Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 56


__ADS_3

Agak siang, satu per satu tetangga mulai kembali berdatangan, mereka kembali untuk membantu membereskan kembali barang-barang dan memberikan rumah pak Suroso.


Tak terkecuali, pemilik terop dan perias pengantin pun juga datang. Mereka di bantu bapak-bapak mulai merubuhkan tenda dan memasukkan barang-barang ke atas pick up. Ustad Farid pun juga tidak mau tinggal diam, ia ikut membaur bersama bapak-bapak yang lain.


Sedangkan Anin dan ibu-ibu sibuk di dapur, ada yang bersih-bersih, ada yang membuat makanan untuk makan siang dan juga menyiapkannya di atas meja besar. Menu utama dari makanan yang mereka siapkan adalah bubur sumsum. Bubur sumsum menjadi menu wajib saat selesai hajatan.


Akhirnya semuanya selesai dan mereka pun istirahat sambil makan siang menu yang sudah di siapkan oleh ibu-ibu.


Kesempatan itu di manfaatkan oleh bapak-bapak untuk bisanmengenal lebih dekat dengan ustad Farid.


"Nak Farid ini aslinya dari mana?" tanya salah satu dari mereka.


"Dari Bandung pak!" jawab ustad Farid dengan sopan.


"Berarti sama dong sama asal daerahnya pak Suroso?" celetup seorang pria lagi yang baru bergabung.


"Alhamdulillah pak Suroso itu sahabat Abah saya!" jawab ustad Farid tanpa curiga.


"Yahhh kalau kayak gitu harusnya di buang dulu!" seseorang yang berdiri di dekat pintu ikut bicara membuat pria yang seumuran dengan ustad Farid terlihat penasaran.


"Maksud e di buang piye to pak lek (maksudnya di buang bagaimana sih pak lek)?"


"Di buang, Yo di buang! Maksudnya pak Suroso bukan dapat mantu tapi nemu anak Lanang (dapat anak laki-laki), soale Yen ngono di arani balik kandang (soalnya kalau begitu di sebut balik kandang)!"


"Alasane opo pak lek (alasannya apa pak lek)?" pemuda itu begitu menasaran hingga duduk mendekati pria itu.


"Mergo nak Farid Karo pak Suroso iku asale sak deso (karena nak Farid dan pak Suroso itu berasal dari satu desa)!"


"Kok itu yang di ributkan. Ada yang lebih nggak boleh lagi!" celetup orang yang baru bergabung membuat semua mata tertuju padanya.


"Antara Sunda dan Jawa kan nggak boleh harusnya!" ucapnya lagi.


Ustad Farid yang sedari tadi diam akhirnya tidak bisa menahan lagi. Bukannya ia tidak percaya dengan adat istiadat, tapi ia juga manusia modern sekaligus beragama. Patokan tertingginya Al Qur'an dan hadist, selama apa yang ia lakukan tidak melanggar larangan yang ada di dalam Al Qur'an badan hadist menurutnya sah-sah saja.


"Ya yang hati-hati aja nak Farid, kita cuma berdoa semoga tidak ada apa-apa!" ucap pria yang terlihat paling tua di sana.


"Iya bapak-bapak, terimakasih atas perhatian kalian semua, insyaallah jika niat saya dan dek Anin baik, insyaallah Allah yang akan jadi pelindung kami!" ucap ustad Farid menengahi, ia tidak ingin pembicaraan seperti ini semakin berkepanjangan, mau bagaimana pun ia tetaplah percaya bahwa perkataan adalah doa, ia hanya ingin dalam pernikahan mereka ini hanya doa-doa yang baik saja yang di panjatkan.

__ADS_1


Pak Suroso yang baru datang terlihat heran saat melihat bapak-bapak tiba-tiba diam,


"Wonten nopo Niki, kok Mendel sedanten (ada apa ini, kok diam semua)?" tanyanya heran sambil berjalan dan duduk menghampiri menantunya itu.


