Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 51


__ADS_3

Berapa terkejutnya ustad farid saat memasuki kamar yang berukuran tiga kali tiga meter, tidak ada gambaran seperti kamar pengantin pada umumnya, semua barang berserakan, barang-barang perias pengantin, mulai dari make up, hingga pernak-pernik seperti sepatu, kalung, keris, blangkon, hiasan rambut, bunga melati. Semuanya memenuhi ranjang yang katanya ranjang pengantin.


Belum lagi, lantai pun begitu penuh dengan kado-kado Dnegan berbagai ukuran, bahkan untuk jalan saja ia kesusahan.


"Yang benar saja!" keluhnya, padahal kini matanya benar-benar sudah minta di istirahatkan, ia sudah dua malam ini hampir tidak tidur dan mungkin malam ini pun juga demikian. Karena nanti masih ada sesi pemotretan kedua, sudah kayak artis saja.


Padahal setelah melepas pakaiannya yang cukup membuatnya gerah, ia ingin segera mengambil wudhu, sholat kemudian lanjut merebahkan tubuhnya.


"Hehhhh, mau bagaimana lagi!" gumamnya lagi, tapi kali ini di dengar oleh Anin yang sudah menyusulnya ke dalam..


"Ada apa mas?" tanya Anin dan berhasil membuat ustad Farid menoleh ke belakang.


"Kamar mandinya di mana?" tanyanya sambil menatap ke sekeliling, tidak ada pintu lain sain pintu keluar. Itu tandanya tidak ada kamar mandi di dalam kamar.


"Ada di samping dapur, tapi pasti banyak orang. Kalau mas ustad tidak nyaman, bisa ke kamar mandi belakang, agak jauh sih dari rumah, belakang kandang ayam!" ucap Anin sambil menunjuk-nunjuk seolah-olah ustad Farid bisa melihatnya.


"Gini aja deh, kamu keluar dulu nggak pa pa kan. Aku mau ganti baju aja trus sholat di masjid!"


"Oh, harus keluar ya?" tanya Anin, tapi sepertinya Anin tidak menyadari ucapan ustad Farid selanjutnya karena terlalu capek.


"Ohhh, atau kamu sudah tidak sabar pengen lihat_!" ucap ustad Farid sambil mengerlingkan matanya membuat Anin tersadar.


"Hahh, apa maksudnya?"


"Ya seperti yang Novi katakan tadi!" ucapnya sambil tersenyum menggoda membuat Anin menelan salivanya.


"Nggak, nggak! Anin keluar!" ucap Anin dengan panik, ia pun dnwgan langkah seribu segera keluar.


"Isstttt issstttt, ada-ada aja." ucap Anin sambil memegangi letak jantungnya yang berdetak lebih keras.


Ia pun memilih untuk duduk di sofa yang kebetulan tidak ada orang, karena hampir setiap sudut rumahnya ada orang. Bahkan kamarnya kini bukan menjadi kamar pribadinya lagi karena semua orang bebas keluar masuk ke kamarnya. Terutama perias pengantin.


Tidak berapa lama, ustad Farid keluar dengan memakai sarung dan baju kokonya begitu juga dengan sebuah peci di kepalanya.


Subhanallah, gantengnya nih orang, bikin hati meleleh aja ...., Anin sampai tidak berkedip menatap sang suami yang tanpa ia sadari tengah berjalan mendekatinya.


"Dek, dek!"


"Hahhh?" Anin segera tergagap. ehhh tunggu, mas ustad panggil apa tadi? Anin kembali menajamkan telinganya.


"Dek, nggak pa pa kan?" tanya ustad Farid lagi dan Anin bagai kerbau yang di cocok hidungnya, ia hanya manggut-manggut tidak jelas.


"Aku ke masjid dulu ya, mau mandi sekalian. sholat dhuhur."

__ADS_1


"Hemmm!" Anin masih dengan posisinya, ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau dek Anin tidak keberatan, mas mau sekalian sholat ashar ya biar nggak bolak-balik pulang!"


"Hmmm!" sekali lagi Anin hanya mengangukkan kepalanya.


Ustad farid pun tersenyum dan mengulurkan tangannya,


"Hehhh?" Anin terkejut saat sebuah tangan sudah berada di depan hidungnya.


"Aku mau berangkat!" ucap ustad Farid dan Anin pun segera sadar. Ia pun segera meraih tangan itu dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum!" ucap ustad Farid.


