
Wahid sudah duduk santai di dalam rumah, menunggu ustad Farid yang masih di kamar mandi.
Ia begitu penasaran pada pria itu hingga ia terus menatap ke arah pintu, berharap pintu itu segera di buka.
Ceklek
Mendengar pintu di buka, Wahid segera menghampiri pria yang menggantikan handuknya di bahu,
Melihat tinggal Wahid, ustad Farid mengerutkan keningnya,
Nih anak kenapa lagi? batinnya sambil menatap balik Wahid yang tengah mengamagi dirinya,
"Ada apa sih Hid?" tanyanya kemudian sambil berlalu dari hadapan wahid.
Wahid tidak menyerah, ia segera mengekori langkah ustad Farid yang tengah menggantung handuk di hanger yang ada di tempat gantung pakaian.
"Ustad,"
"Hmmm!" ustad Farid menjawab tanpa menoleh ke belakang, ia melanjutkan kegiatannya merapikan rambutnya yang masih basah.
"Ustad," panggil Wahid lagi dan kali ini ustad Farid menghentikan kegiatannya, menggantungkan sisir di atas kepala,
"Apa?"
"Tadi kemana ustad?" tanya wahid.
"Belanja!"
"Belanja aja?" Wahid begitu penasaran, "Emang muter-muter nya lama ya ustad? Biasanya belanja nggak Sampek dua jam ini hampir lima jam, Sampek ba'dha isya' malah!"
Ustad fatdi segera menurunkan sisirnya, ia berniat untuk memberitahu Wahid tentang apa yang terjadi hari ini,
Ahhh enggak ah, besok aja. Wahid kan agak ember ...., batin ustad Farid mengurungkan niatnya.
"Cari timun!" ucap ustad Farid, memang benar tujuan utamanya cari timun, tapi ia sengaja tidak memberitahu selengkapnya.
"Di mana?"
Ustad Farid mengerutkan keningnya, "Lama-lama kamu kayak wartawan aja Hid!"
Ustad Farid meletakkan sisirnya di pembatas jendela karena tidak ada meja rias di sana, yang ada hanya sebuah cermin seukuran 60 × 30 cm yang tergantung di dinding dekat jendela.
__ADS_1
Ia segera pergi ke tempat tidur dan duduk bersila di sana, Wahid pun melakukan hal yang sama dan mereka duduk berhadapan.
"Serius cuma itu ustad?"
"Iya, besok deh aku kasih tahu! Aku tidur dulu, kalau kamu mau main hp, jangan berisik!" ucap ustad farid sambil merebahkan tubuhnya danenutup tubuhnya dengan sarung yang tadi terlipat di atas bantal.
Seperempat jam kemudian, bukan Wahid yang sibuk main hp. Tapi nyatanya ustad Farid malah terlihat begitu asyik dengan hp nya.
"Jadi ketagihan sendiri kan sekarang main hp, Sampek senyum-senyum gitu!" gumam Wahid pelan.
***
Di Bandung
Setelah acara telponan dengan calon besan selesai, Pak Dadang bersiap mendatangi kyai Syam untuk mengajaknya ke jawa.
"Ibuk kasih tahu anak-anak yang lain dulu ya, abah mau cepet-cepet! Kyai Syam kan orangnya sibuk, ini Pumpung tadi siang abah lihat beliau baru pulang, takutnya pergi lagi!"
"Iya bah, Ambu juga mau ngambil uang hasil jual jagung kemarin biar bisa buat tambah-tambah seserahan nanti!"
Setelah memutuskan tujuannya masing-masing, mereka pun berpisah.
Sesampai di pesantren, pak Dadang langsung menuju ke rumah kyai Syam.
"Assalamualaikum kyai!"
Kebetulan sekali, kyai Syam tengah duduk santai di depan tv sambil menikmati kopinya, mendengar salam dari depan, kyai Syam segera bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang.
"Waalaikum salam, pak Dadang. Mari masuk, masuk!" kyai Syam begitu hangat menyambut kedatangan pak Dadang, ia segera menyambut pak Dadang yang masih berdiri di depan pintu.
Mereka pun duduk bersama di ruang tamu, melihat ada tamu. Ummi pun meminta mbok untuk membuatkan satu lagi kopi dan beliau menemani sang suami.
"Sungguh saya minta maaf pak Dadang, karena meminta ustad Farid tinggal di Jawa tanpa meminta ijin dulu sama pak Dadang!" ucap kyai Syam terlebih dulu memulai pembicaraan.
"Nggak pa pa kyai, sungguh saya malah senang. Insyaallah lantaran kyai meminta Farid tinggal di sana, dia ketemu jodohnya!" ucap pak Dadang dengan senyum ramahnya membuat kyai sama dan sang istri saling bertemu pandang.
Kemudian kyai Syam kembali menatap ke arah pak Dadang,
"Maksud pak Dadang gimana ini?"
Pak Dadang pun segera menceritakan semuanya pada kyai Syam dan sang istri.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu, kami juga ikut senang. Lalu bagaimana rencananya?"
"Kalau kyai Syam tidak keberatan, kyai Syam dan Bu Nyai bisa ikut kami ke Jawa!"
"Sungguh sama sekali tidak keberatan pak, kapan rencananya?"
"Saya pikir lebih cepat lebih baik kyai. Saya dan istri rencananya besok berangkat!"
"Oh begitu. Naik apa pak?"
"Bus, kyai!"
"Jangan!" ucap kyai dengan cepat membuat pak Dadang mengerutkan keningnya.
"Maksud saya, kita naik pesawat saja biar cepat pak Dadang!"
"Tapi kyai_!" tentu pesawat butuh biaya yang lebih besar untuk ke sana.
"Maaf pak Dadang bukannya lancang atau bagaimana, kita ke jawa nanti naik pesawat saja biar lebih cepat. Untuk biaya, jangan khawatirkan itu. Kami sudah menganggap ustad Farid seperti anak kami sendiri. Jadi biarkan kami juga ikut merasakan kebahagiaan itu! Kami dulu sudah tidak bisa datang di acara pernikahan Zaki dan kami sungguh senang jika bisa ikut menghadiri pernikahan Farid!"
Mendengar perkataan kyai Syam membuat pak Dadang begitu terharu,
"Entah bagaimana lagi dan dengan cara apa saya berterimakasih pada kyai dan keluarga. Keluarga kami yang hanya keluarga rendah bisa duduk berdampingan dengan kyai!"
"Tidak pak Dadang, semua orang sama di mata Allah. Hanya amal dan keimanannya yang membedakan, jadi jangan berkecil hati seperti itu! Insyaallah nanti kita juga di pertemukan lagi di surganya!"
"Aamiin!"
"Baiklah pak Dadang, saya akan memesan tiket pesawat untuk besok. Karena saya dan istri tidak bisa lama di jawab, tiga hari lagi harus kembali ke sini, bagaimana kalau ijab Qabul nya lebih di percepat lagi?"
"Baik kyai, nanti saya bicarakan lagi dengan Suroso!"
Kyai Syam mengeryitkan keningnya, "Siapa Suroso?"
"Maaf kyai, saya belum cerita ya. Jadi ...!" pak Dadang pun menceritakan tentang pak Suroso.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...