
Tepat setelah ashar, ustad Farid pun kembali ke rumah Anin, kedatangannya langsung di sambut oleh perias pengantin takutnya keburu magrib lagi.
Setelah selesai di rias, walaupun tidak banyak hanya polesan bedak tipis dan berganti pakaian tetap saja memakan waktu.
Anin sudah duduk sendiri di atas pelaminan sambil menyalami tamu yang masih berdatangan.
Setelah selesai, ustad Farid pun menghampiri Anin,
"Maaf ya dek, lama!" ucapnya membuat Anin terpaku, ia masih belum terbiasa dnwgan panggilan itu. Rasanya begitu aneh.
"Emm, i_ya!"
Para juru kamera mulai membidikka kameranya dengan memberi arahan berpose yang benar.
Anin dan ustad Farid pun hanya pasrah mengikutinya. Dan benar saja, sesi foto akhirnya berakhir tepat saat magrib.
"Mas, maaf sholatnya di rumah aja ya, takutnya di cari bapak. Soalnya ba'dha isya' walimatul urs dimulai!" ucap Anin dengan cepat mencegahnya sebelum sang suami pergi lagi ke masjid.
Ustad Farid kembali menatap kamar yang masih berantakan, "Di sini?"
"Enggak! Di samping ada kamar shalatan!" ucap Anin sambil menunjuk ke arah kiri kamarnya meskipun terhalan dinding.
"Oh begitu ya, ya sudah aku sholat dulu ya!" Anin pun menganguk.
Ustad Farid pun memilih kamar mandi yang ada di samping dapur dari pada yang ada di luar rumah, sebelum masuk ke kamar mandi ia menyempatkan diri untuk ngobrol sebentar dengan ibu-ibu yang kebetulan menyiapkan makanan untuk walimatul urs. Mereka tampak sibuk dan beberapa sudah pulang untuk sholat dan akan saling bergantian.
Suasana desa yang masih sangat kental membuat kerukunan antar warga masih sangat terjaga.
Selesai mengambil wudhu, ustad Farid pun bergegas menuju kamar shalatan yang di tunjuk oleh Anin tadi, terlihat Bu Wiji juga baru keluar dari sana,
"Mau sholat nak Farid?" tanya Bu Wiji.
"Iya buk!"
"Monggo masuk saja, nggak ada orang di dalam. Bapak juga sudah selesai sholat!"
"Iya buk, terimakasih!"
Setelah Bu Wiji pergi, ustad Farid pun bergantian masuk. Sebuah ruangan yang seukuran dengan kamar milik Anin yang mungkin mulai malam ini akan menjadi miliknya juga. Di ruangan itu hanya ada beberapa sajadah yang snwgaja di gelar di lantai dan sebuah lemari kecil di pojok ruangan yang di atasnya ada beberapa Al Qur'an.
Ustad Farid pun segera memulai sholatnya, ia tidak ingin menundanya lagi. Ini pertama kalinya ia sholat magrib tidak berjamaah rasanya begitu aneh.
Ya Allah ini dhorurot ...., batinnya sebelum membaca niat sholat.
__ADS_1
Baru saja mengucap salam tanpa snwgaja manik matanya menangkap sesuatu yang janggal. Tumpukan bingkisan yang terlihat mahal, Sepertinya tidak mungkin jika itu bingkisan para tamu.
Ustad Farid pun mempercepat doanya, yang biasanya ia tambah dnwgan beberapa dzikir panjang kini ia hanya berdoa saja.
Melihat sedikit tidak pa pa, insyaallah hanya pengen lihat saja ..., batin ustad farid. Ia pun menggeser duduknya mendekati tumpukan bingkisan-bingkisan itu dan mengambil yang paling kecil. Dan benar saja, di dalamnya ada sebuah tab yang harganya lebih satu lima juta.
Ustad Farid jadi teringat dengan gibahan ibu-ibu yang ada di masjid tadi,
"Apa ini dari _!" ustad Farid tidak melanjutkan ucapannya. Ia memilih mengembalikan benda itu ketempat ya, ia menyadari bahwa barang-barang itu bukan haknya.
Segera ustad Farid berdiri dari duduknya dan melipat sajadah-sajadah itu dan menyimpannya di lemari yang ada di pojok.
Anin tengah merapikan sedikit kamarnya, ia khawatir ustad Farid tidak akan nyaman nanti. Setidaknya ada tempat untuk merebahkan tubuh nanti malam.
Tapi kesibukannya terpaksa terhenti saat Budhenya kembali muncul dan duduk di tepi tempat tidur, menunggu Anin yang tengah melipat beberapa baju yang berserakan dan sebagian lagi di gantung.
"Budhe heran sama kamu!"
"Ada apa lagi budhe?" tanya Anin tanpa berniat menghentikan kegiatannya.
