Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 40


__ADS_3

Anin menutupi keningnya dengan telapak tangan, sudah hampir setengah jam ia berada di depan sekolah adiknya, sengatan panas matahari dan silaunya menerpa wajah hingga ia beberapa kali menggunakan ujung jilbab depannya untuk menutupi wajahnya saat tangannya tidak mampu menghalau pancaran cahaya matahari yang begitu menyengat tepat di tengah hari.


"Ngerti ngene aku budal rodok engko (tau gini aku berangkat agak nanti),panas banget." keluhnya untuk kesekian kalinya.


Hingga akhirnya penantiannya pun berakhir saat suara bel sekolah berbunyi,


Selang beberapa menit, satu per satu siswa berlarian keluar. Tampak juga salah satu dari mereka adalah orang yang tengah ia tunggu-tunggu.


"Lama e mbak nunggunya?" tanya Novi tanpa rasa bersalah.


"Kamu tuh ya kalau ngasih informasi yang bener, katanya hari ini pulangnya pagi. Nih kalau kelihatan, kulit mbak nih udah kayak kripik singkong, tau nggak! Sejam mbak nunguin kamu!" oleh Anin pada adik perempuannya itu sambil menyerahkan helmnya dengan kasar.


"Yo maaf mbak, soalnya aku nggak tahu sih kalau guru agama aku udah ada gantinya! Kan yang Minggu kemarin aku pulangnya awal, sama mbak malah nggak di jemput!"


"Ngeles aja, malah nyalahin mbak lagi." ucap Anin sambil memakai helmnya sendiri, ia pun segera naik,


"Ayo cepetan, keburu meledak ntar motornya!"


"Kenapa meledak mbak?"


"Kepanasen!"


"Wes ada-ada ae mbak Anin Ki!" ucap Novi sambil menyusul naik ke motor.


Akhirnya motor yang sudah hampir satu jam berada di depan gerbang sekolah itu kerjakan juga.


"Mbak beli es krim ya!" ucap Anin saat melintas di depan minimarket.


"Nggak!"


"Ayolah mbak! Kan abis kepanasan. Didem (di dinginkan) dulu sama es krim!" rengek Novi.


"Nggak!"


"Ihhhh pelit mbak Anin!"


"Biarin!" Anin tetap melakukan motornya, tidak peduli dengan rengekan sang adik.


"Oh iya mbak, tahu nggak mbak siapa ustad baru Novi?"


"Mboh (nggak tahu)!" jawab Anin dengan judes.


"Ih gitu banget sih mbak jawabnya!?"


"Ya mana mbak tahu sih Nop, emang kamu sudah ngasih tahu sedari tadi! Enek-enek ae awakmu Ki, Jo mari mbak spaneng to (Ada-ada aja kamu nih, jangan buat mabk spaneng~ pusing)!"

__ADS_1


"Oh Iyo Yo mbak, aku lali urung tak kasih tahu (Oh iya ya mbak, aku lupa belum kasih tahu)!"


"Isttttt!" walaupun Tidka jelas tapi Novi bisa melihat dari pantulan kaca spion yang di depan jika kakaknya itu tengah menyebirkan bibirnya.


"Guuuuuaaanteng tau nggak mbak orangnya, rama, Sholeh, suaranya juga bagus banget pas ngaji! Ya Allah andai aja umurku agak tuan dikit, minimal tujuh belas tahun lah, udah aku tembak tuh ustad udah ku minta bapak buat nglamarin tuh ustad!" ucap Novi sambil membayangkan wajah tampak ustad Farid.


Tukkkkk


Anin Dnegan sengaja mengadu helm mereka hingga membuat kepala Novi sedikit terpental ke belakang,


"Auhhhh, apaan sih mbak!?" keluh Novi.


"Sek cilok wes mikir lamar-lamar, sekolah seng bener (Masih kecil Sudja mikir lamar-lamar, sekolah yang benar)!"


"Ngayal titik Ra po po to mbak (Menghayal sedikit tidak pa pa kan mbak)! Lagian tadi Novi juga minta nomornya ustad baru!"


"Buat apa?"


"Mau aku jodohin sama mbak!"


"wes, sembarangan ae!"


Sepanjang perjalanan pulang mereka terus saling ledek. Mereka meributkan hal-hal yang sepele seperti biasanya.


***


Sesekali mereka menghampiri pedagang dan menawar dagangannya.


"Kita ke pasar yang belakang ustad!" ucap Aan setelah beberapa bahan yang mereka butuhkan di pasar depan selesai.


"Baik ayo!"


Mereka menuju ke pasar sayur yang ada di belakang pasar utama, tapi saat pagi dan malam hari justru pasar sayur yang paling ramai.


"Loh kok sudah sepi gini ya An, mana yang banyak?" tanya sutad Farid saat melihat pasar Sudja begitu sepi.


"Kayaknya kesorean deh ustad, biasanya juga banyak. coba biar Aan tanya sama penjualnya!"


"Baiklah, aku nungguin di sini biar nggak parkir ya!" ucap ustad Farid, ia malas jika harus parkir-parkir lagi padahal pasar sudah sangat sepi.


"Iya ustad!"


Terlihat Aan menanyai beberapa pedagang dan tidak berapa lama Aan pun kembali,


"Bagaimana?" tanya ustad Farid begitu Aan sudah masuk kembali ke dalam pick up.

__ADS_1


"Katanya petani timunnya masih akan panen besok sore,"


"Trus yang lainnya nggak ada?"


"Sudah pulang semua ustad!"


"Tapi kan acaranya baru lusa. Malah bagus kalau panen ya besok sore sih, masih seger!"


"Kalau ustad mau, kita bisa ke rumah petaninya saja ustad!"


"Memang kamu tahu alamatnya?"


"Tadi sama penjual yang di sana di kasih alamat petaninya!"


"Gini aja deh, kita cari terongnya dulu trus di bawa ke kedai, habis itu ganti motor lanjut ke tempat petani timun biar bisa milih sekalian!"


"Baik ustad!"


setelah keliling pasar akhirnya mereka dapat sejumlah terong yang di cari.


Beruntung ustad Farid membawA pick up hingga ia tidak perlu menyewa sebuah pick up untuk mengangkutnya.


Mereka pun segera kembali ke kedai dan berganti motor kemudian lanjut ke petani timunnya.


Sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh dari kedai tapi mereka butuh waktu setengah jam untuk sampai karena jalanannya yang agak rusak.


Kok ke sini, aku kayaknya sudah kenal jalanan ini ...., batin ustad Farid saat mereka memasuki sebuah perkampungan.


Hingga akhrinya setelah bertanya ke beberapa orang, akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah.


Tapi ustad Farid begitu terkejut saat berhenti di depan rumah itu.


"kamu yakin An, di sini rumah petani timunnya?" tanyanya sebelum ia benar-benar turun.


"Yakin ustad, tadi sudah nanya sama orang dan bener katanya rumahnya yang ini!"


"Kamu nggak salah?"


"Insyaallah ustad! Ada apa?"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2