
Blitar
"Kok sepi, ustad Zaki kemana?" tanya Nur yang sengaja mampir dari sekolah. Ia tengah mengambil persyaratan pendaftaran kuliahnya.
"Ada, ibuk sama bapak lagi ke mushola!" ucap Zahra sambil menjukuk ke arah mushola yang entah letakkan di nama, selama di rumah sakit ia hanya bisa sholat sambil duduk karena dokter tidak membolehkannya beranjak dari tempat tidur selain ke kamar mandi.
"Tahu! Tadi ketemu di depan, yang aku tanyakan ustad Zaki, Jahhhhh!" ucap Nur gemas terhadap sahabatnya itu.
"Ohhh, lagi ke bandara buat jemput Abi sama ummi!"
"Lohhh mereka datang lagi?" tanya nur heran.
"Iya!"
"Kenapa?"
"Mau datang ke pernikahan!"
"Pernikahan siapa?"
Zahra pun meletakkan ponselnya lalu menatap sang sahabat, "Ya Allah nur, kamu udah kayak wartawan aja. Tanyanya dari A Sampek ke Z!"
"Ya abis kamu jawabnya sepotong-sepotong, jawab tuh yang lengkap makanya!"
Zahra menyebutkan bibirnya, kemudian ia merubah posisinya menjadi duduk,
"Jadi yang nikah itu ustad Farid!"
"Ustad Farid?" Nur tampak begitu terkejut hingga membuat Zahra menghentikan ceritanya.
"Nur, kamu nggak pa pa kan? Ada apa?"
"Nggak pa pa, lanjutkan saja. Sama siapa?" tanya nur dengan wajah yang betubah masam.
"Nur, jangan-jangan kamu suka ya sama ustad Farid? Iya?" tanya Zahra, ia enggan melanjutkan ceritanya sebelum Nur mengakuinya.
"Nggak Jah, aku cuma kagum."
"Beneran cuma kagum?" Zahra terus mencerca sahabatnya itu dengan pertanyaan yang sama.
"Baiklah, sebenarnya sempat terbesit rasa suka. Sempat kepikiran bisa kayak kamu yang nikah sama pria Sholeh yang bisa ngebimbing kita, tapi ternyata ustad Farid bukan jodoh aku Jah!"
Zahra pun menggeser duduknya dan mengusap bahu Nur,
"Sabar ya nur. Kayaknya di sini masalahnya kamu kurang gentle deh!"
"Maksudnya?"
"Kamu tahu bagaimana aku dan ustad Zaki menikah?"
"Hmmm!" Nur pun menganguk, ia masih ingat dengan jelas bagaimana gila dan beraninya sang sahabat meminta ustad Zaki untuk menikahinya.
"Lalu?"
"Kayaknya ustad Parid juga terjebak dalam situasi yang sama!"
"Kamu yakin?"
"Hmmm, coba deh pikir. Di berad di tulungagung itu baru beberapa hari dan tiba-tiba nikah aja, dan ini pertama kalinya ustad Farid ke Tulungagung. Menurutmu masuk akal nggak kalau mereka sudah punya hubungan sebelumnya?"
"Iya sih!"
__ADS_1
Sebenarnya Nur sudah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap ustad farid, tapi ia tidak berani mengungkapkan karena mereka juga bertemu baru satu kali. Dan dia berharap setelah ustad farid tinggal di Tulungagung mereka akan sering bertemu nanti dan siapa tahu mereka akan berjodoh, tapi ternyata takdir berkata lain. Jodoh tidak berpihak padannya.
***
Akhirnya kyai Syam dan Ummi sampah juga di tempat ustad Farid bersama orang tua ustad Farid.
Ternyata yang menyusul mereka ke bandara bukan ustad Zaki, ustad Zaki sengaja meminta pak Dul menjemput ke bandara, ia sengaja menjemput mereka di Tulungagung agar bisa bertemu dengan ustad Farid.
"Jadi kyai Syam dan ummi mau ke Blitar dulu?" tanya ustad farid pada ustad Zaki yang baru saja datang.
"Iya, insyaallah besok sore sudah di sini lagi!"
Mereka pun kembali menyantap makanan di kedai milik ustad Zaki. Sengaja ustad Farid dan ustad Zaki memisahkan diri dengan para orang tua agar bisa bicara berdua.
"Bagaimana ceritanya?" tanya ustad Zaki kemudian.
Ustad Zaki pura-pura mengerutkan keningnya meskipun ia sudah tahu apa yang di maksud oleh ustad Farid,
"Apanya?" tanyanya kemudian.
