Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 76


__ADS_3

...**Aku ingin cinta yang akan berkata: " Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insya Allah...


...🌺🌺🌺**...


"Kenalkan, ini mbak Anin. Istrinya ustad Farid." ucap Zahra membuat Nur terdiam sesaat.


"Cantik ya!" ucap Nur dengan senyum yang sulit diartikan.


"Mbak Anin juga." ucap Nur sambil menggengam tangan Zahra. "Sama siapa mbak kesininya? Sama ustad Farid saja?" tanya Nur lagi kemudian untuk mencarikan suasana.


"Iya, Sebenarnya ingin ngajak mas Wahid tapi ternyata mas Wahidnya sudah mulai masuk kuliahnya, sudah mulai ngurus-ngurus administrasi di kampus katanya."


"Ohhhh, mbak Anin sudah lulus?" tanya Nur lagi, terlihat tubuh dan wajah Anin seumuran dengan mereka.


"Alhamdulillah saya sudah lulus satu tahun yang lalu."


"Masyaallah mbak Anin terlihat seumuran sama kita, iya kan Jah?" ungkap Nur dengan penuh kekaguman pada Anin. Ia juga meminta persetujuan dari Zahra.


"Iya Nur, bener!"


Anin memang memiliki postur tubuh yang mungil jadi tidak heran jika mereka mengira Anin masih seumuran walaupun memang jarak usia mereka juga tidak terlalu jauh.


"Assalamualaikum."


Lagi-lagi salam itu menghentikan obrolan mereka.


"Waalaikum salam," jawab mereka serentak. Ternyata itu ustad Zaki dan ustad Farid.


"Nur, sudah lama?" tanya ustad Zaki menyapa Nur setelah menghampiri sang istri dan mengecup keningnya sedangkan ustad Farid malah terlihat canggung.


"Sudah, ustad. Lumayan!" jawab Nur sambil tersenyum ramah seperti biasanya.


"Kayaknya sudah sore, aku pamit pulang dulu ya. Nggak enak sama bapak sama ibuk kalau lama-lama perginya." pamit Nur Bahkan sebelum ustad Zaki dan ustad Farid duduk.


"Yahhh, kok kesusu sihh." keluh Zahra.


"Insyaallah besok kesini lagi." ucap Nur dan kemudian berdiri,


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab semuanya serentak.


Tapi kini fokus Anin malah pada ustad Farid yang tampak begitu canggung saat bertemu dengan Nur.

__ADS_1


Ada apa dengan mereka ..., batin Anin.


"Dek, aku bawakan oleh-oleh. nih!" ucap ustad farid membuat Anin terbangun dari lamunannya.


"Ya Allah , makasih ya mas." jawab Anin sambil mengambik kantong kreseknya tanpa bertanya apa isinya atau membukanya.


"Ya sudah mas sama Zaki ke masjid dulu ya, kalian nggak pa pa kan berdua saja?" tanya ustad Farid lagi, sebentar lagi masuk waktu ashar .


"Iya nggak pa pa." ucap Anin.


Ustad Zaki pun berpamitan pada Zahra dengan mengulurkan tangan siap untuk di kecup punggung tangannya serta meninggalkan kecupan di kening Zahra.


Ohhhh, harus seperti itu ya. batin Anin, ia pun mendekati ustad Farid dan melakuka. persis seperti yang dilakukan oleh Zahra.


Hal itu tentu berhasil membuat ustad Farid tertegun, biasanya Anin memang bersalaman tapi tidak pernah sesemangat ini sampai bagian telapannya juga di cium.


Tapi Anin tidak cepat mengangkat kepalanya, ia tengah menunggu sesuatu,


"Dek, ini nggak di lepas?" tanya ustad Farid membuat Anin mendengus kesal.


Issttttt, nggak faham banget sih. keluhnya dalam hati. Anin pun terpaksa mengangkat kepalanya.


"Mas, ini!" ucap Anin sambil menunjuk keningnya sendiri membuat ustad farid mengerutkan keningnya.


Zahra dan ustad Zaki yang ternyata tengah memperhatikan mereka pun jadi tidak bisa menahan senyum.


"Ihhh ustad Parid nggak peka banget." zahra jadi ikut bicara.


"Ohhh," baru saja ustad Farid hendak kembali menatap Anin, ternyata Anin lebih gesit.


Cup


Sebuah kecupan lebih dulu mendarat di pipi ustad Farid.


"Kali ini biar Anin dulu deh, nggak pa pa." ucap Anin setelah kembalk menjauhkan tubuhnya sambil tersenyum.


"Assalamualaikum,," ucapnya lagi sambil melambaikan tangannya sedangkan Ustad Farid masih memegangi pipinya yang bersemu merah.


"Waalaikum salam, jawab ustad Farid dan langsung di tarik tangannya oleh ustad Zaki.


"Kalau begini bisa gagal pergi ke masjidnya." ucap ustad Zaki sambil mengajak ustad Farid keluar rumah.


Setelah kepergian ustad Zaki dan ustad Farid, Anin dan Zahra pun masuk. Zahra juga menunjukkan kamar untuknya dan ustad farid.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Zahra Anin memutuskan untuk sholat berjamaah di rumah.


Sambil menunggu ustad farid dan ustad Zaki pulang, Anin pun akhirnya membantu bibi memasak sedangkan Zahra, ia hanya menjadi penonton.


Sebenarnya bukan membantu, lebih tepatnya Anin hanya banyak bertanya.


Hingga ba'dha isya' ternyata dua ustad belum pulang, kebetulan ada acara di masjid membuat mereka pulang terlambat. Akhrinya Zahra dan Anin memutuskan untuk makan malam berdua saja setelah sholat isya'.


"Mbak Anin suka masak?" tanya Zahra sambil menyantap makanannya.


"He, suka. Tapi suka makannya saja."


"Sama dong!"


"Jadi dek zahar juga nggak suka masak?"


"Suka sih mbak, tapi nggak bisa. Dari pada dapur ancur gara-gara Zahra, mas ustad milih nggak nyuruh Zahra masak."


"Enak ya jadi dek Zahra."


"Ya begitu deh kalau nikah sama pria dewasa, ngemong banget pokoknya. Mbak Anin bukannya juga gitu?"


"Belum tahu sih dek, kami baru pindah rumah kemarin, selama beberapa hari menikah, kami cuma makan masakannya ibuk ku."


"Ohhh, tapi kayaknya ustad Farid juga nggak suka nuntut."


"Iya sih!" jawab Anin datar seperti tengah memikirkan sesuatu,


"Oh iya dek, Nur sama mas Farid sudah pernah ketemu sebelumnya?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Zahra berhenti mengunyah makanannya.


"Kenapa mbak Anin tanya gitu?"


Spesial visual ustad Farid & Anin



Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2