
"Assalamualaikum," sapa ustad Farid begitu sampai di rumah, Anin yang sudah menunguny segera menghampiri dan mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam, lama sekali mas?" tanyanya dan ustad farid tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.
"Mas mandi dulu ya, sekalian mas siapin makanan untuk dek Anin," ucapnya sambil mengacungkan kantong kresesk transparan yang berisi lalapan.
"Biar Anin aja mas, kalau mas Parid mau mandi, mandi aja."
Ustad Farid menaikkan sebelah alisnya, kemudian memperhatikan sang istri dari atas ke bawah,
"Dek Anin sudah baikan?" tanyanya kemudian.
Anin tersenyum dan meregangkan tangannya,
"Sudah dong mas," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Segera ustad Farid mengulas senyumnya,
"Jadi males mandi."
"Maksudnya?" tanya Anin tidak mengerti.
"Dek Anin sudah sholat dhuhur kan?"
Anin mengangukkan kepalanya, dan sekali lagi ustad Farid tersenyum.
"Bagaimana kalau kita_,"
Bukkk
Tiba-tiba tangan Anin langsung memukul bahu ustad Farid,
"Kok malah di pukul sih?" protes ustad Farid.
"Anin lapar mas, mas Parid malah minta aneh-aneh," Anin tampak sekali tengah menahan senyum.
"Nggak aneh dek. Tapi ini ibadah."
"Issshhhh," Anin mencebirkan bibirnya dan ustad Farid pun mengusap kepala Anin yang tidak tertutup hijab dengan lembut.
"Ya sudah mas mandi dulu ya."
Ustad Farid pun berlalu dari hadapan Anin. Rasa kesalnya pada David seketika menghilang saat melihat senyum Anin.
Anin pun menyiapkan makanan sembari menunggu ustad Farid selesai mandi.
Selang beberapa menit, ustad Farid kembali menghampiri Anin dan duduk di kursi plastik yang tepat berada di hadapan Anin, hanya berjarak sebuah meja makan kecil.
"Ayo mas di makan."
"Dek Anin Sedati pagi belum makan?" tanya ustad Farid saat menyadari sesuatu.
"Sudah mas, tadi ibuk ke sini mengantar sayur pepaya, itu masih ada. Mas mau? Biar aku ambilkan." tawar Anin yang begitu bersemangat.
"Boleh deh,"
Anin pun dengan cepat kembali berdiri dan mengambil panci yang ada di atas kompor. Manik mata ustad Farid tidak hentinya mengawasi setiap gerik Anin.
"Dikit atau banyak?" tanya Anin membuat ustad Farid tersadar jika Anin sudah kembali di hadapannya.
"Satu centong saja."
__ADS_1
"Baiklah."
Anin kembali sibuk mengambilkan makanan untuk sang suami. Kemudian mengambil untuk dirinya sendiri,
Baru beberapa suap ia makan, Anin sadar jika sang suami masih memperhatikannya tanpa berniat menyantap makanannya.
"Mas kenapa?"
Ustad Farid tersenyum dan menyuapkan makanan ke mulut Anin dengan tangannya,
"Nggak pa pa, mas sedang mensyukuri nikmat yang di berikan oleh Allah."
Anin mengunyah makanannya dan segera menelannya tapi ustad Farid malah kembali menyuapinya.
"Jika nanti kamu sudah tidak menginginkan aku lagi, tolong katakan sejujurnya. Aku tidak ingin membuatmu menderita karena bertahan denganku."
"Mas_,"
"Mas minta maaf karena tidak bisa membuat bahagia."
"Mas Parid kok ngomongnya gitu sih," Anin bisa melihat kesedihan di mata suaminya. Ada rasa minder di sana.
"Ini pasti karena mas Dapid kan?" pertanyaan Anin membuat ustad Farid menghentikan kegiatannya, ia kembali menatap sang istri.
"Maaf mas, aku belum sempat bilang tadi. Tadi mas Dapid ke sini, tapi nggak ngapa-ngapain kok mas, sungguh." Anin begitu khawatir jika suaminya akan salah faham.
Sebenarnya selain cemburu ustad Farid juga khawatir, bagaimanapun ustad Farid tahu bagaimana sikap David sebelumnya pada Anin.
"Dia tidak menykitimu kan?" tanya ustad Farid dengan cepat.
"Enggak mas, sungguh. Anin sudah usir dia sebelum duduk, tuh lihat Anin siapkan senjata di samping pintu." ucap Anin sambil menunjuk sebuah sapu di samping pintu ruang tamu yang memang terlihat dari meja makan.
