Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 73


__ADS_3

Akhirnya hari itu tiba, Anin dan ustad Farid sudah berada di alam mobil pick up denganbysrad farid sendiri yang mengemudikan.


"Hafal banget sama jalan di sini, jangan-jangan mas Parid udah lama ya di sini?" tanya Anin heran, pasalnya sang suami sama sekali tidak terlihat bingung.


"Baru dua kali dek!"


"Hahh serius?" tanya Anin sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah ustad Farid.


Melihat Anin yang berkedip dengan cepat di depan wajahnya, membuat ustad Farid merasa grogi.


Ya Allah, dek Anin apa-apaan sih dia sengaja menggodaku kayaknya ...., batin ustad Farid dengan nafas yang tertahan.


"Dek, bisa kembali ke tempatnya nggak? Aku_ harus konsentrasi kan sekarang!" ucap ustad Farid dengan gugup dan hal itu membuat Anin tersenyum, ia pun kembali ke posisi duduknya.


"Hehhhhh ...., padahal aku sudah puluhan kali pulang pergi dari Tulungagung ke Blitar, tapi masih juga kesasar," gumam Anin dan berhasil membuat ustad Farid tersenyum.


"Kenapa bisa kesasar?" tanya ustad farid kemudian.


"Masalahnya aku nggak bisa baca google map. Maaf Parid kan juga tahu." Anin jadi teringat bagaimana pertama kali mereka bertemu saat mencari rumah Ayu. Karena tidak berani mengatakan kalau dia tidak bisa membaca google map membuat mereka hanya muter-muter di jalan yang sama.


"Lain kali kalau nggak tahu, nggak usah pakek google map dek!"


"Trus pakek apa dong?"


"Pakek petunjuk dari Allah."


"Caranya?"


"Sholat istikharah aja dulu dek," ucap ustad Farid dengan di selingi senyum membuat Anin tahu jika kali ini sang suami tengah becanda.


Akhirnya satu jam berlalu dan mereka pun sudah hampir sampai, tapi ustad Farid malah terus muter-muter di sekitar pasar dan taman dimana banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan.


Hal itu berhasil membuat Anin keheranannya,


Itu kan bapak yang tadi, aku yakin sama kumisnya ..., batin Anin sambil melihat pada bapak bertubuh tambung dengan kumis tebal yang tengah sibuk memanggang roti.


"Berhenti, berhenti!?" perintah Anin membuat ustad Farid menghentikan mobilnya mendadak dan meminggirkannya.


"Ada apa dek? Dek Anin kebelet ya?" tanya ustad Farid.


"Mas Parid, lagi eror ya mapnya?" tanya Anin kemudian, seingatnya meskipun tidak yakin tapi mereka sudah memutari tempat itu hingga tiga kali.


"Nggak gitu deh, mas lagi nyari oleh-oleh. Nggak enak kan kalau datang dengan tangan kosong."


"Oh oleh-oleh! Memang mau cari oleh-oleh apa sih?"

__ADS_1


"Sebenarnya mas cari martabak!" ucap ustad Farid dan berhasil membuat Anin menghela nafas.


"Jadi sedari tadi kita muter-muter kayak kitiran cuma mau beli martabak?"


"Nggak Sampek kayak kitiran dek!" protes ustad Farid.


"Kayak ban!" ucap Anin kesal, pasalnya badannya sudah capek semua karena terlalu lama muter-muter. "Itu martabak masssss!" ucap Anin lagi sambil menunjuk ke arah bapak berkumis tebal yang tengah memanggang roti bakar.


"Maksud mas bukan martabak telur dek."


"Terussss?"


"Martabak manis!"


"Kayaknya kita mesti turun deh mas!" ucap Anin dan ustad Farid pun menurutinya.


Mereka mendekat ke arah penjual martabak telur,


"Wes Saiki woconen mas (sudah sekarang baca mas)!" pinta Anin pada ustad Farid.


"Terang bulan dan martabak telur!" ucap ustad Farid membaca tulisan yang ada di gerobak.


"Wi guuuueeediiii mas tulisane (itu bueeesaaarrrrr mas tulisannya )!"


"Iyo mas (iya mas )!"


"Itu terang bulan dek, bukan martabak manis!"


"Podo wae massssss (sama aja masssss ), sampean goleki (kamu mencari) martabak manis dari ujung barat sampai ujung timur Blitar, seribu satu kalau ketemu, mas!"


"Maksudnya?"


"Yo Iki mas seng di arani martabak manis Yo terang bulan (ya ini mas yang di maksud martabak manis itu ya terang bulan)!"


"Ohhh gitu ya!?" ucap ustad Farid dengan polosnya.


Hehhhh ....


Akhrinya Anin menghela nafas lega dan mereka pun memesan beberapa porsi martabak manis dengan berbagai toping.


***


Ustad Farid menoleh pada kursi di sampingnya, setelah cerewetan sang istri tiba-tiba terasa hening tidak ada suara lagi ternyata wanita itu tengah tertidur pulas.


"Bagaimana ini?" ucapnya bingung. Ia ingin membangunkannya tapi tidak tega, tapi jika tidak di bangunkan ia juga tidak tega membiarkan istrinya sendiri di dalam mobil.

__ADS_1


Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkannya saja.


"Dek, dek!" dengan lembut dan tepukan halus di bahu Anin, ia mencoba membangunkannya.


"Dek bangun dek, sudah sampai."


Bahkan sampai ustad Farid mengeraskan tepukannya, Anin masih pulas, sepertinya ia benar-benar capek.


"Nggak bangun juga!" gumamnya.


"Apa aku bopong aja ya ke dalam." gumamnya. Ustad Farid pun memutuskan untuk turun terlebih dulu dari mobil dan berlari memutari depan mobil, membuka pintu samping Anin.


"Bismillahirrahmanirrahim!" ucapnya pelan dengan perlahan menyusupkan tangannya di bawah paha Anin,


"Ini nggak dosa kan!?" gumamnya lagi memastikan.


Srekkkk


Akhrinya ustad Farid dengan mantap mengangkat tubuh Anin,


Dug


Karena terlalu bersemangat dan kurang perhitungan tanpa sengaja kepala Anin malah terbentur pinggiran pintu mobil.


"Aughhhh, aughhhh!" keluh Anin membuat ustad Fatid terkejut dan hampir saja menjatuhkan tubuh Anin, beruntung dengan cepat ustad Farid mendekapnya agar tidak terjatuh ke tahan membuat Anin semakin terpaku.


"Maaf dek, mas tidak sengaja tadi. Sakit nggak?" tanya ustad Farid begitu berhasil menurunkan Anin.


Anin hanya menggelengkan kepalanya karena begitu terkejut.


"Dek, serius nggak pa pa?" tanya ustad Farid memastikan dan Anin kembali hanya mengangguk.


"Coba bicara dek!" perintah ustad Farid, ini bukan kebiasaan Anin. Jika Anin tiba-tiba pendiam itu malah terlihat aneh. " Dek Anin nggak kehilangan suaranya kan gara-gara kejedot pintu?"


"Yo ora lah mas, mas Parid nih ada-ada ae!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2