
Dan beberapa saat kemudian ustadz Farid keluar dengan membawa sebuah tas besar yang berisi barang-barang pribadi milik Anin,
"Cepet banget datangnya hid!?" tanya ustad Farid begitu sampai di depan Wahid.
"Ya, mah Bagaimana lagi." ucap Wahid membuat ustad Farid mengerutkan keningnya,
"Maksudnya?"
"Ya ntar kalau Wahid terlambat, ada yang ngeluh!"
"Astaghfirullah hal azim, Hid. Memang pernah aku ngeluh!" ucap ustad Farid tidak terima.
"Becanda ustad, becanda!" segera Wahid menetralkan suasana, "Cuma ini ustad?"
"Nggak, masih ada dalam bentar ya!"
Ustad Farid pun kembali masuk sedangkan Wahid membantu menaikkan tas besar ke atas pick up.
Setelah beberapa saat, akhirnya ustad Farid kembali keluar dengan membawa beberapa tas lagi, satu kresek besar warna merah dan sebuah karton yang tampak berat.
"Ya Allah, banyak bener barangnya." keluh Wahid.
"Trus barang ustad mana?" tanya Wahid lagi.
"Oh iya bentar hampir lupa." ustad Farid pun kembali masuk dan mengambil sebuah tas ransel berukuran sedang yang berisi beberapa baju dan barang pribadi miliknya seperti laptop.
"Cuma ini?" tanya Wahid tidak percaya.
"Memang kamu lihat aku bawa apa dari Bandung." ucap ustad Farid sambil menaikkan tasnya ke atas pick up.
Wahid mengamati kembali ke arah rumah, tidak ada siapapun yang menemui mereka selama mereka menaikkan barang-barang ke pick up,
"Sepi sekali, ustad?" tanyanya.
"Pak Suroso sama Bu Wiji lagi keluar bentar!" ucap ustad Farid sambil memastikan semua barang masuk.
"Tapi, kiranya airnya ada kan?" tanya Wahid karena ia benar-benar haus saat ini, ini siang hari bolong.
"Astaghfirullah hal azim." ustad Farid benar-benar terkejut, ia benar-benar merasa bersalah.
"Maaf ya Hid, Sampek lupa."
"Nggak pa pa ustad, itu kalau ada loh ya ustad."
"Insyaallah ada, bentar ya aku ambilkan." ustad Farid pun kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil satu botol teh kemasan dari dalam lemari pendingin. Udara yang panas membuat tenggorokan juga kering, minuman dingin di rasa paling cocok untuk saat ini.
"Minum Hid." ucap ustad Farid sambil menyerahkan botol kemasan itu,
"Makasih ustad, jadi merepotkan."
"Issstttt!" ustad Farid hanya berdesis dan tersenyum. "Kalau mau lagi, masih banyak di dalam."
"Sudah ustad, ini aja cukup!"
Mereka pun memilih duduk di sebuah beton pembatas taman yang ada di depan teras.
"Anin juga Nggak ada, ustad?" tanya Wahid tiba-tiba membuat ustad Farid memicingkan matanya.
Ya Allah posesif amet, padahal kan cuma nanya ...., batin Wahid.
"Maksud Wahid, kok nggak kelihatan. Gitu ustad." segera Wahid meralat ucapannya.
Tepat sebelum ustad Farid kembali mengomentari ucapan Wahid, Anin keluar dari dalam rumah dengan aroma segar yang menyeruak dari tubuhnya, dengan setelah kemeja dan celana kulot circle berwarna coklat susu yang di padukan dengan jilbab pasmina warna hitam.
"Ehhh mas Wahid, sudah lama mas?" tanya Anin dengan begitu sopan layaknya menyambut tamu.
"Baru!" jawab Wahid, Anin makin cantik aja , batin Wahid saat tanpa sengaja memperhatikan penampilan Anin yang lebih segar.
__ADS_1
Menyadari arah tatapan Wahid, segara ustad Farid menghampiri Anin,
"Dek, sudah selesai kan? Telpon bapak gihh, bilang kalau kita sudah mau pergi." perintah ustad Farid beralasan.
"Tapi mas_."
"Nanti kalau nunggu takut kesorean dek." ucap ustad Farid lagi dengan masih berdiri di depan Anin, menghalangi arah pandangan Wahid kepada Anin.
"Tapi masss, masalahnya bapak sama ibuk nggak punya hp. Mau di hubungi pakek apa."
Ahhh iya, kenapa bisa.lupa sih, gerutu ustad Farid dalam hati.
"Ya udah, sambil nunggu bapak. Dek Anin temui Novi dulu."
"Memang Nopi kenapa mas?"
"Ya temui aja dulu." ucap ustad Farid sambil membalik tubuh Anin.
"Tapi itu mas Wahidnya kok nggak suruh masuk sih mas?"
"Oh iya nanti di suruh."
"Baiklah, mas Wahidnya suruh masuk ya."
"Iya!"
