
Baru beberapa meter dari keberadaan Anin, sebuah angkot melintas di sampingnya dan dengan cepat ustad Farid masuk ke dalam angkot itu.
Anin hanya bisa pasrah menatap angkot yang semakin menjauh.
"Sabar Anin, kamu masih ingat kan kata ustad gimana."
"Allah selalu menjawab doamu Dnegan tiga cara, yang pertama langsung dikabulkan, yang ke dua menundanya dan yang ke tiga menggantinya dengan yang lebih baik untukmu!"
"Jadi kalau bukan sekarang, mungkin Allah punya cara yang terbaik untuk membujuk ustad Parid, eh maksudnya Farid!"
Setelah bermonolog sendiri, Anin pun segara menghidupkan mesin motornya dan memacunya dengan cepat. Ini sudah sangat sore, bahkan ia sudah menghabiskan waktu bersama ustad Farid hampir empat jam.
Sesampai di rumah, Anin segera memarkirkan motornya, ia segera masuk ke dalam rumah,
Sekarang sudah jam lima sore, beruntung ia sempat mampir di masjid untuk sholat ashar hingga ia tidak khawatir ketinggalan.
Tapi saat ia langkahkan kakinya ke lantai ruang tamu, ia sepertinya telah melupakan sesuatu. Ia kembali mengingat sesuatu, tapi tidak bisa.
Karena tidak tahu apa yang lupa, ia pun melanjutkan langkahnya sambil melepas helm di kepalanya.
Dan benar saja, baru saja meletakkan helmnya di atas nakas di ruang tv, ia langsung di sambut adik perempuannya dengan wajah cemberut.
Opo'o Iki ...., batin Anin bingung. Tapi ia merasa dia yang menjadi penyebab cemberutnya sang adik perempuan.
"Opo'o sih Nop (Ada apa sih Nov), mbak pulang-pulang capek malah di sambut begitu?" keluh Anin, tapi tepatnya ia tengah mencari jawaban untuk sesuatu yang lupa itu.
"Mbak Ki seng piye? Janjine mau piye? (Mbak yang bagaimana? Janjinya tadi bagaimana?)" tanya Novi sambil berkacak pinggang membuat Anin yang capek jadi tersulut emosi,
Hehhhhh ....
Dengan cepat Anin menghela nafas untuk meredam emosinya.
"Memang mbak janji apa sama kamu, dek?"
"Novi besok ada kerajinan mbak, bahane kudu tuku nek toko obras (Bahannya harus beli di toko obras)!" ucap Novi dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Kan enek mas Ipul (Kan ada mas Ipul), kenapa nggak minta mas Ipul aja yang antar?"
"Mas Ipul buwoh (pergi ke kondangan) mbak. Sama bapak sama ibuk juga!"
Astaghfirullah hal azim ...., keluh Anin dalam hati sambil menepuk keningnya.
"Memang tokonya Mbak Atik nggak enek (Nggak ada)?" tanya Anin masih memikirkan solusi terbaiknya.
"Nggak ada mbak!" akhirnya tangis Novi pecah juga, ia bicara sambil terisak.
"Yo Ojo nangis to, wes lah, yahene Yo wes tutup dek toko ne (Ya jangan nangis gitu, sudah lah, jam segini juga sudah tutup tokonya)!"
__ADS_1
"Nahhh, iku ngerti (itu tahu)!" ucap Novi sambil terus mengusap air matanya yang tidak mau berhenti keluar sambil sesekali menghirup kembali ingusnya yang hendak keluar dari hidung.
Ya ampun, malah nangis ...., Anin benar-benar tidak bisa kalau melihat adiknya menangis. Tapi ia yang terbiasa bersikap keras dan suka bertengkar dengan sang adik merasa gengsi untuk sekedar memeluknya dan mengusap punggungnya.
"Gini ae dek, besok jam ke berapa sih kerajinannya?"
"Setelah istirahat!"
"Wes gini ae, besok pagi mbak pergi ke toko obras buat beli, trus sama mbak langsung antar ke sekolah kamu, gimana?"
"Tenan Lo Yo mbak, Ojo lalu meneh (Beneran Lo ya mbak, jangan lupa lagi)!"
"Iya_, apa yang di beli?"
Akhirnya Novi berhenti menangis juga, ia segera mengusap sisa air matanya.