"Nggak pa pa pak, tadi hanya sedang membicarakan masalah adat istiadat, iya Kana bapak-bapak?" ucap ustad Farid meminta persetujuan.


"Iya, iya pak Sur!" ucap mereka hampir bersamaan.


Hari ini menjadi hari yang sibuk hingga ustad Farid tidak sempat datang ke kedai. Ia pun hanya bisa menunggu laporan dari Wahid tentang acara yang di gelar untuk pak Ruli.


Hingga menjalang magrib barulah selsia semua, ustad Farid sudah kembali rapi dengan baju Koko dan sarungnya.


Sepetinya biasa ia ke masjid bersama dengan pak Suroso. Ternyata keberadaan ustad Farid sedikit banyak membantu kyai Hasan. Semejak ada ustad Farid, kyai Hasan meminta ustad Farid untuk bergantian menjadi muazdin dan juga imam sholat.


Mereka baru kembali ba'dha isya'. Kamar yang kemarin malam begitu penuh kini sudah tampak lega, tidak ada lagi barang-barang berserakan di lantai. Anin juga sudah memasukkan kado-kado miliknyanke dalam lemari.


"Ahhhh, akhirnya!" gumamnya sambil meregangkan otot tangan dan punggungnya, "Gini kan lega!"


Brukkkk


Anin segera mebajtuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia tidur terlentang dan kedua tangan dan kaki terbuka hingga memenuhi seluruh ranjang.


Tok tok tok


Suara ketukan itu segera membuat Anin terjingkat, kali ini ia tidak sabar ingin menunjukkan kamarnya yang sudah rapi, ia pun segera turun dari tempat tidur.


"Assalamualaikum!" sapa dari luar dan ....


Ceklek


"Waalaikum salam!" Anin berdiri di depan pintu sambil tersenyum begitu manis membuat ustad Farid mengerutkan keningnya,


Dia kenapa? batin ustad Farid bingung.


"Apa ada masalah?" tanya ustad Farid kemudian.


Anin langsung merubah senyumnya jadi cemberut,

__ADS_1


"Kok masalah sih!?"


"Lalu?"


"Sini!" Anin segera menarik tangan ustadz Farid masuk ke dalam kamar membuat ustad Farid was-was.


"Surprise!" ucap Anin sambil melepaskan lengan ustad Farid dan meregangkan kedua tangannya. Hal itu kembali membuat kening ustad farid berkerut.


Apa? batinnya masih bingung, ia tidak sadar jika kamar itu sudah bersih dan rapi.


"Isstttt!" Anin begitu kesal hingga ia menurunkan kembali tangannya, "Ya sudahlah!"


Anin pun segera berbalik dan duduk di atas tempat tidur, ia meraih ponselnya yang ia lekatkan di ata meja rias, tidak ada nakas atau meja kecil di samping tempat tidur selain meja rias yang ukurannya juga tidak besar.


Kamar itu hanya mampu menampung satu lemari sedang, satu tempat tidur dan satu meja rias, lantai terbuka yang hanya mampu untuk menggelar tikar ukuran sembilan puluh centi meter.


Apa aku salah? batin ustad farid. Ia pun memilih menghampiri Abah istri, ikut duduk bersamanya.


"Maaf ya, aku salah ngomong ya!"


"Banget!" ucap Anin sambil cemberut.


"Trus aku harus gimana dong?" tanya ustad Farid bingung.


"Diam saja dan nggak usah ngomong!" ucap Anin ketus, ia pun segera beringsut naik ke ata setempat tidur dan merebahkan tubuhnya, menutup bagian kaki hingganke atas pinggang dengan selimut dan mengganjal kepalanya dengan dua bantal sekaligus.


"Ehhh mau ngapain?" Ustad farid yang hendak ikut naik ke atas tempat tidur segara ia urungkan begitu Anin meneriakinya,


"Mau tidur!" jawab ustad Farid dengan wajah bingung


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2