"Buktinya dia lari." jawab Anin dengan bangganya.
"Ahhh jadi lega, ternyata istriku lumayan tangguh juga."
"Isstttt, mas Parid nggak tahu aja. Dulu aku pernah ikut ekstrakurikuler karate."
"Yang bener?"
"Iya, ya walaupun hanya masuk dua kali." ucap Anin tiba-tiba lesu, "Tapi itu gara-gara aku ngajak berantem teman sekelasku, jadi di keluarkan dari ekstrakulikulernya." ucapnya lagi kembali bersemangat.
Ustad Farid menggelengkan kepalanya melihat perubahan sikap Anin yang begitu cepat.
"Sudah selesaikan dulu makannya, karena setelah ini mau aku ajak karate."
"Hahhh yang bener? Di mana?"
"Di kamar."
Seketika pipi Anin memerah kepanasan mendengar ucapan suaminya yang cukup menggoda.
****
Beberapa hari ini ustad farid terlihat begitu sibuk, tapi bukan ke sekolah. Ia tengah mencari lokasi yang strategis untuk memulai usahanya.
Ia berencana akan membuka toko baju muslim, ia juga memanfaatkan medsosnya untuk mempromosikan baju muslim pria. Kebetulan sebelum ini ia memang sudah menjadi model untuk beberapa baju muslim, tapi belum berniat membuka toko. Kebetulan followers nya cukup banyak di beberapa medsos pribadinya, ia juga kerap melakukan live saat mempromosikan beberapa produk.
"Bagaimana ustad? Di sini cukup trategis karena dekat dengan kampus, pusat perbelanjaan dan juga beberapa fasilitas umum lainnya. Jadi di jamin ustad tidak akan merasa rugi dengan harga segitu." seorang pria tengah ngobrol dengan ustad Farid di dalam sebuah ruko yang sebenarnya tidak terlalu besar tapi harga sewanya lumayan tinggi untuk bangunan seukuran itu.
"Baiklah, bagaimana kalau saya akan bayar setengahnya. Dan sisanya akan saya bayarkan lagi setelah tahun lagi. Kalau harus bayar sebanyak itu saat ini, mohon maaf saya belum punya."
__ADS_1
Pria itu tampak berpikir, tapi sejurus kemudian tersenyum,
"Baiklah, saya percaya sama ustad."
"Maksudnya gimana nih?" tanya ustad Farid yang belum mengerti.
"Boleh deh ustad."
"Alhamdulillah." ustad Farid menakupkan kedua tangannya penuh syukur. Ternyata Allah memudahkan segala usahanya.
"Jadi kapan nih ustad mau mulai menempati?"
"Secepatnya, barang datang langsung saya buka." ucap ustad Farid dengan begitu yakin.
"Baiklah, kalau begitu kuncinya langsung saya serahkan sama ustad ya."
"Tapi uangnya belum loh."
"Nggak pa pa, saya percaya sama ustad."
"Alhamdulillah, terimakasih." kembali ustad farid tidak hentinya bersyukur.
Setalah urusannya sewa menyewa ruko selesai ustad Farid bergegas pulang, sudah menjelang ashar sedangkan ia pergi sedari pagi.
Tapi karena mendengar azan ashar, ustad Farid pun memilih mengehentikan motornya di masjid kampung dan segera ikut melaksanakan sholat ashar berjamaah.
Selesai sholat, ustad Farid pun bergegas memakai kembali sepatunya,
"Ustad." suara itu menghentikannya. Di belakang ustad Farid ada kyai Hasan.
"Kyai."
"Maaf mebgehntikan ustad Farid."
"Nggak pa pa kyai. Ada apa nggeh?"
Kyai Hasan pun ikut duduk di samping ustad Farid.
"Gini ustad, sebenarnya saya cukup kwalahan kalau harus ngajar sendiri. Jadi rencananya kapan ustad mulai ngajar lagi?"
Sebenarnya ustad Farid juga sangat ingin segera kembali mengajar, tapi ia masih harus mengurus tokonya.
"Begini saja kyai, saya akan ambil jatah yang habis isya' saja dulu bagaimana kyai? Soalnya kalau habis ashar saya belum bisa."
"Baik, nggak pa pa ustad."
"Terimakasih atas pengertiannya, kyai."
"Justru saya yang berterimakasih karena ustad mau bantu."
Setelah menyelesaikan obrolannya dengan kyai Hasan, ustad Farid pun bergegas untuk pulang. Ia tidak mau membuat sang istri cemas karena seharian pergi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1