Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 74


__ADS_3

Anin pun segera merapikan penampilannya sambil memegangi keningnya yang masih terasa nyeri.


"Lain kali kalau ngantuk ngomong dulu ya dek, biar nggak kejadian kayak tadi." ucap ustad Farid sambil mengambil barang-barang bawaan mereka di bak belakang.


"Ye, mana ada orang ketiduran suruh ngomong dulu, mas Parid nih kalau ngomong suka_," ucapan Anin segera terhenti saat mendapat tatapan dari ustad Farid.


"Kok nggak lanjut dek?" tanya ustad Farid.


"Maksud Anin suka bener!" ucap Anin sambil tersenyum dan ia pun segara mengalihkan tatapannya dari sang suami,


"Astaghfirullah hal azim," gumamnya terkejut sampai menutup mulutnya dan menarik punggung ustad Farid.


"Ada apa dek? Ada hantu?"


"Itu, ada itu," ucap Anin sambil menunjuk ke arah rumah, rupanya ustad Zaki yang mendengar ribut-ribut di depan rumahnya pun segera keluar dan rupanya ustad Farid dengan istrinya.


Ustad Farid pun akhrinya penasaran dengan yang di lihat oleh Anin, ia pun ikut menoleh,


"Itu ustad Zaki,"


"Siapa juga yang bilang hantu," gerutu Anin, "Maksudnya, ustad Zaki pasti lihat kejadian tadi, kan malu." ucap Anin lagi lirih membuat ustad Farid tersenyum.


Nggak tahu aja istrinya Zaki lebih rame dari kamu, dek. batin ustad Farid. Ia pun berjalan lebih dulu hendak menghampiri ustad Zaki, tapi langkahnya hterpaksa terhenti saat Anin kembali memanggilnya.


"Mas,"


"Apa dek?" tanya ustad Farid sambil menoleh ke arah Anin.


"Tangan Anin, nganggur!" ucap Anin sambil menunjukkan kedua tangannya yang kosong.


Ustad Farid pun menggelengkan kepalanya dan kembali menghampiri Anin,


"Ya udah, dek Anin bawa ini deh, yang ringan!" ucap ustad Farid sambil menyerahkan kantong kresek yang berisi beberapa bok terang bulan yang tadi mereka beli di pasar.


"Ihhh," Anin menjejakkan kakinya seperti anak kecil, "Bukan itu maksudnya." protesnya kemudian membuat ustad Farid mengerutkan keningnya.


"Maksudnya mau bawa ini?" tanya ustad Farid sambil menunjukkan satu tas ransel yang berisi barang bawaan mereka berdua.


Ihhhh nggak peka banget ..., batin Anin kesal.

__ADS_1


Nggak jalan-jalan kalau kayak gini ceritanya ....


Srekkkkk


Anin tiba-tiba menautkan jemarinya di selah-selah jemari tangan ustad Farid membuat ustad Farid tercengang,


"Kok malah bengong!?" protes Anin, "Yuk jalan."


"Ahhh iya." ustad Farid pun tersenyum dan berjalan dengan tangan yang bergandengan dengan tangan Anin.


Hingga langkah mereka terhenti tepat di depan ustad Zaki yang sudah menyambutnya dengan senyum termanis yang selalu ia punya.


"Assalamualaikum," sapa ustad Farid.


"Waalaikum salam," jawab ustad Zaki sambil menyambut dengan meregangkan kedua tangannya hendak memeluk sahabatnya itu tapi ustad Farid malah tampak enggak untuk melepaskan tangan Anin,


Ustad Farid menatap tangannya yang masih tertaut dengan tangan sang istri dan kembali menatap ustad Zaki,


"Pelukannya lain kali aja ya Zak!" ucapnya membuat ustad Zaki penasaran dan menatap ke arah tangan itu.


"Iya, iya, iya, ngerti aku." ucapnya sambil manggut-manggut,


"Saya Anin ustad, Anin aja nggak usah pakek embak. Kayaknya tua banget." ucap Anin menanggapi pertanyaan ustad Zaki.


"Alhamdulillah, iya dek Anin saja."


"Maaf sekali lagi ustad, dek Anin itu panggilan sayang dari mas Parid. iya kan mas Parid?" Anin sengaja meminta dukungan pada suaminya.


Tapi ternyata fokus ustad Zaki bukan pada kata dek nya, tapi pada kata Parid.


"Parit?" tanya ustad Zaki lagi.


"Ini kayaknya gara-gara kutukan dari istri kamu, makanya aku di panggil Parit, jadi ya jangan ketawa Jak," ustad Farid segera menyahut sebelum ustad Zaki menertawakannya.


"Oh jadi panggilan sayang ya!?" ucap ustad Zaki dan mendapat tatapan protes dari ustad Farid.


"Sudah-sudah, ayo masuk." ajak ustad Zaki dan ustad Farid juga Anin pun masuk ke dalam rumah.


"Silahkan duduk dulu, biar saya panggil dek Zahra nya."

__ADS_1


"Terimakasih, tapi kalau Zahra istrirahat, lebih baik nggak usah di ganggu!"


"Enggak kok, katanya lagi nunggu sahabatnya datang, tunggu ya!"


Akhirnya ustad Zaki pun kembali masuk ke dalam sedangkan ustad Farid dan Anin duduk di sofa panjang.


"Silahkan neng, ustad minumnya!" seorang bibi menyajikan minuman dan beberapa camilan untuk ustad Farid dan Anin. Setelah Zahra kembali dari rumah sakit, ustad Zaki sengaja meminta ibunya Weni untuk membantu di rumah ustad Zaki saat siang hari.


"Terimakasih ya bi."


"Sama-sama, ngapunten kalau begitu saya permisi ke belakang dulu,"


"Enggeh Bu, Monggo!" Anin pun menanggapinya.


Hingga akhirnya ustad Zaki keluar dengan sang istri, baik Anin ataupun Zahra memiki sifat yang hampir sama, mereka buka orang yang mudah akrab satu sama lain. Setelah mereka berkenalan satu sama lain, tidak ada obrolan lain kecuali di penuhi dengan obrolan ustad Zaki dan ustad Farid.


"Dek, nggak pa pa ya kalau mas tinggal bentar sama ustad Zaki?" tanya ustad farid pada Anin.


"Nggak pa pa," jawab Anin ragu sambil melirik ke arah Zahra, ia hanya khawatir jika Zahra sangat pendiam seperti istri-istri ustad biasanya. Suasananya pasti akan sangat kaku.


"Tapi jangan lama ya!" bisiknya lagi membuat ustad Farid mengangukkan kepalanya.


Akhirnya ustad Zaki pun mengajak ustad Farid pergi sebentar ke kedai dan meninggalkan Anin dengan Zahra di rumah.


Sepeninggal ustad Farid dan ustad Zaki, suasana rumah tiba-tiba menjadi hening.


Ya ampun, istri ustad Parid pasti sangat pendiam. Yo opo Iki, bisa-bisa beku nih aku di sini, mana Nur nggak datang-datang lagi ..., batin Zahra sambil sesekali tersenyum saat menatap ke arah Anin.


Gimana kalau aku salah bertingkah nanti, pasti mas Parid malu banget. Mana aku nggak bisa kalem lagi, kalau kelepasan gimana ..., batin Anin yang tengah menahan agar tidak sampai bicara sembarangan di depan Zahra.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2