Ustad farid yang hendak masuk ke dalam kamar terpaksa ia urungkan saat ada orang lain di dalam kamar, ia hendak duduk di sofa tapi kembali ia urungkan saat seseorang yang tengah bersama istrinya menyebut-nyebut namanya dalam obrolan mereka
"Si Farid apa lebihnya, kamu nggak lihat orang tuanya. Juga bukan orang tua yang kaya. Apa yang di banggakan? Bagaimana masa depanmu nanti Nin, Nin. David jauh lebih baik, orang tuanya juga baik sama kamu, Pumpung masih belum benar-benar terlambat loh!"
"Budhe, benar kata budhe. Mas Farid memang tidak memiliki harta yang banyak seperti mas David. Ia juga bukan dagi keluarga yang kaya seperti mas David. Tapi Anin bukan kagum karena kekayaannya, bukan karena status sosialnya, Anin kagum karena mas Farid bisa memperlakukan manusia lain dengan baik dan itu tidak bisa didapat dari kekayaan yang melimpah, tapi dari hati. Budhe!"
Mendengar penuturan Anin yang panjang lebar, perasan ustad Farid begitu trenyuh. Ia tidak menyangka jika Anin akan membelanya.
Berbeda dengan budhe Harti, wanita hanya melengos kesal karena nasehatnya tidak di gugu. Ia paling tidak suka di gurui.
"Yo wes lah terserah kamu, tapi awas nanti kalau butuh bantuan jangan binta bantuan sama budhe!" ucap budhe Harti mengancam, lalu ia pun memilih pergi meninggalkan Anin.
Ustad farid yang melihat budhe Harti hendak keluar, ia pun segera meninggalkan tempat itu dan keluar rumah. Memilih menghampiri bapak yang tengah duduk di kursi plastik di bawah tenda hajatan.
"Anin mana?" tanya pak Suroso melihat menantunya menghampiri dirinya sendiri.
"Is kamar bah, eh maksudnya pak! Lagi beres-beres!"
Pak Suroso tersenyum saat ustad Farid salah panggil,
"Nggak pa pa, panggil Abah juga boleh. Se enek dan se nyaman nak Farid saja!"
"Iya pak!"
__ADS_1
Akhrinya mereka pun mengobrol banyak hal. Mulai dari kehidupan di Bandung sampai pekerjanya di Tulungagung.
Tepat ba'dha isya', satu per satu undangan berdatangan. Ustad Farid dan Anin sudah duduk berdampingan di atas pelaminan dan di temani seorang mubaliq.
Dan di sela-sela pengabdiannya, mubaliq itu menyebut-nyebut nama ustad Farid sebelagai salah satu ustad yang cukup di segani meskipun masih muda.
Hal itu berhasil sedikit membungkam mereka yang nyinyir terhadap keberadaan ustad Farid.
Mengetahui jika suami Anin adalah seorang ustad banyak yang mulai mempertanyakan di mana Anin mendapatkan suami seorang ustad.
Ternyata mubaliq yang tengah di undang oleh orang tua Anin pernah bertemu dengan ustad Farid di salah satu pengajian yang pematerinya ustad farid.
Selesai memberikan tausiyah, mubaliq itu menghampiri ustad Farid yang sudah turun dan tengah menyamai tamu yang berpamitan pulang.
"Assalamualaikum, ustad!" sapa mubaliq itu, mubaliq dari kampung sebelah.
"Waalaikum salam, ustad Hadi!" sapa ustad Farid.
"Ya Allah ustad, masih ingat saja! Ya Allah, masyaallah senengnya saya bisa di undang di acara nikahannya ustad besar seperti ustad Farid. Awalnya saya baca nama pengantin prianya, saya pikir hanya kesamaan nama saja, tapi ternyata benar ini ustad Farid. Saya benar-benar ngefan sama ustad semejak pertemuan kita waktu itu ustad. Alhamdulillah di pertemukan lagi sama Allah!" ucap mubaliq yang ternyata bernama Hadi itu dengan begitu bersemangat worsis seperti bertemu dengan idolanya.
"Ustad Hadi terlalu berlebihan memujinya, saya masih butuh banyak belajar, belajar dari ustad-ustad senior seperti ustad Hadi."
"Alhamdulillah, aamiin. Semoga nanti ilmu ustad Farid bisa menular ke anak-anak kampung sini, trus merambah ke kampung sebelah."
"Aamiin, insyaallah!"
"Jadi rencananya, mau menetap di sini atau kembali ke Bandung ustad?"
"Insyaallah untuk sementara di sini karena ada pekerjaan di sini!"
"Alhamdulillah, nanti kalau ada waktu. Mampir ke gubuk saya ustad, kita ngobrol-ngobrol saling berbagi ilmu!"
"Insyaallah, dengan senang hati ustad. Pasti saya usahakan!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1