Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 37


__ADS_3

Anin terlihat bangun kesiangan hari ini, bahkan matahari sudah tinggi ia baru bangun, dengan cepat ia berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan mengkhodo' sholat subuhnya.


"Buk, Nopi mpun budal to (sudah berangkat ya)?" tanyanya pada sang ibu yang tenang sibuk di dapur.


"Yo uwes lah Nin, untung kakangmu teko dadi iso ngetetne adimu (Ya sudah lah Nin, untung kakak kamu datang jadi bisa mengantarkan adik kamu)!"


"Ohhh!" jawab Anin dengan begitu singkat membuat ibuknya menghentikan kegiatannya,


"Kok mek ohhh (kok hanya ohhh)?"


"La trus Anin kudu piye to buk (Anin harus bagaimana sih buk)?"


"Awakmu Ki cah prawan, mosok jam Pitu lagek tangi. Isin Karo piket, yahene wes ceker golek pangan, ngewang-ngewangi penggaeani ibuk kan yo ndang cepet rampung (Kamu itu anak gadis, masak jam tujuh masih bangun. Malu sama ayam, jam segini sudah cari makan, bantu-bantu pekerjaan ibuk kan ya cepat selesai)!" keluh sang ibu panjang lebar.


"Ya Allah buk, Anin kan bangun kesiangan Yo baru hari ini. Lagian Anin bangun kesiangan ada sebabnya!"


"Dolanan hp (mainan hp)?" tanya ibu dan Anin hanya menundukkan kepalanya sambil memotong kacang asal.


Ternyata perdebatan mereka di dengar oleh bapak yang tengah meraut babu di halaman belakang.


Ia pun segera berdiri dan menghampiri anak serta istrinya itu,


"Kopinya pak!" ucap ibuk saat melihat sang suami duduk di depan putrinya.


"Iyo buk!"


Pak Suroso pun segara meneguk kopi buatan istrinya yang bahkan asapnya pun sudah menghilang dari cangkir.

__ADS_1


"Gek piye to buk, banyune panas entek to (Gimana sih buk, air panasnya habis ya)?" tanyanya saat merasakan kopinya sudah dingin.


"Ya Allah pak, sampean Ki wes tak celok kat mau, Ra sampean paran-parani wedang e, la kok nyalahin ibuk (Ya Allah pak, kamu (dengan bahasa halus) sudah saya panggil dari tadi, tidak kamu datang-datang i kopinya, la kok menyahkan ibuk)!"


Mendengar Omelan dari sang istri pak Suroso malah tersenyum,


"Guyon buk, ngono ae wes nesu. (becanda buk, gitu saja sudah marah)!"


Ibuk hanya melengos sambil memasukkan kayu ke dalam mulut tungku, tampak di atas tunggu teronggok sebuah panci yang bagian luarnya mengitam karena asap dari tungku.


Pak Suroso pun kembali menatap Anin yang tampak senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya, sepertinya saling kirim pesanh itu berlanjut hingga pagi ini.


"nduk,"


Panggilan itu berhasil mengalihkan perhatian Anin dari ponsel yang ada di tangannya,


"Jadi ustad Farid itu ya yang mau kamu kenalin sama bapak?" tanya pak Suroso dengan wajah serius, awalnya ibuknya pun ingin ikut mendengarkan tapi ia urungkan, ia lebih memilih pura-pura sibuk sambil mencuri dengan pembicaraan bapak dan anak itu.


"iya pak! Menurut bapak bagaimana?" walaupun sebenarnya Anin tidak yakin jika ustad farid mau menerima lamarannya, tapi setidaknya ia jadi punya waktu untuk menunda keputusan bapaknya untuk menikahkannya dengan David, pria pilihan budhenya.


"Ya kalau gitu bapak nggak mungkin nolak, anaknya sopan, sholeh, ngerti agama juga!"


"Serius pak?" tanya Anin, walaupun ia senang tapi ia juga tengah di Landa kebingungan. Ia harus bisa meyakinkan ustad Farid bahwa ia serius dengan ucapannya.


"Yo iya, kenapa nggak bilang dari dulu, bapak kan ya nggak perlu repot-repot minta budhe kamu buat nyariin jodoh! Lagi pula kalau sama David, bapak juga kurang setuju."


"Memang kenapa pak kalau mas Dapid?"

__ADS_1


"Dia terlalu kaya buat keluarga kita yang cuma petani biasa, bapak malah takut!"


"Ohhh!"


Baguslah ...., batin Anin.


"Kapan rencananya ustad Farid kesini lagi?" tanya bapak lagi membuat Anin hampir tersedak Salivanya sendiri.


"Kok malah kaget gitu?"


"Nggak gitu pak, maksud Anin, Anin belum nemu waktu yang pas pak! udah ya pak interogasinya, anin mau keliling dulu!" ucap Anin dengan buru-buru meninggalkan bapaknya.


"Anak itu kalau di ajak ngomong bapaknya suka kabur-kaburan!" gerutu bapak yang kembali meneguk kopinya yang sudah hampir habis.


"Yo plek ketiplek bapaknya!" ibuk menyahut ucapan bapaknya sambil sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.


"Ibuk dari tadi jadi ikut mendengarkan to?"


"Nggak sengaja pak!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2