Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 86


__ADS_3

Mendengarkan penjelasan dari sang suami, semakin membuat Anin yakin pada suaminya di tengah pengetahuan agama Anin yang minim, memang ini sosok suami yang dia inginkan selama ini.


"Dek, kenapa malah lihatin mas kayak gitu?" tanya ustad Farid.


Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Anin malah berhambur memeluk sang suami,


"Jadi pengeeeeen," ucapnya manja membuat sang suami begitu bersemangat.


Hanya dengan sekali hentakan saja, kini tubuh Anin sudah berpindah ke bahu sang suami. Seperti tengah membawa karung.


"Maaassss." hampir saja Anin berteriak karena terlalu terkejut.


(Dan untuk selanjutnya, biarlah mereka sendiri yang tahu)


Pagi ini Anin juga sudah terlihat rapi dengan kulit berwarna pastel senada dengan jilbab pasmina yang di kenakan, dengan atasan kemeja putih longgar.


"Dek Anin mau pergi?" tanya ustad Farid yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. Terlihat Anin tengah menyiapkan sarapan untuk mereka, bukan anin yang masak, ia sengaja membeli sayur matang di depan rumah. Ia hanya memasak nasi dan lauk.


"Iya mas, Anin mau ke tempat produksi kripik."


"Kenapa pagi?"


"Soalnya kemarin ada yang telpon mau pesen jumlah banyak ke kafenya, katanya banyak peminatnya di sana. Jadi Anin mau mastiin pasokan singkongnya masih memadai apa enggak."


"Ohhhh." ustad Farid pun ikut duduk dan mulai mengambil piring kosongnya, dengan cekatan anin segera mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Kalau mas Parid hari ini mau ke mana? Kata Nopi mas Parid ijin dua Minggu ya?"


"Iya." awalnya ustad farid mengajak Anin untuk honeymoon tapi ternyata ada yang lebih penting dari itu.


"Awalnya gitu, tapi semalam mas sudah telpon kepala sekolah kalau mas batal ijin."


"Kenapa?"


"Mas ternyata masih ada pekerjaan lain, jadi maaf ya mas nggak jadi ngajak dek Anin buat honeymoon."

__ADS_1


'Ya Allah, ternyata romantis juga mas Parid setelah mencair.' batin Anin yang malah senyum-senyum sendiri.


"Kenapa dek, ada yang lucunya di wajah mas?" ustad farid malah salah tingkah dengan senyum Anin.


"Enggak kok mas, Anin cuma nggak nyangka aja kalau mas sampai kepikiran hal ini."


Ustad Farid tersenyum dan mulai menyantap makanannya setelah membaca doa.


Setelah selesai sarapan, Anin dan ustad Farid bersiap untuk berangkat.


"Nggak pa pa dek kalau berangkat sendiri?"


"Nggak pa pa mas, lagi pula Anin cuma dekat aja."


Mereka pun keluar dari rumah dan ustad Farid segera mengunci pintu dari luar dan meletakkan kunci di bawah taplak meja kecil yang ada di teras.


Baru saja hendak memakai helmnya, sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah mereka membuat kegiatan Anin dan ustad Farid pun terhenti.


Seorang wanita turun dari sana,


Wanita paruh baya itu turun dari mobil sedan yang sepertinya mobil travel yang telah di sewa.


"Ya ampun dasar anak muda sekarang, lihat orang tua bawa barang berat malah cuma liatin nggak gegas bantu." keluh wanita itu membuat ustad farid dan anin saling berpandangan.


"Biar mas aja dek." ucap ustad Farid yang segera berjalan menghampiri sang budhe.


"Assalamualaikum budhe," sapa ustad Farid sambil mengangkat dua tas besar milik budhe Anin.


"Waalaikum salam," jawab budhe dengan ketus dan berjalan lebih dulu meninggalkan ustad Farid.


Anin pun segera mencium tangan sang budhe,


"Baru datang budhe?"


"Sudah tahu masih nanya, ayo cepet buka pintunya. Kepala budhe pusing, budhe mau minum kopi."

__ADS_1


"Baik budhe," Anin pun dengan cepat kembali membuka pintunya dan mempersilahkan budhenya untuk masuk.


Ustad Farid dan Anin berjalan mengikutinya di belakang.


"Ya ampuuun, sempit sekali rumah ini." keluh budhe membuat Anin merasa tidak enak dengan sang suami.


"Coba kamu nurut sama budhe buat_,"


"Budhe, katanya tadi budhe mau kopi ya? biar Anin buatin, budhe istirahat dulu ya." ucap Anin dengan cepat memotong ucapan sang budhe. Ia tahu apa yang akan di katakan budhenya.


"Mas Parid berangkat gih, nanti terlambat."


"Ya sudah, mas berangkat ya."


Anin pun segera mencium punggung tangan sang suami, sebenarnya ingin mengecup kening Anin tapi ia urungkan karena ada sang budhe.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam,"


Ustad Farid puh berlalu, belum sampai keluar dari rumah langkahnya kembali terhenti karena kata-kata pedas budhe Anin.


"Wong jadi guru saja kok bangga, memang berapa gajinya." cibir budhe Anin.


Anin yang juga sudah hampir ke dapur ikut berhenti, ia kembali menoleh pada suaminya, tapi dengan cepat ustad Farid tersenyum dan meyakinkan Anin bahwa dirinya tidak masalah.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2