Akhirnya Anin pun pasrah dan kembali masuk, tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Novi.
"Trus, ngapain aku di suruh ke kamar Novi? Ada-ada aja mas Parid nih!" gumam anin sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, pak Suroso dan Bu Wiji kembali. Ternyata mereka sengaja pergi untuk mencarikan barang bawaan untuk ustad Farid dan Anin.
"Ini jadi merepotkan bapak." ucap ustad Farid merasa sungkan saat melihat gerobak pick up yang penuh dengan bahan makanan, mulai dari sayur, beras, pisang, bumbu dapur hingga mie instan, benar-benar seperti pindahan sekarang.
"Nggak pa pa, jangan sungkan."
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kontrakan mereka. Ustad Farid dan Anin sampai lebih dulu.
"Ini mas, rumahnya?" tanya Anin antusias.
"Ya, gimana? kamu suka?"
"Suka mas!" Anin segara turun dari motor dan berjalan cepat menuju ke teras dan ustad farid pun segera menyusulnya. Ia merogoh kunci rumah dari dalam saku kemejanya.
"Biar mas buka dulu ya!" ucap ustad Farid membuat Anin menggeser tubuhnya.
Ceklek
Dan pintu pun terbuka, Anin pun bersiap masuk,
"Assalamualaikum." ucap Anin sebelum benar-benar masuk.
"Waalaikum salam." jawab ustad Farid dan mengikuti langkah Anin yang sudah masuk.
Karena terlalu asik mengobrol, sepertinya Mereka lupa jika ada Wahid yang juga baru datang dengan membawa barang-barang mereka.
"Gitu tuh kalau berurusan sama orang bucin, susah wes susah." gerutu Wahid sambil menggelengkan kepalanya.
"Memang iya aku harus menurunkan semuanya? Tega bener." keluhnya lagi.
"Apa boleh buat!"
Akhirnya Wahid mulai menurunkan barang-barang itu satu per satu. Sedangkan ustad Farid dan Anin tengah sibuk berkeliling di dalam rumah.
"Maaf ya dek,"
"Maaf kenapa?" tanya Anin sambil menghentakkan langkahnya tepat di ruang tengah.
__ADS_1
"Rumah ini lebih kecil dari rumah bapak!"
"Nggak pa pa, lagian yang nempatin kan memang hanya berdua!" ucap Anin sambil mengawasi sekitar dan merencanakan meletakan beberapa barang di ruangan itu.
"Insyaallah nanti kalau sudah bertiga atau berempat, kita cari rumah baru, semoga bisa beli dan nggak perlu ngontrak!" ucap ustad Farid sambil tersenyum.
"Aminnn!" Anin mengamininya dengan spontan, tapi segera ia mencerna kata-kata itu,
"Eh, maksudnya bertiga atau ber empat?"
Ustad Farid tersenyum dan mengusap kepala Anin,
Kayaknya ada yang kelewat ..., batin Anin. Tampak ia tengah berusaha memikirkan jawabannya.
"Ada yang kelewat ya mas?" tanya Anin menyerah, otaknya tidak begitu baik untuk mencerna kata-kata rumit.
"Ada." ucap ustad Farid dan.memberi jeda pada ucapanya, "Sepertinya Wahid yang kelewat."
"Ahhh iya, mas Wahid."
Tanpa menunggu aba-aba dari ustad Farid, Anin pun dengan cepat berjalan ke depan.
Terlihat di depan, Wahid tengah duduk di antara tumpukan barang-barang miliknya.
"Ya Allah mas, maaf ya." ucap Anin segera dan menghampiri Wahid, ustad Farid pun menyusulnya.
"Masuk aja, mas! Duduk di dalam, ada kursinya kok." pinta Anin dan Wahid pun kembali berdiri
"Ya Allah, ramah banget!" puji Wahid membuat Anin salah tingkah.
"Biasa aja mas!"
Hampir saja tangan Anin memukul bahu Wahid, saat tangan itu melayang di udara, segera ustad Farid menghadangnya.
"Deeek!" ustad Farid segera memberi peringatan.
"Ya Allah mas, kelepasan!" ucap Anin sambil menarik kembali tangannya.
Untung nggak jadi kena, kalah Sampek kena bisa perang dunia nih, batin Wahid lega.
"Kalau begitu Anin ke warung dulu deh buat beli minum, mas Parid sama mas Wahid masuk aja, sekalian barang-barangnya juga."
Bisa aja nih anak menghindar, batin Wahid sambil menatap kepergian Anin.
Cletukkk
Tiba-tiba sebuah buku mendarat di kepalanya.
"Aughhh, ya Allah ustad, tega bener!" keluh Wahid sambil memegangi kepalanya.
"Siapa suruh terus memandangi istri orang."
Mendengar hal itu, Wahid malah tertawa.
"Cie cie, yang udah punya istri." godanya.
"Awas ya, sekali lagi ngomong gitu. Aku usir kamu dari sini." ancam ustad Farid.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1