"Waalaikum salam!"


Ustad Farid pun berlalu dari hadapan Anin sedangkan Anin masih tidak bisa lepas dari menatap punggung suaminya yang semakin menghilang di balik dinding rumah.


Sesampai di halaman, tidak lupa ustad Farid berpamitan terlebih dulu dengan kedua mertuanya agar mereka tidak khawatir dan mencarinya.


Sebenarnya bukan hanya karena alasan tidak mau bolak-balik, ustad Farid sengaja menunggu hingga ashar karena ia ingin memejamkan matanya sejenak di masjid.


Sesampai di masjid, ustad farid segera mandi dan melaksanakan sholat dhuhur. Setelah selesai, seperti rencananya, ia memilih duduk di pojok dan merebahkan tubuhnya di lantai masjid dan mulai merebahkan tubuhnya, menajamkan matanya agar bisa tertidur barang sebentar.


Hingga samar-samar ia mendengar beberapa orang yang tengah mengobrol di depan masjid, mereka sepertinya tengah membicarakan sang istri yang baru ia nikahi beberapa jam lalu.


"Tak kira suaminya Anin itu punya gelas yang banyak di belakang namanya, ternyata cuma karyawan kedai lalapan!"


"Iya, gitu aja kemarin dilamar si Mahfud yang sudah jelas-jelas sawahnya banyak nggak mau!"


"Ya gengsi lah buk, wong sarjana masak nikah sama petani! Kalau karyawan kedai lalapan kan gajiannya tiap bulan, kalau Mahfud kan gajiannya pas panen saja!"


"Tapi kan Mahfud sapinya juga banyak, setiap hari dapat berliter-liter susunya, nggak bingung kalau cuma buat makan!"


"Ehhh kemarin malah aku dengar pak Suroso juga kedatangan tamu dari kota loh ibuk-ibuk!"


"Yang benar? Buat apa?"


"Katanya juga mau melamar Anin, tapi langsung di tolak!"


"Yang benar?"


"Iya, malah aku lihat mobilnya mewah, ada pengawalnya juga. Bawa barang seserahan banyak banget! Katanya pengusaha sukses. Kalian tahu nggak itu, supermaket Hipermart itu loh?"

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Itu milik pria itu!"


"Wahhh gila, si Anin emang sok kecapekan. Gitu tuh yang namanya pilih-pilih bungkik dapatnya malah yang nggak jelas!"


Ustad Farid pun segera bangkit dari tidurnya,


"Astaghfirullah hal azim, di masjid kok buat gibah!" gumamnya pelan. Dari pada pusing mikirin omongan mereka ustad Farid pun memilih mengambil wudhu sambil menunggu waktu azan ashar yang tinggal beberapa menit lagi.


Di rumah, Anin yang kebetulan tengah datang bulan memilih segera mandi agar perias bisa segera meriasnya kembali dan acara sesi foto bisa segara di mulai.


"Mas nya belum datang ya mbak?" tanya perias yang tampak sudah tidak sabar menunggu ustad Farid Kembali.


"Bentar lagi mbak, ba'dha ashar!" jawab Anin.


"Ya udah mbak, nanti kalau sudah datang suruh cepet ganti baju ya!"


"Iya mbak!"


Perias itu pun memilik ke depan menemui pak Suroso sedangkan Anin masih duduk di sofa yang ada di ruang tv.


Rupanya percakapannya dengan perias di dengan oleh budhe Harti, ia pun berdiri dengan bersandar pada gawang yang menghubungkan antara ruang tengah dengan ruang dapur,


"Ya gitu memang resiko punya suami ustad. Kerjaannya di masjid terus Sampek lupa tuh kewajibannya!"


"Budhe!" Anin segara menoleh ke arah budhe Harti.


"Kenapa? Mulai sadar jika omongan budhe benar, belum juga sehari sudah berani tuh ninggalin acara trus berlama-lama di masjid, mau ngapain? Kayak nggak ada kerjaan saja!"


"Memang mboten wonten (nggak ada) budhe!"


"Kamu tuh memang sudah di cuci otaknya sama.ustad itu, makannya nglawan terus sama budhe kalau di kasih tahu!"


Astaghfirullah hal azim ...., Anin memilih diam dari pada terus berdebat dengan budhenya, ia tidak ingin perdebatanya menjadi konsumsi tetangga.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2