Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 72


__ADS_3

Karena tidak mendapat jawaban dari ustad Farid, Anin malah semakin mengeratkan pelukannya hingga ia bisa mendengar detak jantung dari ustad Farid yang begitu cepat membuat Anin tersenyum.


Kok ada, pria sepolos ini ..., batin Anin sambil tersenyum.


"Dek, kalau kamu peluk mas seperti ini lima menit lagi aja. Mas bisa masuk rumah sakit." ucap ustad Farid dengan nada pasrahnya.


Anin pun dengan cepat melepas pelukannya,


"Hahhh, kenapa?" tanya Anin tidak mengerti. Ia tidak melakukan hal yang kriminal. Ia hanya memeluk suaminya saja.


"Mas bakal kenal serangan jantung, nggak dengar tadi jantungku rasanya kayak disko. Nih keringat mas keluar semua, badan mas panas dingin." ucap ustad Farid sambil mengusap keningnya yang berkeringat.


Mendebat hal itu, Anin malah menumpu tubuhnya dengan kedua lututnya hingga membuat mereka sejajar saat ini, Anin tersenyum membuat ustad Farid curiga.


"Sekarang mau ngapain dek?" tanya ustad Farid.


"Mau cium!" ucap Anin sambil tersenyum. Baru saja ustad Farid hendak melayangkan protes, Anin sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir Anin.


Cup


Bukan hanya ustad Farid yang terkejut, nyatanya Anin tidak kalah terkejutnya saat bibirnya menempel di bibir ustad Farid hingga matanya membulat sempurna.


Alih-alih ingin segera menarik kembali bibirnya, tapi tubuhnya terlalu terpaku membuatnya tidak bisa bergerak, begitupun dengan ustad Farid.


Cukup lama, seperti sekian detik bibir mereka saling menempel hingga akhirnya Anin berhasil menarinya kembali.


Suasana malah menjadi canggung setelahnya,


"Mas, kayaknya aku harus ke_, ke warung belumi_, beli garam!" ucap Anin sambil berlari tunggang langgang meninggalkan ustad Farid yang masih terpaku di tempatnya sambil memegangi bibirnya.


Rasanya ia ingin mengulang hal yang singkat tadi.


Anin pun juga demikian. Setelah keluar rumah, ia sampai m3njejakkan kakinya beberapa kali mengutuki kebodohannya yang baru saja ia lakukan.


"Ya Allah Anin, ngisin-ngisini. Iso iso ne aku koyok ngono mau, piye lek ngasi mas Parid ilpil Karo aku? (Ya Allah Anin, malu-maluin. Bisa bisanya aku seperti tadi, bagaimana kalau mas Farid ilfeel denganku?)"


"Alah emboh lah, pikir keri (Ya sudah lah, pikir belakangan)!"


Terpaksa Anin membeli sebungkus garam agar ustad Farid tidak curiga.


Anin pun kembali saat ustad Farid tengah merebus air di dapur.


"Assalamualaikum." sapa Anin tapi ia tampak masih malu untuk melihat wajah suaminya.

__ADS_1


"Waalaikum salam." ustad Farid tersenyum dan melihat kantong kresek yang ada di tangan Anin.


"Nggak beli gula sekalian, dek?" tanya ustad Farid dan berhasil membuat Anin mendongakkan kepalanya.


"Hahhh?" tanya Anin.


"Sebenarnya mas mau buah kopi hitam, tapi gulanya nggak ada."


"Anin cuma beli garam!" ucap Anin sambil menunjukkan kantong kreseknya dan ustad Farid melirik pada dua bungkus garam yang masih utuh di atas meja.


Ternyata Anin menyadari arah lirikan ustad Farid,


"Oh itu, Anin sengaja beli garam lagi. Kata orang-orang bagus buat berendam."


"Benarkah? Nggak perih kulitnya?"


"Ahhh, ya sedikit!" jawab Anin asal.


"Mungkin merendam kaki ya?"


"Ahhh iya, begitulah!" jawab Anin bersemangat merasa setuju, "Ya udah kalah gitu biar aku beli gula aja sekarang!" ucap Anin lagi hendak berbalik.


"Nggak usah dek, kebetulan mas tadi bawa kopi sachet yang sudah plus gula. Dek Anin mau ngopi juga?" tanyanya kemudian.


Akhirnya ustad Farid pun membuat dua cangkir kopi dan mereka membawanya ke ruang tengah, meletakkannya di atas tikar yang di gelar di sana.


"Dek, besok kita berangkat pagi-pagi ke Blitar ya." ucap ustad Farid memulai pembicaraan.


"Naik apa?"


"Untuk berangkatnya naik mobil pick up tapi baliknya ke sini naik kereta nggak pa pa ya, soalnya pick upnya akan di pakai pak Dul buat bawa perlengkapan kedai ke Lamongan."


"Nggak pa pa lah mas," ucap Anin sambil tersenyum, "Sekalian buat mengenang waktu itu." ucap Anin lagi lirih tapi ternyata ustad Farid mendengarnya.


"Apa dek?" tanya ustad Farid.


"Nggak pa pa, Anin cuma bilang kalau seneng!"


***


Blitar


"Serius mau pulang?" tanya Zahra yang tengah bicara di dalam telpon Dnegan seseorang.

__ADS_1


"Iyo Jah, Ki wes nek sepur!"


"Ya Allah, baik banget bestie ku ki."


"Aku nggak bawa jajan tapi."


Mendengar hal itu sontak raut wajah Zahar berubah masam.


"Nyapo?"


"Takut sama ustad Zaki, di gantung aku nanti sama ustad Zaki kalau ketahuan bawain jajanan yang nggak baik buat kamu."


"Issttttt!!!" Zahra hanya bisa mendesis kesal.


"Yo wes Yo Jah, aku tak turu disek. Ngantuk! (ya sudah ya Zah, aku mau tidur dulu, ngantuk)!"


"Ati-ati lo nur, nek sepur Jo sembarangan turu ( Hati-hati loh Nur, di kereta jangan sembarangan tidur)!" Zahra sebegera memperingatkan sahabatnya itu.


"Iyo Jah, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Zahra menjauhkan benda pipih itu saat sambungan telpon terputus. Bibirnya masih terus tertarik ke samping membayangkan keseruannya saat sahabatnya pulang.


Ternyata apa yang ia pikirkan selama ini salah, ia pikir dengan tidak sekolah ia akan bisa bebas tiduran di rumah, tapi saat ia punya kesempatan itu ia malah merasa bosan.


Begitulah manusia, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki dan merasa orang lain jauh lebih baik dari dirinya.


Ada kata-kata bagus yang aku temukan,


Begini; Yang terbaik adalah yang kamu miliki saat ini bukan yang telah lalu atau yang akan datang, jadi nikmati saja takdir terbaik yang Allah berikan saat ini.


Spesial visual ustad Farid



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2