Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 29


__ADS_3

"Sekarang mau ke mana lagi?" tanya David saat Anin tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, wajahnya sudah terlihat kesal. Karena riasan di wajah Anin bahkan kini sudah tidak berbekas padahal makan malamnya saja belum dimulai.


Makan malam romantis sepertinya tengah dipersiapkan oleh David di salah satu rumah makan sepertinya agak berantakan karena ulah Anin, memang tidak besar dan mewah tapi cukup bisa di bilang romantis.


Salah sendiri, mau makan aja di tunda-tunda gitu, emang nggak lapar apa...


Ternyata sebelum sampai di rumah makan, Anin sudah meminta sopir untuk menghentikan mobilnya di tengah jalan hanya untuk membeli sebungkus nasi bantingan dan sengaja ia makan di dalam mobil karena ia sudah tidak bisa menahan lapar.


"Makannya masih satu jam lagi kan?" tanyanya sebelum berdiri dari duduknya, "Sebenarnya aku kesal nunguin kamu bicara. Jadi_!"


"Jangan harap kamu akan kabur kali ini!" David langsung memotong ucapan Anin.


"Enak aja, nggak gitu juga kali." ucap Anin dengan sedikit ngegas, kemudian ia pun berdiri,


"Aku mau sholat!" ucap Anin kemudian sambil menatap jam yang menggantung di dinding rumah makan sudah jam enam.


"Apa lagi?" tanya David dengan wajah kesalnya, ini sudah untuk yang ke dua kali setelah keluar dari salon yang membuat make up Anin hilang entah kemana.


"Emang sholat apa yang kamu tahu?" tanya Anin seakan sedang mengetes pengetahuan David.


"Tadi!" ucap David mengingat kembali, "dan tadi lagi juga sudah!"


"Tadi sholat dhuhur, dan tadinya lagi sholat ashar dan sekarang sholat magrib," ucap Anin menyebutkan satu per satu, tapi David malah mengerutkan keningnya, "Kenapa nggak percaya?" tanya Anin lagi.


"Ribet banget jadi orang, terserah kamu lah!" akhirnya David menyerah. Ia membiarkan Anin pergi sendiri.


"Siapa suruh kasih make up tadi, masih bagusan make up ku." gerutu Anin sambil berjalan ke tempat wudhu, terlihat sekali kalau dia sedikit kesusahan menyingsingkan lengan gaunnya yang agak ketat. "Kalau kayak gini kan susah, ribet mau ngapa-ngapain!"


Tanpa Anin ketahui di sisi lain mushola itu dua orang pria juga tengah melaksanakan sholat magrib, mereka sengaja sholat magrib di rumah makan agar tidak terburu-buru berangkatnya karena baru pertama kali datang dan harus mencari lokasinya terlebih dulu.


"Hid, orangnya sudah datang. Ayo buruan!" ajak ustad Farid sambil menyakukan kembali benda pipih miliknya dan kembali fokus memakai sendalnya.


"Iya ustad, ustad duluan aja ya, aku nyusul. Tiba-tiba kebelet!" ucap Wahid sambil memegangi perutnya.


"Perasaan belum makan, kebelet aja!" keluh ustad Farid.

__ADS_1


"Tadi sebelum ke sini makan seblak di depan gang, ustad!"


"Sudah tahu nggak bisa makan pedes, masih maksa. Baiklah, tapi jangan lama-lama!"


"Siap!"


Ustad Farid pun segera meninggalkan mushola dan ia segera mengedarkan pandangannya dan seorang pria melambaikan tangannya ke arah ustad Farid.


Ustad Farid pun tersenyum dan berjalan menghampirinya, tapi langkahnya sedikit melambat saat melintas di sebuah meja, ada seorang pria yang tengah duduk sendirian di sana dan tengah sibuk dengan ponselnya. Tapi titik fokus ustad Farid bukan pada pria itu, tapi pada tas lusuh yang teronggok di atas meja itu,


Kayak kenal sama tas itu, milik siapa ya? batinnya tapi segera ia menggelengkan kepalanya dan kembali mempercepat langkahnya.


"Assalamualaikum, pak!" sapa ustad Farid pada pria paruh baya bersama dengan pria yang seumuran dengannya, sepertinya itu menantunya.


"Waalaikum salam ustad, silahkan duduk!"


Setelah ustad Farid pergi, Wahid pun segera menuju ke kamar mandi. Perutnya tengah tidak bersahabat sekarang. Beruntung ia sudah meminum obat untuk meredakan diare nya.


Segera setelah menyelesaikan hajatnya, Wahid kembali ke tangga mushola dan memakai sendalnya.


"Ya Allah, gimana nih. Bapak sama ibuk pasti khawatir. Tapi kalau mau kabur sekarang, tas ku lagi di sandera sama mas Dapid, trus ngimana dong!"


"Anin," gumamnya lirih tapi ia tidak begitu yakin, tapi sepertinya gadis itu menyadari kalau ada yang tengah memperhatikannya. Gadis itu pun menoleh padanya. Tampak ia juga tengah mengingat-ingat,


"Mas Wahid ya?" tanyanya kemudian.


"Kamu beneran Anin?" tanya Wahid sambil berdiri setelah selesai memakai sendalnya.


"Iya mas!" jawab Anin fnwhan tersenyum, ia pun berjalan mendekati Wahid.


"Sama siapa?" tanya Wahid sambil mengedarkan pandangannya, siapa tahu ada yang di kenal di tempat barunya itu.


"Ada_, orang! Mas Wahid sendiri?" tanya Anin balik.


"Enggak," jawab Wahid membuat Anin mengedarkan pandangannya berharap ia dapat menemukan sosok yang ia kenal itu,

__ADS_1


"Sama_, siapa?" tanya Anin ragu, ia berharap jawabannya seperti yang ia harapkan.


"Sama ustad Farid tadi."


Ya Allah ini kebetulan, apa memang jodoh ya ...., ya Allah nanti jika memang ustad Parid jodoh Anin, kasih jalan ya Allah ....


"Kok malah bengong, ada apa?" tanya Wahid penasaran saat melihat Anin yang bengong mendengar ia menyebut nama ustad Farid.


"Mas_," Anin terlihat cemas, ia bingung harus bicara bagaimana dengan Wahid.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba cemas begitu? Apa ada masalah?"


"Sebenarnya Anin_!"


"Kamu kenapa?"


"Anin ke sini sama mas Dapid, dia mau ngelamar Anin!"


"Lalu kenapa cemas begitu?"


"Tolong kasih tahu ustad Farid aja, tentang itu. Katakan persis seperti yang Anin katakan ya mas, jangan di tambah dan jangan di kurang ya!"


"Untuk apa?"


"Nanti mas Wahid juga akan tahu! Anin pergi dulu, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Wahid malah bingung dengan apa yang di maksud Anin, ia tidak mengerti apa hubungannya ustad Farid dengan pria yang tengah melamar Anin itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2