Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 30


__ADS_3

Anin kembali masuk tapi sesekali ia mencari sosok yang tengah ia ingin lihat sebelum kembali pada David,


Dan benar saja ia melihat pria itu di meja sebelah, tidak begitu jauh dari mejanya hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaan ustad Farid.


Ternyata tidak hanya Anin, tapi rupanya ustad Farid begitu terkejut melihat keberadaan Anin di tempat yang sama dengannya.


Dia kenapa ada di mana-mana? batin ustad Farid, kemudian tatapannya tertuju pada tas yang ada di atas meja yang tadi sempat ia lihat,


Ohh pantes kayak familiar ...


Rupanya Anin menyadari kalau ustad Farid tengah memperhatikannya tapi saat ia menoleh ustad farid memilih segera mengindar dan pura-pura fokus dengan pria yang tengah bicara di depannya.


Dasar, jual mahal banget sih ustad. Apa emang gitu ya semua ustad? batin Anin kesal, ia pun kembali fokus pada pria di depannya.


"Maaf lama!" ucapnya, meskipun meminta maaf tapi ia menggunakan nada judesnya.


"Memang begitu cara orang minta maaf?" tanya David membuat Anin mendengus kesal.


"Sudah bagus aku mau minta maaf!" ucap Anin tidak mau kalah.


"Mau makan apa sekarang?" tanya David, ia menyerah dari pada berdebat dengan Anin.


"Sudah boleh makan?" tanya Anin bersemangat, Anin kembali melihat jam dan belum jam delapan tepat.


"Hmmm!" jawab David sambil mengangukkan kepalanya.


"Gitu kek dari tadi, kalau semua orang kota kaya mas Dapid, makan pakek jam, nggak kelar-kelar urusan perut!" cerocos Anin , bukannya membalasnya David memilih menutup wajah Anin dengan buku menu hingga membuat Anin diam.


"Pilih makanan sesukamu!" perintah David, ia memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dasar!?" keluh Anin, ia pun mengambil buku menu dan mulai memilih makanan, tapi sembari memilih menu, Anin melirik Wahid yang tengah berjalan di sampingnya.


Rupanya Wahid juga melakukan hal yang sama, Wahid begitu penasaran dengan pria yang di maksud Anin.


Setelah saling lirik dan melihat ke arah David sejenak, Wahid segera berlalu dan duduk di samping ustad Farid,

__ADS_1


"Maaf ustad lama," ucap Wahid pada ustad Farid, ia juga tersenyum pada dua pria yang tengah berbincang dengan ustad Farid.


"Nggak pa pa!" jawab ustad farid dan mempersilahkan "Oh iya pak, mas! kenalkan ini teman saya, namanya Wahid!" ustad Farid memperkenalkan Wahid di depan kedua lawan bicaranya.


"Salam kenal mas Wahid! Saya Umar dan ini menantu saya yang mau nikah sama anak saya."


"Salam kenal juga pak Umar dan mas Rully!"


Akhrirnya mereka pun melanjutkan pembicaraan yang tertunda, tapi segera saat kedua kliennya sibuk dengan beberapa daftar menu yang akan di pilih dalam acara nanti, Wahid pun berbisik pada ustad Farid.


"Ustad,"


"Apa?"


"Sini!". Wahid meminta ustad Farid agar sedikit mendekat agar perbincangan mereka tidak sampai di dengan oleh kedua orang di depan mereka.


Ustad farid pun melakukan seperti apa yang diminta Wahid dan Wahid pun membisikkan persis apa yang di katakan oleh Anin di telinga ustad Farid.


Ustad Farid pun reflek menghadap ke arah Anin yang tengah bersama David.


Apalagi saat melihat tangan David beberapa kali hendak meraih tangan Anin, hal itu berhasil membuat ustad Farid geram.


Ustad Farid seperti semakin menajamkan telinganya agar bisa mendengarkan obrolan antara Anin dan David.


"Anin, bisa kan kita menikah besok?" ajak David membuat ustad Farid menggelengkan kepalanya tidak percaya, percaya atau tidak kini ustad Farid malah lebih fokus dengan obrolan Anin dan David dibandingkan dengan kliennya.


"Maksa banget sih, ada apa? Aku kok jadi curiga sih sama mas Dapid, kayaknya ada hal yang membuat mas Dapid pengen banget nikah sama saya," tuduh Anin, karena dia pun melakukan hal yang sama pada ustad Farid. Ia tidak mungkin ngebet minta ustad farid menikahinya kalau tidak ada satu hal yang benar-benar mendesak.


"Nggak pa pa, aku rasa kamu yang paling pantas untukku!" jawab David dengan begitu santainya.


"Aku hanya anak petani miskin, apanya yang pantas?"


"Justru itu, justru kamu anak petani, jadi kamu tidak akan_!" belum sampai David menyelesaikan ucapannya Anin lebih dulu menyelanya.


"Menuntut banyak hal?" tanya Anin, "Kamu salah, aku justru calon istri yang akan banyak menuntut pada calon suaminya, apa kamu sanggup. Jangan lupa ya, meski aku orang desa, orang miskin tapi aku juga berpendidikan, yang tidak akan diam saja jika ditindas!" lanjutnya panjang lebar.

__ADS_1


"Memang siapa yang akan menindasmu, justru aku akan meratukanmu!" David tidak terima dengan tuduhan yang Anin layangkan padanya.


"Dengan tidak membiarkanku melakukan apa yang aku inginkan dan mengungkungku di rumah mewah? Bukankah itu namanya penindasan?"


David tersenyum, terlihat sekali senyumnya cukup manis. Mungkin jika tidak ingat ia tidak akan bebas melakukan apapun setelah menikah dengan David, Anin pun akan mudah jatuh cinta pada pria di depannya itu.


"Kenapa tersenyum?"


"Entah kenapa justru semua jawabanmu membuatku semakin tertarik padamu!"


Di meja lain, tampak ustad farid malah tidak bisa fokus, harus beberapa kali di panggil. tatapannya selalu tertuju pada meja Anin, entah apa yang terus membuatnya ingin tahu apa yang dibicarakan mereka.


"Maaf pak, sepertinya saya kurang enak badan. Apa sebaiknya kita lanjutkan besok saja?"


"Oh begitu ya ustad, baiklah. Kebetulan menantu saya ini sudah setuju dan insyaallah besok bisa di lanjut dengan saya saja!"


"Terimakasih ya pak atas pengertiannya, mohon maaf sekali lagi karena tidak bisa profesional!"


"Tidak pa pa justru saya yang mohon maaf karena sudah menggangu waktu ustad, kebetulan ini saya juga sudah di tunggu istri di rumah ada tamu, kalau begitu saya undur diri lebih dulu ya ustad!"


"Iya pak!"


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2