aja!"
"Tapi sempit loh dek di bawah!"
"Nggak pa pa!" Anin tetap dengan pendiriannya.
"Dek!!!" kali ini ustad Farid bicara dengan penuh penekanan.
"Issttttt!" Anin pun akhirnya duduk, dan menatap sang suami,
"Gini deh, Anin mau tidur di ata tapi mas Parid juga!"
"Tapi dek_!"
"Nggak ada tapi-tapian. Mau Anin ikut di bawah atau mas ikut ke atas?"
"Baiklah!"
"Baiklah bagaimana?"
"Nahhh gitu dong!"
Akhrinya Anin dan.ustad Farid pun tidur salam satu ranjang. Tapi sepeti saat malam pertama waktu itu, mereka malah tidak bisa tidur.
Tampak ustad Farid maupun Anin gelisah, baik Anin dan ustad Farid malah saling membelakangi.
"Mas, Belum tidur ya?" tanya Anin kemudian.
"Iya! Mas nggak bisa tidur!" ucapnya, sebenarnya ia tidak terbiasa tidur dengan seorang wanita, ia takut jika sampai melakukan sesuatu terhadap Anin,
Astaghfirullah hal azim, batin ustad Farid saat merasakan Anin menyentuh bahunya. Ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri sedangkan Anin belum siap. Ia tahu apa alasan Anin ingin buru-buru menikah. Ia ingin Anin terbiasa dulu dengan keberadaanya, dan untuk menunggu saat itu, ia harus sabar.
"Mas," panggil Anin lagi.
"Iya?"
"Boleh cerita nggak mas bagaimana masa kecil mas Farid?" mendengar permintaan Anin membuat ustad Farid bernafas lega. Ia pun merubah posisinya menjadi telentang sendangkan Anin memiringkan tubuhnya mengahadapnya.
Ustad Farid pun mulai bercerita, bagaimana perjuangannya dulu saat membantu abahnya jualan krupuk kemudian dirinya yang di ambil anak oleh kyai Syam dan tinggal di sana, dipertemukannya dia dengan ustad Zaki. Kehidupan menyenangkannya saat menempuh pendidikan di pesantren hingga hatam hafalan Al Qur'an nya dan mulai belajar menjadi mubaliq.
__ADS_1
Hingga dengkuran nafas teratur terdengar menandakan jika wanita yang tengah tidur di sampingnya itu sudah tertidur. Ustad Farid pun mengakhiri ceritanya.
Awalnya ia ingin segera tertidur, tapi kemudian ia begitu penasaran dengan wajah wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Saat memeka sama-sama terbangun, ustad Farid masih sering menghindari menatap Anin. Ia masih belum terbiasa meskipun kerap kali ia mencuri pandang saat Anin tersenyum, dan dia menyukainya.
Deg
Jantungnya berdetak kencang saat melihat wanita itu tanpa mengenakan hijab, darahnya berdesis seakan mengalir lebih cepat ke sekujur tubuh hingga membuat tubuhnya berkeringat.
cantik ...., hanya itu yang bisa menggambarkan apa yang tengah ia lihat saat ini.
Ustad Farid memiringkan tubuhnya perlahan menatap wajah cantik istrinya yang tengah terpejam. Beberapa anak rambut terlihat menutupi sebagian wajah Anin hingga membuat pandangan ustad Farid terhalang.
Dengan reflek ustad Farid mengulurkan tangannya dan menyingkap anak rambut Anin. Setelah semua anak rambut itu tersingkirkan, bukanya menarik kembali tangannya, ustad Farid malah semakin penasaran untuk mengusap pipi mulus milik Anin.
Jari jemarinya ia gunakan untuk mengelus pipi, hidung, alis tebal Anin dan berakhir di bibir merah jambu milik Anin,
Seperti ada magnet yang menuntun dan menarik ya hingga ia mendekatkan bibirnya, menempelkan bibir itu ke atas bibir Anin. Tidak ingin menggangu tidur Anin, ia pun hanya menempelkannya.
Tapi saat bibir itu saling menempel, seolah gejolak itu semakin besar, ustad Farid dengan cepat menarik kembali bibirnya dari bibir Anin dan berbalik membelakangi istrinya. Rasanya sekujur tubuhnya terasa panas sekarang hingga ia tidak mampu untuk menahannya lagi, tapi ia juga tidak bisa pergi ke kamar mandi karena takut menggangu penghuni lain.
Ia pun memilih memejamkan matanya dan terus beristigfar berharap rasa itu akan segera lenyap saat ia tertidur.
***
Anin mengerjakan matanya saat merasakan sesuatu menindih tubuhnya, dan ternyata itu sebuah tangan,
Roti sobek ...., batin Anin saat di depan matanya terpampang nyata dada ustad Farid yang terbaik karena kancing kemejanya yang terlepas.
Apalagi saat ini posisi mereka begitu dekat, hingga sangat dekat karena mereka saling berpelukan.
Perlahan Anin nyentuh bibirnya, semalam mimpi apa nyata ya, nggak mungkin kan aku nyosor ...., batin Anin membayangkan sesuatu yang terjadi dalam mimpinya tapi bekasnya seperti nyata.
Dada ini ...., batin Anin sambil menatap dada milik ustad Farid. Saat Anin hendak menyentuhnya tiba-tiba bia merasakan pergerakan dari pemilik dada dengan cepat pula Anin pura-pura kembali tidur.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1