Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 95


__ADS_3

"Luruskan kaki dek Anin." ucap ustad Farid, saat ini perut Anin sudah tampak lebih berisi. Gerak Anin pun juga mulai terbatas, ia juga kerap mengeluhkan pinggang sakit dan nyeri pada kakinya jika terlalu lama. berdiri atau berjalan.


"Mas Farid juga capek, hari ini nggak usah di pijat mas." tolak Anin dengan cepat, ia tahu suaminya sudah begitu keras bekerja seharian, meskipun begitu ia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai pengajar dan seorang suami yang siaga.


Ustad Farid pun tetep kekeh menarik kaki Anin agar berada di atas pangkuannya,


"Nggak pa pa dek, mas kan cuma menjadi pengawas sekarang." ucapnya lembut, memang benar seiring berjalannya waktu, meskipun masih memiliki dua karyawan tapi cukup untuk meringankan pekerjaannya.


Di tempat produksi kripik Anin juga sudah banyak karyawan yang semuanya tetangga-tetangga dekat Anin yang sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga, meskipun tidak banyak gaji yang di berikan oleh Anin tapi setidaknya bisa membantu perekonomian keluarga. Sedikit demi sedikit, cap perawan tua, cap buat apa wanita sekolah tinggi yang ujungnya hanya macak, manak dan masak mulai tergeser.


Meskipun bukan untuk mensejajarkan posisi wanita di dalam rumah tangga, tapi wanita cukup mulia untuk menentukan impiannya dengan batasan atas ijin suami.


Dengan kegigihan Anin, ia mampu mewujudkan jati dirinya sebagai seorang wanita yang bisa takdim terhadap suami tapi masih tetap bisa berkarya.


"Tapi mas itu dari madrasah, trus ke toko, trus balik lagi ke gudang, pemotretan, bikin konten dan masih harus ngurus produksi kripiknya Anin. Malamnya masih ke Diniyah. Trus sekarang_," belum sampai Anin menyelesaikan ucapannya, ustad Farid sudah lebih dulu menempelkan telunjuknya ke bibir Anin.


"Itu sudah tugas mas dek, Allah kasih tubuh sehat memang buat menyeimbangkan antara ibadah untuk akhirnya dan ibadah di dunia. Dan malam ini baru ibadah dunia akhirat. Membahagiakan istri dan membangun rumah di surga dengan bidadari mas yang sangat cantik ini."


"Aamiin."


"Jadi jangan halangi mas buat pijit kakinya. Jangan buat mas berdosa karena telah mengabaikan tugas mas sebagai seorang suami. Mengerti!"


Anin pun akhrinya menyerah, ia membiarkan kakinya di atas pangkuan sang suami, ia juga sudah merebahkan tubuhnya menyanggah tubuhnya dengan bantal yang nyaman.


Ini sudah menjadi kebiasaan ustad Farid, sebelum tidur semejak Anin hamil ustad farid selalu menyempatkan untuk memijat kaki Anin hingga Anin terlelap.


***


Rupanya berita kehamilan Anin sampai juga di telinga David, ia begitu kesal dan iri melihat kebahagiaan ustad Farid dan anin, ia masih berharap Anin lah yang akan menjadi pendamping hidupnya bagaimanapun caranya.


"Sial, aku harus bisa menghancurkan kebahagiaan mereka." umpatnya kesal saat melihat Anin dan ustadz Farid yang baru saja keluar dari klinik kehamilan.


David pun menghubungi seseorang yang selalu bisa ia manfaatkan,


"Kita ketemu sekarang di tempat biasa." ucapnya setelah berada pipih itu menempel di telinganya.


Setelah selesai bicara, ia mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


"Jalan!" perintahnya pada pria yang tengah duduk di balik kemudi mobil mewah berwarna hitam legam itu.


Sebuah taman menjadi tempat pertemuan mereka.


"Ada apa nak David memanggil saya? Bukankan urusan kita sudah selesai?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah cemas, bahkan tangannya terlihat gemetar sambil memilin ujung bajunya yang lusuh, sepertinya karena terlalu gugup ia sampai tidak mengganti bajunya terlebih dulu. Daster motif bunga berwarna ungu dengan warna yang sudah memudar di beberapa bagian.

__ADS_1


David memandangnya sinis, bahkan matanya begitu menakutkan, tak ada senyum yang keluar dari bibirnya,


"Kamu pikir rumah sekecil itu bisa melunasi hutang kamu dan akan kamu? Enak sekali."


"Tapi nak David, mama nak David sudah setuju untuk menganggap lunas,"


"Itu mama saya, bukan saya. Jadi jika tidak ingin rumah anak kamu juga kami sita, sebaiknya ikuti perintah saya kalau tidak kembalikan uang lima puluh juta ke sana atau rumah anak kamu aku sita juga."


