Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 42


__ADS_3

Ustad Farid pun merogoh saku kemejanya, ia mulai menscrol layar ponselnya. Mencari nomor orang tuanya.


"Hallo Ambu, assalamualaikum!" sapa ustad Farid begitu telpon itu tersambung.


"Waalaikum salam, ya Allah Farid. Ambu kangen sama kamu, sudah dua hari ini nggak telpon, sibuk sekali ya?" suara wanita itu terdengar cukup nyaring karena ustad farid sengaja menloundspeaker suara ponselnya.


"Iya Ambu, maafin Farid. Apa Abah ada Ambu?"


"Ada itu, lagi benerin genteng!"


"Bisa tolong panggilin bentar Ambu, ada yang mau bicara sama Abah!"


"Sahak?"


"Nanti kalau sudah ada Abah, Farid kasih tahu!"


"Baiklah, bentar ya!"


Terdengar suara langkah kaki, sepetinya Ambu tengah menghampiri Abah.


"Bah, nih si Farid telpon!" teriaknya.


"Bentar!"


Tampak semua orang yang ada di ruangan itu terdiam mendengarkan dengan seksama obrolan orang yang ada di seberang sana.


"Hallo Farid!' sapa Abah.


"Assalamualaikum, bah!"


"Waalaikum salam, katanya ada yang mau ngomong, saha?"


"Bentar ya bah!" ucap ustad Farid, ia pun mengulurkan ponsel itu ke arah pak Suroso.


"Hallo, assalamualaikum pak."


"Waalaikum salam!"


"Maaf pak, saya menggangu bapak. Ini ceritanya jadi gini ....! Ini tentang anak-anak kita, sepetinya mereka sudah saling suka!" tampak pak Suroso bingung saat menjelaskannya.


"Hahhh, maksudnya putra saya Farid sudah punya calon?"


"Ya begitulah pak, karena jauh jadi maaf jika kita bicaranya begini saja. Saya mau membicarakan bagaimana kelanjutannya saja sama bapak!"


"Wes gini saj pak, suruh Farid buat ganti video call biar lebih enak bicaranya!" ucap Abah membuat pak Suroso mengerutkan keningnya menatap ustad Farid.

__ADS_1


"Bentar pak!" ustad Farid pun menarik kembali ponselnya dan mengubah mode panggilan menjadi video call. Hingg dalam beberapa detik terlihat wajah Ambu dan Abah,


"Beneran Rid, kamu sudah dapat calon?" tanya Ambu dan Abah penasaran. Tampak mereka begitu senang mendengarnya dan berharap ustad Farid mengakuinya.


"Lebih baik Ambu sama Abah bicarakan langsung dengan pak Suroso!"


"Suroso?' tanya Abah tampak kaget,


"Iya bah!" ustad Farid belum sampai suara Farid menjelaskan, pak Suroso sudah lebih dulu mengacungkan tangannya tidak sabar ingin segera melihat wajah calon besannya itu.


"Monggo pak!" ustad farid pun mengulurkannya dengan sopan dengan logat Jawa yang masih kaku.


Jreng


Pak Suroso begitu terkejut begitu melihat pria yang berada di latar ponsel itu, meskipun kulitnya sudah di penuhi keriput dan kulitnya menghitam karena terpaan sinar matahari tapi ia masih begitu yakin jika pria di seberang yang sama itu adalah pria yang dulu begitu dekat dengannya.


"Dadang?"


"Suroso? Jadi benar ini kamu?"


Ustad farid dan Anin malah saling pandang dan langsung saling menundukkan pandangannya.


Jadi mereka sudah saling kenal? batin ustad Farid.


Anin pun segera menoleh pada bapaknya,


"Ya Allah Nin, ini ..., ini ...!" ucapnya sambil menunjuk ke arah layar ponsel yang masih menyala itu, "Dia sahabat bapak di Bandung."


"Maksudnya bapak ya ustad Farid, temen bapak yang sering bapak ceritain?"


Ya_, pak Suroso memang sering kali menceritakan kisah-kisah masa mudanya bersama sahabatnya di Bandung dulu sebelum menikah. Ia selalu mengatakan suatu saat berharap bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu, bahkan sebelum pindah ke Jawa ia sempat berucap pada sahabatnya jika anak yang tenang di kandung istrinya perempuan akan di jodohkan pada putra sahabatnya itu, yang kala itu usia ustad Farid sekitar tiga tahun.


Tapi ternyata istrinya melahirkan anak laki-laki juga, yaitu masnya Anin.


Saat mengandung Anin, mereka sudah pindah ke Jawa. Orang tua pak Suroso juga sudah meninggal hingga ia tidak punya alasan untuk kembali ke Bandung walaupun. hanya sekedar pulang kampung. Hingga akhirnya mereka lose kontak.


Suasana pembicaraan di telpon itu menjadi begitu hari, dia sahabat yang sudah lama tidak bertemu di pertemukan kembali meskipun hanya dalam telpon.


Kini bahkan istri pak Suroso pun juga sudah ikut bergabung.


"Jadi bagaimana rencananya?" tanya pak Suroso saat hendak mengakhiri pembicaraan karena sudah hampir ashar saja.


"Saya dan istri akan segera ke Jawa, insyaallah dua hari lagi datang!" ucap pak Dadang dengan begitu matang.


"Baiklah aku akan mempersiapkan semuanya, kalau begitu sekalian saja langsung ijab Qabul nanti!"

__ADS_1


"Iya dong, pasti!"


Akhirnya mereka mengakhir obrolannya saat azan berkumandang.


Ustad Farid dan Aan pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan.


Mereka sengaja sholat jama'ah di masjid terdekat dari rumah Anin.


Terlihat satu per satu jamaah yang tidak begitu banyak meninggalkan masjid begitu doa berakhir. Sedangkan ustad farid masih setia duduk di tempatnya, tangannya kembali menengadah setelah selesai membaca tasbih,


"Ya Allah, jika memang ini takdir terbaikMu, jadikan ibadah terpanjangku nanti menjadi penuh keberkahan, aamiin!"


Setelah sholat, Aan menunggu ustad Farid yang teras masjid, di tangga depan masjid.


"Ini gimana jadinya!?" gumam Aan, tampak ia mengusap kepalanya.


"Kenapa sih An?" pertanyaan itu berhasil membuat Aan menoleh ke belakang, terbayar ustad Farid sudah berdiri di belakangnya.


"Gimana bagaimana?"


Ustad Farid malah bingung, ia ikut duduk di samping Aan,


"Apanya yang bagaimana?"


"Timunnya?"


"Astaghfirullah hal azim!" ternyata ustad Farid sampah lupa dengan tujuan utamanya datang ke rumah Anin.


"Ustad sih, yang di urus timunnya sendiri!" ledek Aan.


"Ngawur kamu!" ustad Farid pun memilih. berdiri dan memakai sendalnya, Aan pun segera menyusul ustad Farid.


"Gimana?" tanya Aan lagi.


"Kita balik ke rumah pak Suroso!"


"Yang benar saja!" Aan begitu kaget. Ia sampai mengehentikan langkahnya.


"Mau bagaimana lagi, ayo!" ucap surat Farid setelah berada di atas motor.


Bergabung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2