Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 92


__ADS_3

Ustad Fais benar-benar patah hati, ia mencoba untuk merelakan Anin bersama pria lagi, tapi nyatanya tidak bisa.


Setiap kali bertemu dengan ustad farid, ingatannya tentang Anin kembali muncul. Bagaimanapun, Anin adalah cinta pertamanya dan berharap menjadi cinta terakhirnya.


Ustad Fais sampai memilih mengurung diri di dalam kamar. Ia hanya keluar saat sholat dan makan saja, ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku.


Hal itu membuat kyai Hasan cemas. Ia berkali-kali membujuk putranya itu agar bisa melupakan Anin.


Di tempat lain, Anin pun tidak kalah galaunya. Ia benar-benar merasa bersalah setiap kali suaminya membicarakan ustad Fais yang tidak lagi datang ke Diniyah atau ke masjid untuk sholat berjamaah.


Anin jadi sering melamun, keadaan ini membuat ustad Farid penasaran dengan yang tengah di pikirkan oleh sang istri.


"Dek,"


"Hmmm?" Anin segera menoleh pada suaminya.


"Dek Anin ada yang tengah di pikirkan?"


"Enggak. Bukan hal yang serius kok mas." Anin tidak ingin membuat suaminya semakin kepikiran.


"Dek Anin percaya kan sama mas? Mas hanya tidak mau jika mas membuat dek Anin tidak nyaman."


Melihat sang suami yang seperti itu, tiba-tiba rasa bersalah Anin muncul. Tapi ia juga tidak mungkin mengatakan tentang ustad Fais pada sang suami.


"Enggak mas, bukan karena mas. Ini hanya mungkin karena belakangan ini pekerjaan Anin banyak, jadi banyak melamun."


"Ya sudah kalau ada yang ingin dek Anin ceritakan sama mas, insyaallah mas siap menjadi pendengar yang baik.


Anin pun tersenyum dan memeluk sang suami.


***


Ini sudah dua Minggu ustad Fais tidak pergi mengajar Diniyah, kyai Hasan juga jarang terlihat berdiam di masjid. Kyai Hasan segera pulang begitu sholat selesai.


Khawatir juga ustad Fais sakit, ustad Farid pun memutuskan untuk menjenguk Fais.


Kedatangannya langsung di sambut oleh kyai Hasan yang saat itu tengah duduk di teras rumah,


"Assalamualaikum," sapa ustad Farid.


"Waalaikum salam, Ustad Farid. Mari, mari silahkan duduk." seperti biasa kyai Hasan menyambutnya dengan hangat.


"Terimakasih, kyai."

__ADS_1


Setalah ustad Farid duduk dan istri kyai Hasan menyediakan minuman untuk mereka, kyai Hasan pun menanyakan perihal kedatangan ustad Farid


"Sudah dua Minggu ustad Fais tidak pergi ke Diniyah, apa ustad Fais tengah kurang enak badan, kyai?" tanya ustad Farid.


Kyai Hasan tidak langsung menjawabnya, kemudian ia tampak menghela nafas dan memperbaiki duduknya.


"Ya begitulah, ustad. Kalau begitu biar saya coba panggil anaknya, siapa tahu mau menemui ustad farid."


"Terimakasih sebelumnya, kyai. Jika itu tidak merepotkan."


"Tidak sama sekali, jangan terlalu sungkan ustad. Baiklah, saya panggil dulu ya."


"Iya kyai."


Kyai Hasan pun akhrinya meninggalkan ustad Farid. Tidak butuh waktu lama seseorang menghampiri ustad Farid, tapi bukan kyai Hasan, melainkan ustad Fais.


Setelah mengucap salam, ustad Fais pun duduk di tempat yang tadi di duduki kyai Hasan.


Akhirnya ustad Farid pun memutuskan untuk bertanya,


"Saya dengar dari ustad yang lain, ustad Fais tidak datang ke Diniyah. Saya kira ustad sedang kurang enak badan, makanya saya ke sini. Maaf sudah menggangu istirahat ustad."


Ustad Fais tersenyum tipis, "Tidak pa pa, saya hanya tengah menata hati saja."


"Tidak apa-apa, mungkin memang harusnya ustad mengetahui hal ini."


"Maksud ustad Fais?"


"Maaf karena saya mencintai istri, ustad."


Ustad Farid pun terdiam, ada perasaan tidak percaya sekaligus perasaan tidak terima atau mungkin perasaan tidak suka.


"Saya kurang mengerti, bisa ustad Fais jelaskan pada saya?"


Akhirnya mereka berdua pun mengobrol dari hati ke hati, Fais pun menceritakan semuanya tentang dirinya dan Anin.


Sepulang dari rumah kyai Hasan, ustad Farid pun langsung menemui sang istri.


Sebenarnya ingin bertanya, tapi ia urungkan. Ia memilih menunggu sang istri bercerita sendiri.


"Apa ada yang ingin dek Anin ceritakan?" tanyanya sekali lagi dan Anin masih menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, mas ngantuk. Tidak pa pa kan kalau mas tidur lebih dulu?"

__ADS_1


Dan anin mengangukkan kepalanya. Kali ini ustad Farid tidur dengan membelakangi dirinya membuat Anin merasa diabaikan.


Dan hal itu berlangsung berhari-hari, bahkan ustad Farid lebih suka menghindar setiap kali mengobrol dengannya.


Hal itu di lakukan ustad Farid, bukan karena marah pada Anin tapi ia tengah khawatir, atau mungkin takut jika sampai detik ini sang istri masih menyimpan perasaan pada ustad Fais.


Hingga beberapa hari suasana menjadi begitu dingin.


Anin tidak menyukai hal itu, ia tidak nyaman dengan suasana ini.


"Dek, mungkin hari ini mas akan pulang malam, dek Anin tidur dulu saja ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," Anin mencium punggung tangan suaminya, tapi ada yang berbeda. Suaminya tidak lagi menciumi wajahnya sejak beberapa hari lalu, hal itu membuat hatinya semakin sakit.


Ustad Farid berlalu begitu saja menuju pintu keluar tanpa memperhatikan luka di hati Anin.


"Mas, Anin ingin bicara serius." ucapan Anin berhasil memaksa langkah ustad Farid terhenti.


Anin pun berjalan cepat dan memeluk tubuh ustad Farid dari belakang membuat ustad Farid terdiam, ia juga merindukan pelukan itu tapi ia begitu takut memintanya.


"Mas, Anin nggak suka mas. Anin nggak suka dengan sikap mas akhir-akhir ini. Jika ada yang salam sama Anin, lebih baik mas katakan, tapi Anin mohon jangan diamkan Anin seperti ini." ucap Anin, ia tidak mampu menahan air matanya yang juga ikut luluh hingga membuat kemeja bagian belakang ustad Farid basan.


"Dek, kenapa menangis? Maaf, mas sudah membuat dek Anin menangis."


Ustad Farid pun akhirnya membalik badannya perlahan dan menghapus air mata Anin,


"Mas sakit jika lihat air mata dek Anin."


"Anin lebih sakit mas jika mas diamkan Anin seperti tadi." ucap Anin masih terus menangis.


Ustad Farid pun memeluk tubuh Anin,


"Mas minta maaf ya sudah membuat dek Anin menangis. Mas hanya khawatir jika dek Anin_," ustad Farid menghentikan ucapanya membuat Anin mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


"Jika apa mas?" tanyanya dan akhirnya ustad Farid pun mengajak Anin untuk duduk di sofa.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰 🥰 🥰...


__ADS_2