"Jangan nak david. Aku uang sebanyak itu dari mana, sekarang aku sudah tidak kerja."


"Itu urusan kamu. Saya akan menganggapnya lunas asal kamu melakukan satu pekerjaan untuk saya."


"Apa?"


"Ini dan berikan pada anin." ucap David sambil menyerahkan sebotol kaca kecil yang di dalamnya berisi serbuk.


"Ini apa?" tangan wanita paruh baya itu semakin bergetar.


"Jangan khawatir seperti itu, itu hanya penggugur kandungan. Tidak akan membuat Anin mati."


***


Budhe pulang dengan wajah pucat, kedatangannya langsung di sambut oleh ibunya anin.


"Kan empat bulanannya sudah di sini, jadi Anin dan Farid minta tujuh bulanannya di sana, tadi bapak sudah menyiapkan semuanya. Lusa acara tujuh bulanan selain genduri seperti biasa, Farid akan mengundang anak yatin, jadi kita menginap di sana dua hari ya."


Seharusnya ini berita bagus, ia mendapatkan kesempatan tapi nyatanya tidak begitu. Budhe malah semakin khawatir. Ia tidak menyangka. David akan segila ini karena mencintai Anin.


Hari yang di tunggu pun tiba, semua keluarga sudah berkumpul di rumah baru ustad Farid dan Anin, setelah genduri seperti biasa, di depan ustad Farid tengah mengisi pengajian untuk anak yatim dan beberapa undangan.


Sedangkan Anin, karena perutnya besar ibunya meminta Anin untuk duduk saja.


Setelah acara selesai, bapak-bapak biasa lanjut ngobrol.


"Mbak, Anin minta dawet. Minta tolong ya mbak kasih ke Anin. Aku mau mencuci piring dulu di belakang sama Novi, kasihan dia sendiri."


Ini kesempatan bagus bagi budhe, "Iya, taruh saja di situ."


Sebenarnya, walaupun ia tidak setuju dengan pernikahan Anin. Sama ustad Farid tapi ia tetap saja sama anin dan bayinya. Tapi karena budhe Anin terlanjur terlilit hutang dengan keluarga David, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti.


"Budhe, budhe bawa apa? Dawet ya?" tanya Anin seperti biasa, ia memang suka banyak bertanya. Meskipun sikap budhe kerap judes, Anin tetap bersikap biasa saja hal itulah yang membuat budhe sayang, lebih sayang dari pada sayangnya pada Novi ataupun keponakannya yang lain.


Budhe pun mendekat, "Iya,"

__ADS_1


Anin pun segera mengambil dari tangan budhe, ia benar-benar tidak sabar untuk meminumnya, membayangkan kuah santan dan dawet yang langsung lumer di mulut sudah berhasil membuat tenggorokannya berkali-kali menelan saliva.


Tapi tepat saat gelas itu menempel di mulut Anin, dengan cepat budhe menumpahkannya ke lantai membuat Anin begitu terkejut.


Beruntung gelas itu berbahan plastik hingga tidak menimbulkan keributan.


"Ada apa budhe, kenapa di buang?"


Tiba-tiba budhe menangis membuat Anin semakin bingung, beruntung kerabat yang lain sudah pulang sehingga rumah sudah sepi.


"Maafkan budhe, Nin. Budhe ini benar-benar tidak tahu diri. Kamu sudah baik sama budhe tapi budhe selalu cari gara-gara sama kamu." ucap budhe sambil berlutut di depan anin.


"Budhe, bangun budhe. Ini sebenarnya ada apa?"


Budhe pun akhrinya menceritakan semuanya pada Anin,


"Astaghfirullah hal azim, tega sekali mas Dapid."


"Maafin budhe ya."


"Sudah nggak pa pa budhe, asal budhe sudah menyadari kesalahan budhe, itu jauh lebih baik. Yang terpenting sekarang Anin tidak pa pa, budhe."


"Bangunlah budhe, jangan sampai ibuk atau bapak lihat apalagi mas Parid."


Akhrinya budhe pun menuruti permintaan Anin, tepat saat budhe duduk tiba-tiba ibu masuk.


"Loh itu kenapa dawetnya?" tanya ibuk.


"Itu buk, dawetnya tumpah tadi. Tapi pas Anin mau beresin sama budhe nggak boleh."


"Ya sudah biar Novi aja.yanh beresin, Kamu duduk saja."


Ternyata sedari tadi ustad Farid mendengar percakapan Anin dengan budhe. Ia sengaja masuk ke rumah karena ingin mencari sapu tapi langkahnya harus terhenti saat mendengar keributan,


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2