
"Maaf ya mbak Anin, sudah nyuruh mbak!" Zahra sebenarnya merasa sungkan tapi mau bagaimana lagi, suami dan dokter melarangnya pergi kemanapun.
"Nggak pa pa, kebetulan aku ada yang ingin dibicarakan sih sama Nur!"
Zahra mengeryitkan keningnya penasaran.
"Mbak Anin mau melabrak Nur ya gara-gara ceritanya Zahra kemarin ya?" tanya Zahra khawatir, "Jangan ya mbak, Nur bukan orang yang berjiwa pelakor kok mbak, percaya deh sama Zahra, Zahra sudah mengenal Nur sejak kecil."
Anin tersenyum, "Ya enggak lah dek. Aku tuh percaya sama Allah."
"Apa hubungannya dengan Nur?"
"Karena Allah yang menjodohkan kami. Jika mas Parid dikirim Allah buat jadi jodohnya Anin, insyaallah tidak akan terjadi apapun."
"Alhamdulillah," akhirnya Zahra bernafas lega.
"Ya udah aku tinggal sebentar nggak pa pa kan dek."
"Nggak pa pa, aku juga mau istirahat mbak."
"Baiklah, istirahatlah. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam."
Akhrinya Anin keluar rumah dengan membawa bingkisan yang diperuntukkan bagi Nur dari Zahra.
Sebenarnya nur berencana mengambilnya sebelum berangkat kuliah, tapi Zahra kasihan jika menunggu besok. Beruntung Anin juga hendak jalan-jalan, jadi sekalian .mengantarkan bingkisan milik Nur.
Anin membawa motor milik ustad Zaki, dengan berbekal google map yang di berikan oleh Zahra, akhirnya Anin nekat mencari rumah Nur.
Anin menyadari kelemahannya dalam membaca google map, akhirnya ia lebih memilih bertanya pada siapa saja yang ia temui, rumah Nur juga satu kampung dengan rumah Zahra, pastinya tidak akan sulit mencarinya tidak seperti rumah-rumah di kota besar yang bentukannya hampir mirip-mirip satu sama lain.
Akhirnya setelah sepuluh menit, Anin pun sampai di depan sebuah rumah yang berukuran sedang bercat putih. Rumah itu tampak bersih dengan halaman yang di tanami bunga yang tampak terawat.
__ADS_1
Anin segera turun dari motor dan mengambil bingkisan milik Nur.
"Assalamualaikum!" ucap Nur saat sudah berdiri di depan pintu yang tidak tertutup.
"Waalaikum salam," sahut dari dalam dan seorang wanita paruh baya keluar,
"Sinten nggeh mbak? Madosi sinten? (Siapa ya mbak? cari siapa?)" tanya ibu itu.
"Ngapunten buk, Kulo Anin. Nopo leres Niki daleme Nur? (ngapunten buk, saya Anin. Apa benar ini rumahnya Nur)?" tanya Anin.
"Nggeh leres, Niki sinten nggeh? Kadose mboten nate semerep (iya benar, ini dengan siapa ya? Sepertinya tidak pernah lihat)?"
" Kulo Anin, rencangipun Zahra saking Tulungagung (saya Anin, temannya Zahra dari Tulungagung)!"
"Ya Allah , nopo rencange ustad Zaki nggeh? (ya Allah, apa temannya ustad Zaki ya?)"
"Enggeh buk (iya buk)."
"Masuk, masuk nak Anin, Monggo!"
"Oh ngoten, monggo pinarak, Nur teng wingkin. Tak celuk e riyen (oh gitu, silakan duduk, Nur di belakang biar saya panggil dulu)!"
"Matur swwun buk, ngapunten ngrepoti (Terimakasih buk, maaf merepotkan)."
"Mboten nopo-nopo."
Akhirnya ibuknya Nur meninggalkan Anin yang sudah di kursi depan.
"Mbak Anin," sapa nur begitu melihat Anin, ia pun ikut duduk setelah berjabat tangan.
"Ini, aku hanya mau mengantar ini tadi, katanya kamu butuh buat osmaba ya?"
"Ahh iya mbak, terimakasih banyak ya mbak, jadi merepotkan mbak Anin."
__ADS_1
"Nggak kok, sebenarnya memang ada yang ingin aku bicarakan sama kamu sih." ucap Anin membuat Nur penasaran. Jantung Nur berdetak lebih kencang, sepertinya ia menyadari sesuatu.
Anin mengeluarkan jam tangan dari dalam tasnya,
"Aku ke sini mau mengembalikan ini," ucap Anin sambil menyerahkan jam tangan kepada Nur.
"Mbak maafin aku, sungguh aku nggak maksud_,"
"Nggak pa pa, mas Parid sudah menceritakan semuanya, dan itu hal yang lumrah. Siapapun wanitanya, pasti menginginkan pasangan hidup yang pastinya bagus agamanya, bagus akhlaknya dan insyaallah mas Parid salah satunya. Aku pun juga sama, begitu juga dengan dek Nur, jadi nggak ada yang salah. Mungkin doa ku yang tengah di dengar oleh Allah hingga mematahkan doa dek Nur. Atau mungkin Allah tengah menyiapkan yang lebih baik dari mas Parid dengan mematahkan doa dek Nur."
"Aamiin," ucap nur sambil menakupkan kedua tangannya.
Sekali lagi Nur mantap kagum pada wanita di depannya, meskipun terlihat biasa saja di luar, nyatanya Anin mempunya kelebihan yang dirinya atau mungkin wanita lain tidak punya, yaitu selalu berpikir positif dan dewasa.
"Aku tidak heran kenapa ustad Farid memilih mbak Anin."
"Hmmm, apa?"
"Karena mbak Anin luar biasa, mbak Anin begitu dewasa, mbak Anin juga bijaksana. Butuh hati yang besar untuk bisa menghadapi gadis yang pernah menaruh perasaan pada suaminya dan mbak nur begitu lapang menanggapinya."
"Kamu berlebihan dek,"
"Enggak, Nur sangat yakin. Mbak Anin adalah istri terbaik untuk ustad Farid."
"Aamiinnn!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...