
Hari pertama di rumah setelah pulang dari rumah sakit, Zahra kira ia bisa segera melakukan apapun yang ia inginkan, tapi nyatanya sang suami lebih protektif di bandingkan dokter atau suster di rumah sakit.
"Dek, ini obat dan buahnya." ucap suarad Zaki sambil meletakkan sebuah nampan berisi segelas air putih, potongan buah-buahan segar di dalam mangkuk dan beberapa pil yang sudah siap ia minum.
"Tapi mas, baru satu jam lalu Zahra makan."
"Ini buah dek, bukan makanan berat."
Hehhh ....
Zahra hanya bisa menatap pasrah pada nampan itu, sedangkan ustad Zaki menyusulnya naik ke atas tempat tidur.
Ustad Zaki mulai menyuapkan potongan buah itu ke mulut Zahra dengan begitu telaten,
"Mas,"
"Hmmm?"
"Kok cuma he sih?" protes Zahra.
"Iya dek, ada apa?"
"Boleh nggak kalau Zahra_."
"Nggak boleh." dengan cepat ustad Zaki memotong ucapan Zahra.
"Ihhhh, Zahra kan belum selesai bicaranya."
"Mas nggak mau dek Zahra minta macam-macam."
"Ihhh curigaan banget sih jadi orang." protes Zahra lagi.
"Mau bagaimana lagi, apapun yang dek Zahra lakukan selalu membuat mas cemas."
"Kali ini enggak."
"Apa?"
"Zahra mau main ke rumah Nur, kata ibunya, Nur hanya pulang dua hari buat ambil barang-barangnya. Jadi_!"
"Jadi?"
"Boleh ya?"
"Enggak."
"Massss!"
"Nur yang akan ke sini."
"Pasti nggak enak kalau mas di rumah, Nur pasti sungkan."
"Jangan khawatir, makanlah dulu. Nanti mas minta Nur ke sini selama masih di rumah, dan mas bisa ke masjid selama Nur di sini."
Hehhh, padahal aku pengen jajan ke warung budhe Titin, beli basreng, batin zahra kesal. Ternyata tidak mudah mengelabuhi sang suami.
***
__ADS_1
Siang setelah pulang dari madrasah, ustad Farid sudah meminta Wahid untuk mengirimkan pick up ke rumah mertuanya, untuk membantunya membawa barang-barang pribadi Anin karena khawatir jika di bawa motor tidak akan muat.
"Gitu aja kemarin aku di tinggal-tinggal, sekarang suruh datang!" gerutu Wahid. "Tapi nggak pa pa deh, apa-apa untuk ustad Farid yang Ter the best." lanjutnya sambil mengemudikan pick up.
Ustad Farid sudah menunggu di depan rumah, hingga bibirnya melengkung senyum saat mobil pick up itu mulai terlihat dari ujung gang.
Bukannya menyambut kedatangan Wahid, ustad Farid malam masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Anin yang tengah sibuk berkemas di dalam kamar.
"Sudah datang mas?" tanya Anin curiga.
"Iya, sudah sampai di pertigaan."
"Kok mas malah masuk?"
"Nggak pa pa, Wahid sudah biasa aku tinggal-tinggal begitu." ucapnya dengan santai sambil membantu Anin menutup resleting tas besarnya,
"Ini sudah semua?" tanya ustad Farid.
"Itu mas, di sana ada beberapa buku pembukuan usaha kripik ku. Kalau muat di bawa sekalian mas."
"Ya sudah kamu mandi, trus ganti baju gih, biar mas yang siapkan semuanya."
"Nggak pa pa?"
"Nggak pa pa dek!"
Akhrinya Anin pun mengambil baju ganti sekalian handuk dan pergi ke kamar mandi.
Selagi ustad Farid sibuk di dalam kamar, akhirnya wahid sampai juga di depan rumah Anin, ia segera turun dari pick up. Mengamati rumah yang pintunya terbuka tapi terlihat sepi itu.