"Bagaimana bisa tiba-tiba nikah?" tanya ustad Zaki yang begitu penasaran.
"Kayaknya apa yang terjadi sama. kamu benar-benar terulang padaku!" ucap ustad Farid dengan yakin.
"Maksudnya?"
"Jangan pura-pura nggak ngerti deh!" ustad Farid benar-benar kesal saat ustad Zaki menggodanya seperti itu.
"Maksudnya ada gadis yang lamar kamu duluan?"
Ustad Farid pun hanya bisa memganguk membuat ustad Zaki tersenyum.
"Jangan senyum gitu." sekali lagi ustad Farid kesal dengan ekspresi ustad Zaki yang terkesan meledeknya,
"Iya deh kamu menang!" ustad Zaki mengalah meskipun tetap masih tersenyum,
"Sekarang gantian aku yang tanya!" ucap ustad Farid kemudian mengakhiri senyum manis ustad Zaki.
"Apa?" tanya ustad Zaki kemudian.
"Bagaimana bisa kamu sebucin itu sama si Zahra?"
"Memang dia istri aku!" jawab ustad Zaki dengan begitu mantap sambil menyeruput teh hangatnya.
"Zak, aku serius!"
Melihat wajah serius ustad Farid, ustad Zaki pun meletakkan kembali gelasnya dan kini ia duduk bersender dengan sandaran kursi plastik yang tengah ia duduki.
"Aku menerimanya karena allah, jadi apapun yang aku lakukan untuk dek Zahra jadi ibadah, dan itu lebih melegakan! Cinta kan katamu cuma bonus, jadi nikmati saja prosesnya, nanti juga jatuh cinta sendiri!"
"Jadi awalnya kamu nggak cinta?" tanya ustad farid lagi.
"Bukan. Tapi tanggung jawab!" jawab ustad Zaki mantap.
"Dan sekarang?"
"Hanya Allah yang tahu secinta apa.aku sama dek Zahra!"
"Cie, sweet banget!"
"Kamu nanti juga akan ngalamin hal yang sama, tinggi saja tanggal mainnya!"
__ADS_1
***
Anin menunggu Novi di gerbang sekolah, sengaja ia tidak turun dari motor karena ia malas jika harus melepas jaketnya. Hingga hampir setengah jam barulah adik perempuannya itu keluar.
"Ya Allah Nop, kebiasaan ha?!" keluh Anin sambil menyerahkan helm pada adiknya.
"Ada tambahan pelajaran mbak, gara-gara ustad Farid nggak datang!"
"Kok bisa nggak datang malah pulang belakangan sih?" gerutu Anin.
"Kan tugasnya jadi banyak! Oh iya mbak, beneran kan ustad Farid mau nikah sama mbak Anin?"
"Kepo ihhh!"
Anin pun segera menyalakan mesin motornya, dan dengan terburu-buru Novi ikut naik karena takut di tinggal.
***
Sepeninggal kyai Syam dan istrinya juga ustad Zaki, ustad farid pun mengajak kedua orang tuanya ke mes biasa tempatnya tinggal selama ini.
"Maaf Ambu, Abah tempatnya sempit!"
"Ini juga bagus, rapi. Wahid juga di sini?" tanya abah saat melihat Wahid juga di sana.
"Iya Abah, tapi aman nanti malam Wahid bakal tidur di kedai soalnya ada acara!" ucap Wahid merasa tidak enak.
"Nggak pa pa Hid, Abah justru senang karena Farid ada temennya."
"Tapi mulai besok Wahid bah yang nggak ada temennya!" ucap Wahid mencoba mencandai Abah.
Dan benar saja, hal itu berhasil membuat mereka tertawa.
Ustad Farid pun segera menyiapkan tikar untuk duduk kedua orang tuanya, ia juga membereskan barang-barang bawaan Abah dan Ambu.
"Duduklah bah, mbu!" ucap ustad Farid setelah semuanya siap.
Kedua orang tuanya pun segera duduk ddan mengamati sekitar sambil menselonjorkan kakinya.
"Trus persiapan kamu mana?" tanya Ambu saat tidak menemukan apapun di sana.
"Di tempatnya Aan Ambu!" jawab ustad farid sambil menuangkan dua gelas air putih untuk kedua orang tuanya.
"Aan?" tanya Ambu yang belum mengenal Aan.
"Teman Farid, Wahid juga!"
"Rumahnya jauh?"
"Enggak Ambu, cuma sekitar lima rumah dari sini!"
"Ya sudah kalau begitu nanti setelah mandi, antar Ambu ke sana ya!"
"Iya Ambu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...