Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 53


__ADS_3

Akhirnya tepat jam sepuluh malam, semua rangkaian acara berakhir. Para tamu sudah pulang, para tetangga yang membantu berlangsungnya acara juga sudah meninggalkan rumah pak Suroso,


Hanya tersisa satu dua orang saja dan mereka pun juga tengah bersiap untuk pulang.


Kursi-kursi plastik sudah di tumpuk sedangkan tenda masih di biarkan begitu saja dan rencana akan di bongkar besok pagi setelah sholat shubuh.


Di dapur, beberapa peralatan dapur juga masih di biarkan begitu saja dan rencananya akan di bereskan lagi besok sambil membuat jenang sumsum. Sudah menjadi kebiasaan orang Jawa jika selesai hajatan mereka akan membuat jenang sumsum agar setelahnya tidak loyo. Begitulah berdasarkan kepercayaan orang Jawa.


Ustad Farid sengaja mengulur untuk datang ke kamar, ia akan merasa canggung nanti saat berada di dalam kamar berdua saja dengan Anin. Membayangkannya saja sudah berhasil membuatnya bergidik ngeri.


Ia sengaja membersihkan meja yang masih berserakan, kardus-kardus Snack yang tertinggal di lantai dan halaman, ia masukkan ke dalam karung besar.


"Wes nak Farid, tinggalkan saja. Nak Farid istirahat saja, di lanjut besok pagi. Capek, bapak juga mau istirahat, ngantuk!" ucap pak Suroso sambil mengambil karung besar yang ada di tangan ustad Farid membuat ustad Farid tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain nurut.


"Iya pak! Kalah gitu biar itu Farid buang dulu!"


"Tidak perlu, besok ada tukang rosok datang. Lumayan bisa di jual!" ucap pak Suroso, "Walaupun tidak seberapa, bisa buat beli sabun cuci!" tambahnya lagi.


"Ya sudah kalau gitu Farid ke kamar dulu ya pak!"


"Iya sana!"


Bu Wiji, dan semua anggota keluar lainnya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing termasuk budhe yang tidur di kamar Novi bersama Novi.


Ustad Farid mondar mandir di depan pintu, ia bingung bagaimana harus masuknya,


"Apa perlu aku ketuk dulu ya?" gumamnya pelan sambil sesekali mengayunkan tangannya ke pintu, tapi baru sampai di udara sudah ia urungkan lagi.


Begitu juga dengan wanita yang telah ia persunting tadi pagi. Meskipun matanya sudah sangat perih dan ingin sekali di pejamkan, tapi ia benar-benar tidak bisa jika harus langsung tidur, perasaanya was-was. Apalagi saat melihat kembali kamarnya yang tidak ada tempat kosong selain kempat tidur karena perias pengantin tidak langsung membawa pulang semua perkakasnya. Mereka hanya membawa ayang langsung bisa di bawa malam ini sedangkan yang lainnya akan mereka ambil besok pagi bersama hiasan pelaminan.


"Masak kami harus tidur satu te.oay tidur sih!?" gumamnya lagi sambil mengukur berkali-kali tempat tidurnya yang hanya berukuran luas satu setengah meter itu.

__ADS_1


"Perasaan bisanya lebar banget, lega! Tapi kenapa di saat seperti ini jadi rasanya sempit sekali!" gumamnya lagi, kemudian ia meletakkan dua guling di tengah-tengah te.oat tidur dengan membagi rata bantal yang ia punya satu per satu.


"Gini sudah adil kan!?" ucapnya sambil tersenyum puas merasa sudah menemukan solusi atas masalahnya.


Di luar, ustad Farid pun akhirnya setelah menunggu selama hampir setengah jam. Ia pun memutuskan untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok


Ustad Farid mengetuknya Pelang agar tidak menggangu penghuni lainnya.


Sedangkan Anin yang mendengar bunyi ketukan, ia sampai terlonjak begitu terkejut.


"Astaghfirullah hal azim, bagaimana ini!?" ucapnya gugup sambil memegangi letak jantungnya yang berdekatan begitu keras seolah-olah baru saja mendengarkan suara bom meledak hungga menggetarkan jantungnya.


"Assalamualaikum!" sapa Ustad Farid sebelum membuka pintu.


"Astaghfirullah hal azim!" bukannya menjawab dengan jawaban salam, Anin malam menjawab Dnegan istighfar.


"Waalaikum salam!" jawabnya jwdnagn cepat begitu menyadari kesalahannya.


Pertanyaan itu semakin membuat Anin tegang.


"Gimana ini?" gumamnya lirih, "Tadi siang nggak pa pa dia masuk, kenapa sekarang jadi kayak ada musik jedag jedugnya."


"Dek," karena tidak ada tanggapan dari dalam ustad Farid pun kembali memanggil membuat Anin tergagap.


"Apa, i,iya. Masuk aja mas nggak di kunci!"


Bukannya lega karena sudah dipersilahkan masuk, ustad Farid malah bertambah gundah antara masuk dan tidak.


"Loh, kok masih di luar? Anin sudah tertidur ya? Apa kamarnya di kunci?" pak Suroso yang baru saja dari luar begitu terkejut saat melihat usrad Farid masih di depan pintu.

__ADS_1


"Mboten pak (enggak pak), ini baru mau masuk, tadi habis dagi kamar mandi dulu!" jawab ustad Farid dengan bahasa Jawa sebisanya.


"Ohhh, kirain bapak di kunci sama Anin!"


,"Nggak kok pak, ya sudah kalau gitu Farid masuk dulu ya pak!"


"Iya, masuklah!"


Karena pak Suroso masih berdiri di tempatnya, terpaksa ustad Farid pun masuk lebih dulu.


Anin pura-pura tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dnwgan selimut, ustad Farid terlihat bingung saat menatap kamar itu. Tidak ada tempat kosong selain tempat yang ada di sebelah Anin.


Lantai juga penuh, tidak ada sofa atau apa untuk tidur. Ustad Farid pun memutuskan berjalan menghampiri tempat tidur karena kini matanya benar-benar sudah ingin di istirahatkan, tadi siang ia bahkan tidurnya harus terganggu dengan ibu-ibu tukang gibah.


Dnwgan sangat hati-hati ustad farid meletakan bokongnya di atas tempat tidur agar tidak menggangu orang yang tengah tidur di sebelahnya.


Tapi rupanya gerakan kecil itu tetap saja mengguncang jantung Anin, ia sampai harus menahan nafas agar tidak menimbulkan gerakan. Ia takut jika tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya.


Cukup lama Anin terjaga hingga keringatnya membasahi kening dan bebwbtaoa tubuhnya karena tidak berabi bergerak sama sekali, hingga ia bisa mendengar suara dengkuran nafas teratur Dati sebelahnya.


Apa iya sudah tidur? Secepat itu? batin Anin.


Karena begitu penasaran, perlahan Anin pun mulai membuka selimutnya centi demi centi hingga menampakkan kepalanya saja. Ia perlahan membalik badannya dan benar saja pria yang telah resmi menjadi suaminya itu tengah tidur terlentang dengan mata terpejam dan nafas yang teratur.


"Hahhh, kenapa tidur?" gumam Anin nyaris tidak terdengar. Entah apa yang sebenarnya ia inginkan, sebelumnya ia ingin pria itu cepat tertidur tapi saat pria itu tertidur ia malah tidak menyukainya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2