Dan dari arah lain, seorang gadis berseragam biru putih baru saja turun dari atas motor,
"Iyo mas, nanti Novi sampekin."
Pria itu adalah masnya Anin dan Novi, dan gadis berseragam biru putih itu adalah Novi.
Sengaja hari ini masnya yang jemput karena Anin sudah mengatakan kalau akan beres-beres untuk pindahan.
Novi mengerutkan keningnya saat melihat Wahid yang mondar mandir di depan pintu dan tidak ada satu orang yang keluar menyambungnya.
Jangan-jangan orang jahat, bawa pick up tapi nggak bawa apa-apa. batin Novi curiga. Wahid memang kerap ke rumah Anin tapi sepertinya Novi tidak mengitu memperhatikan.
Novi pun berjalan cepat menghampirinya,
"Mau nyari siapa ya mas?" tanya Novi kemudian membuat Wahid menoleh ke arah Novi.
Akhrinya , Wahid tersenyum lega. Wajah Novi dan Anin bagai pinang di belah dua membuatnya yakin jika gadis yang menyapanya adalah adik Anin. Sepertinya itu salinan wajah Anin saat masih remaja,
"Apa ustad Farid nya ada?"
"Oh, temennya ustad Farid ya?" bukannya menjawab pertanyaan dari Wahid, Novi malah balik bertanya.
"Iya," jawab wahid dan kembali bertanya, "kamu adiknya Anin ya?"
"Iya," jawab Novi dan kembali pertanya, "kok tahu?"
"Wajahnya mirip banget!"
__ADS_1
"Ya iya lah, satu pabrik!"
"Oh iya ya!" Wahid hanya bisa nyengir dengan jawaban Novi. "Bagaimana? Apa ustad Farid ada di rumah?"
"Menurut mas?" tanya Novi membuat Wahid mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Mas! Lihat dengan teliti ya, saya masih pakek seragam, trus yang datang lebih dulu mas dari pada saya. Ya mana saya tahu ustad Farid di rumah atau tidak."
"Oh iya ya." jawab Wahid pasrah. Bisa plek ketiplek sama Anin gini sih nih anak, bukan cuma wajahnya yang sama, mulutnya kalau ngomong juga sama, Nggak ada saringannya ...
"Bagaimana kalau gini aja, adek panggilin ustad Farid ya kalau beliaunya di rumah." pinta Wahid dengan nada yang lebih lembut.
"Nah begitu baru benar! Bentar ya aku panggilkan, duduk aja dulu nggak pa pa!" ucap Novi.
"Iya!" ucapannya lagi sambil mengamati sekitar, tidak ada tempat duduk yang kosong di sana.
"Itu karung merdeka sekali Sampek di taruh di tempat duduk." gerutu Wahid sambil melihat beberapa karung yang di letakkan di atas kursi kayu yang seharusnya bisa ia duduki.
"Nggak pa pa mas, duduk di atas karung aja." ucap Novi lagi dan Wahid hanya tersenyum.
"Ya sudah sana masuk, panggil ustad Farid ya kalau ada."
"Siap!"
Baru juga sampai di ambang pintu, Novi sudah langsung berteriak.
"Mbak, mbak, ada yang nyari ustad Farid nih!"
Astaghfirullah hal azim, nggak ada beda sama Anin ...., batin Wahid sambil mengelus dada.
"Kaget ya mas, maaf kelepasan!"
"Nggak pa pa, ya udah sana masuk!"
Akhirnya Novi benar-benar masuk ke dalam rumah.
Ustad Farid yang berada di dalam kamar segera keluar,
"Ada apa nov?" tanyanya pada sang adik ipar.
"Itu ustad, ada temennya di luar."
"Ohhh, ya sudah makasih ya." ucap ustad Farid dan kembali masuk ke kamar membuat Novi mengeryitkan keningnya tidak mengerti.
"Kok masuk lagi, bukanya di temui." gumam Novi, tapi segera ia menggelengkan kepalanya,
"Bodoh ahhh!" Novi pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...