"Kain flanel, lem lilin, trus mata boneka, Dakron!" ucap Novi tampak mengelist barang-barang yang harus di bawa besok.
"Banyak banget sih Nop!"
"Nov mbak, duduk (bukan) Nop! Memang butuhnya itu, mau Novi di marahi Bu guru gara-gara nggak bawa peralatan, atau mbak belinya kurang?"
"Salah dikit aja protes."
"Ganti-ganti jenenge wong sih (Ganti-tanti nama orang sih)!"
"Yo wes, Iyo sesok tak terne nek sekolahanmu (ya sudah, besok saya antar ke sekolah kamu)!"
"Apa lagi?"
"Aku lupa, cuter, Guntung, benang, benangnya yang benang wol yang mbak trus jarumnya sekalian!"
"Kenapa nggak sekalian tokonya aja bawa ke sekolahan!" ucap Anin sambil nyengir, ia pun berlalu hendak masuk ke dalam kamar, tapi langkahnya segara berhenti di depan pintu saat menyadari sesuatu.
"Oh iya dek, barang-barang di sini tadi kemana semua?"
"Ohhh yang kado-kado tadi ya mbak?"
"Hmmm!"
"Di taruh di dalam lemari sama ibuk!"
"Kenapa?"
"Takut kalau Novi buka!"
"Baguslah!" akhirnya Anin pun benar-benar masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Novi yang nyengir karena keinginannya untuk membuka kado-kado itu di larang oleh orang tuanya. Padahal sangat langka baginya mendapat kado sebanyak itu. Bahkan saat ia ulang tahun juga tidak ada yang menberinya kado. Karena memang tidak pernah ada pesta ulang tahun, paling bagus biasanya ibunya membuatkan nasi kuning dan hanya beberapa anak yang di undang untuk ikut makan bersama dan itupun tidak ada yang membawa kado.
__ADS_1
***
Berbeda cerita Anin, beda pula dengan ustad Farid.
Setelah datang, ustad Farid langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Melihat ustad Farid yang tampak begitu cakep dan lesu, membuat Wahid tidak berani bertanya macam-macam.
Barulah setelah ustad Farid keluar dari kamar mandi, Wahid kembali datang dengan membawakan secangkir kopi untuk sang ustad,
"Kopinya ustad!"
"Taruh di meja aja Hid, makasih ya!" ucap ustad farid yang masih sibuk mengeringkan rambutnya sehabis keramas.
Wahid tampak keheranan melihat ustad Farid yang pulang-pulang malah berwajah lesu. Ia masih begitu penasaran ingin bertanya, setelah meletakkan secangkir kopi di atas meja lantai, Wahid pun memilih untuk duduk di karpet dan mengambil ponselnya yang sudah penuh pengisian baterainya.
"Ustad tadi pulangnya jalan kaki ya? Kehabisan ongkos ustad?" tanyanya.
"Dorong motor!" jawab ustad Farid singkat, tapi segera ia menghentikan kegiatan tangannya.
"Punya siapa?" tanya Wahid lagi.
Waduh keceplosan ...., batin ustad Farid. Ia pun kemudian mencari cara untuk menjawab pertanyaan Wahid tanpa berbohong.
"Punya cewek di jalan, mogok kehabisan bensin!" ucap ustad Farid sambil kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ya Allah ustad, takdir kok suruh dorong motor terus sih!" ledek Wahid sambil tersenyum.
"Kamu itu yang ngerjain saya, seharusnya bisa kan waktu itu kamu jemput ke pakek mobil anter kunci motor, bisa-bisanya suruh dorong, pakek banyak nyasarnya lagi!" tapi ternyata malah kena semprong dari ustad Farid.
"Ya Allah ustad, masih dendam aja!" keluh Wahid.
Srekkkk
Seketika handuk di tangan ustad Farid melayang ke wajah Wahid.
"Sana ke masjid, buruan azan." ucapnya sambil duduk di bersila di depan meja, dan mulai menyesal secangkir kopi buatan Wahid.
"Masih kurang lima belas menit ustad, dimarahin orang yang puasa sunnah entar kalau sekarang azan!" ucap Wahid sambil memainkan handuk yang baru saja di lempar oleh ustad Farid dan di bentuk menjadi angsa.
"Ngeles aja!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...