
Aan malah terlihat bingung dengan sikap ustad Farid, pria itu malah kaget saat melihat rumah itu.
Bagaimana tidak, rumah yang tengah mereka kunjungi adalah rumah yang sudah dua kali ia kunjungi selama di Tulungagung.
"Mari ustad!" perkataan Aan kembali menyadarkannya,
"Emm..., i_iya!" jawabnya ragu.
Tapi belum sampai Aan mengetuk pintu yang tidak tertutup itu, seseorang lebih dulu menghampirinya dari belakang,
"Nak Farid!"
Panggilan itu berhasil membuat mereka menoleh ke belakang,
"Bapak!?" ucap ustad Farid terkejut, terkejut bukan karena keberadaan pria itu di rumah ini tapi karena kedatangannya yang tiba-tiba tapi dia belum siap,
"Assalamualaikum pak!" sapanya lagi.
"Waalaikum salam!" jawab pak Suroso dengan perasaan yang begitu senang.
"Habis dari sawah pak?" tanya ustadz Farid.
"Iya, lihat taneman."
Aan menatap heran melihat ustad Farid terlihat ngobrol akrab dengan bapak itu.
"Ayo, ayo masuk!" ajak pak Suroso sambil mendorong punggung ustad Farid dan Aan.
"Buk ada tamu ini loh, cepetan buatin kopi!" teriaknya pada sang istri yang rupanya berada di dalam rumah.
"Mari duduk!"
Akhrinya mereka pun duduk, karena pak Suroso terus membicarakan hal lain membuat ustad Farid dan Aan lupa Dnegan tujuan kedatangannya ke tempat itu.
"Monggo di minum!" ucap ibunya Anin sambil menghidangkan tiga cangkir kopi panas.
"Camilannya nggak ada buk?" tanya pak Suroso saat melihat di atas nampan itu tidak ada temennya kopi.
__ADS_1
"Masih belum masak, pak!"
"Ini sudah lebih dari cukup pak," ucap ustad farid sungkan.
"Monggo-monggo silahkan!" ucap ibunya Anin lagi kemudian berpamitan untuk ke dalam.
"Jadi bagaimana nak Farid, sudah dibicarakan dengan orang tua nak Farid, kapan rencananya mereka ke sini?"
Glek
Tiba-tiba ustad farid kesusahan untuk menelan Salivanya sendiri saat mendengarkan pertanyaan dari pak Suroso,
"Emmm, itu ..., anu ..., maksudnya ...!" ustad farid tiba-tiba terserang gugup sampai ia bingung dan kehilangan kata-kata padahal ia biasanya punya publish speaking yang sangat baik, ia sudah biasa di undang untuk mengisi banyak pengajian. Tapi tiba-tiba jadi Gaguk saat berhadapan dengan bapaknya Anin.
Aan malah masih bengong dengan todongan pertanyaan dari pak Suroso.
"Jadi gini pak, sebenernya maksud kedatangan kami_!" belum sampai Aan selesai menjelaskan tiba-tiba ada suara motor yang berhenti tepat di depan rumah itu, karena terasnya sempit jadi mereka bisa melihat siapa yang datang.
Novi ....
Ustad Farid begitu terkejut saat melihat siswinya berboncengan dengan Anin.
"Hussttttt!" sepertinya Anin meminta Novi untuk diam. Tidak ada akses lain untuk keluar masuk rumah selain pintu depan karena bagian samping-sampjnh rumah sudah langsung mepet dengan rumah tetangga, meskipun bukan termasuk pemukiman padat, tapi karena tanahnya yang tidak terlalu lebar membuat mereka membangun rumah dengan dinding yang saling berhimpit dan jika ingin ke belakang tanpa lewat pintu depan, mereka harus melewati beberapa rumah lebih dulu.
"Assalamualaikum!" sapa Anin dan Novi saat memasuki rumah, mereka segara mengalami bapaknya dan mencium punggung tangan pria itu.
"Loh katanya pulangnya lebih awal, kok Sampek sore gini?" tanya pak Suroso.
"Tadi tiba-tiba ada guru baru pak ...!" belum Novi selesai bicara, ia sedikit melirik pada tamu bapaknya,
"Loh ..., loh ..., loh ...., ustad di sini?" ucap Novi sambil menunjuk pada ustad Farid.
"Nop yang sopan!" ucap Anin mengingatkan pada adiknya itu, rupanya ia juga tidak menyangka dengan kedatangan ustad Farid, pasalnya ia tidak mengenali motor yang ada di depan, mungkin karena motor ustadz Farid masih baru.
"Nak Farid mau melanjutkan pembicaraan yang kemarin pastinya, iya kan nak?" tanya pak Suroso.
Glek
__ADS_1
Sekali lagi ustad farid yang mendapat pertanyaan itu kesusahan menelan Salivanya,. seakan Saliva itu seperti batu besar yang tengah menyumpal di tenggorokan hingga dengan susah payah ia menelannya.
"I.., iya pak!" ustad Farid hanya bisa pasrah.
Yang benar ..., Anin tidak percaya ustad Farid menyetujui pertanyaan bapaknya.
"Wahhh wahh, mbak Anin ambil start lebih dulu nih. Nggak adil, pantas nggak mau aku kasih nomornya, ternyata sudah punya sendiri!" cerocos Novi.
"Husstttt, sudah sana ini urusan orang dewasa, anak kecil nggak boleh ikut." ucap Anin sambil mendorong tubuh adiknya masuk ke dalam.
Setelah di rasa aman, Anin pun ikut bergabung dengan mereka.
Pak Suroso kembali fokus pada pria yang terlihat gugup, pria itu tampak memilih ujung kemejanya .
"Bagaimana nak, sudah di kasih tahu sama orang tua kamu?" pertanyaan itu kembali membuat keringat dingin ustadz Farid keluar hingga membuat kemeja bagian belakang ustad farid basah.
"Em itu, maaf belum pak!"
"Ohhh pasti nak Farid sibuk, kebetulan sekali kalau begitu. Bapak sekalian mau ngobrol sama beliau. Sekalian aja telponnya di sini!"
"Hahhhh?" ustad Farid masih tidak faham, meskipun ia mengulurkan ponsel di tanahnya. Melihat hal itu, Anin tersenyum penuh kemenangan.
"Ya nggak bisa nak, kamu telponkan nanti bapak yang bicara, bapak tahu pasti kamu bingung harus bicara bagaimana sama bapak kamu, biar bapak saja yang bicara!"
Ustad Farid bagaikan kerbau yang di colok hidungnya, hingga ia menuruti saja permintaan pak Suroso.
"Pak ini nggak buru-buru?" tanya Anin yang merasa tidak enak sama ustad Farid. Meskipun ia sendiri yang ngebet pengen menikah dengan ustad Farid, tapi tetap saja ia tidak enak hati sama ustad Farid.
"Nggak pa pa!" ucap ustad Farid pelan pada Anin. Meskipun bukan atas keinginannya tapi ia melakukannya juga bukan karena terpaksa. Ia hanya tidak ingin membuat pria paruh baya di depannya kecewa. Entah bagaimana nanti keputusannya,
Biarlah Allah yang menentukan jalan terbaiknya, jika memang Anin jodohku, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada ...
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...