
Anin pun kembali membalik badannya menghadap ke dinding, ia tidak ingin membangunkan pria yang sudah tertidur pulas itu.
Terasa baru beberapa menit saja ia menajamkan mata, tiba-tiba ia merasa tubuhnya di goyang oleh seseorang hingga membuatnya segera mengerjakan mata,
"Dek bangun sudah subuh!"
Pria itu begitu mirip di mimpinya beberapa bulan lalu, samar-samar Anin nyaris memejamkan matanya lagi tapi sekali lagi sebuah tangan menepuk-nepuk bahunya yang tertutup selimut.
Kenapa dia di kamarku? batin Anin, seketika ia terbangun dan berada dalam posisi duduk.
"Mas Farid!"
"Maaf, mas menggangu tidurmu. Tapi ini sudah shubuh."
"Aku nggak sholat mas, kenapa di bangunkan pagi-pagi!" keluh Anin seharusnya ini menjadi hari liburnya dan bisa bangun agak siangan.
"Oh!" ustad farid segera menjauhkan tangannya, "Maaf sudah menggangu tidur dik Anin, mas berangkat dulu ke masjid ya!"
Anin mengangukkan kepalanya dengan mata yang kembali terpejam.
"Assalamualaikum!" ucap suara Farid berpamitan.
"Waalaikum salam!"
Blekkkk
Ustad Farid menggelengkan kepalanya begitu melihat Anin yang kembali tumbang di atas tempat tidur.
Rupanya semalam setelah ustad Farid tidur, Anin tidak bisa tidur, sampai hampir pagi barulah Anin bisa memejamkan matanya karena rasa lelah dan kantuk yang mendera.
Ustad Farid kembaki menutup pintu kamarnya begitu keluar, saat di depan ia berpapasan dengan pak Suroso yang sepertinya juga akan pergi ke masjid.
"Mau ke masjid nak Farid?" sapa pak Suroso.
"Iya pak!"
"Kalau gitu barengan aja!"
"Mari!"
Mereka pun berjalan bersamaan menuju ke masjid, jarak masjid dan rumah yang lumayan agak jauh membuat mereka menghabiskan waktu hampir sepuluh menit hingga sesampai di masjid sudah terdengar iqomah dari Muazin.
Karena mubaliq yang di undang pak Suroso kemarin, membuat beberapa dari orang kampung tahu kalau menantu pak Suroso itu adalah seorang ustad, terutama kyai yang biasa menjadi imam di masjid.
__ADS_1
"Nak Farid!" pria dengan sorban putih itu menghampiri ustad Farid.
"Iya?"
"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau nak Farid menjadi imam subuh hari ini!" usul pria itu dan langsung mendapat persetujuan dari beberapa bapak-bapak yang ada di sana. Pak Suroso pun ikut mengangukkan kepalanya.
Akhrinya ustad Farid pun tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Ia pun segera mengambil tempat sebagai imam.
Rupanya bacaan surat ustad farid yang merdu membuat para jama'ah terkesima dengan suaranya. Bahkan jamaah ibu-ibu yang jumlahnya hanya sekitar empat orang itu terdengar saling berbisik membicarakan imam baru di masjid mereka setelah sholat subuh usai.
"Pinter ternyata Anin cari suami Yo yu!"
"Iyo! Suarane Jan uapik tenan (suaranya benar-benar bagus)!"
"Aku krungu-krungu wong e Yo ustad to yu (Aku dengar-dengar orangnya juga seorang ustad to mbak)!"
"Hooh jare bapak, Sayange aku Ra Melu walimauan dadi Yo ora ngerti (iya kata bapak, sayangnya aku tidak ikut walimatul urs jadi ya tidak tahu)!"
Di tempat jamaah pria, orang yang tadi meminta ustad farid untuk menjadi imam pun segera menghampiri ustad Farid.
"Nak,"
"Bisa kita bicara sebentar? Ustad Farid tidak buru-buru kan?" tanya pria itu dan ustad Farid pun tersenyum.
"Jangan memangil saya seperti itu kyai, saya masih harus banyak belajar untuk mendapatkan gelar itu!"
"Subhanallah, saya suka sama sikap nak Farid!"
"Alhamdulillah!" ustad Farid tersenyum dan mengelus dadanya, ",Kyai mau bicara apa ya?"
"Bagaimana kalau kita duduk di sana, biar lebih enak!" ucap kyai itu sambil menunjuk ke sudut masjid.
"Baik kyai!"
Mereka pun akhirnya duduk di sudut masjid, sedangkan para jama'ah lain tampak masih asik mengobrol satu sama lain sambil menunggu matahari terbit begitu juga dengan pak Suroso yang juga bergabung dengan lainnya.
"Jadi begini. Sebenarnya di sini sedang membutuhkan guru ngaji, tapi ustad Farid tahu sendiri kan kalau guru ngaji itu nggak ada gajinya. Para pemuda di sini yang bisa ngaji lebih memilih mencari uang di kota atau sibuk di ladang!"
Ustad Farid belum ingin menanggapi, ia memilih diam dan menunggu kyai itu melanjutkan bicaranya.
"Anak-anak di sini nggak ada yang ngajar ngaji, mereka harus ngaji di luar desa itupun jaraknya cukup jauh. Kalau nak Farid tidak kebagaimana kalau nak Farid bantu saat mengajar di sini. Soalnya saya bisanya cuma seminggu dua kali."
__ADS_1
"Alhamdulillah jika saya di butuhkan di sini, kyai! Justru saya sangat senang, tapi mohon maaf karena saya punya tangyh jawab yang lain, saya juga tidak bisa ful. Mungkin bisanya satu minggu juga hanya dua kali, kyai!"
"Tidak masalah, insyaallah beberapa bulan lagi putra saya pulang dari pesantren, insyaallah dia bisa bantu nak Farid juga nanti di sini!"
"Alhamdulillah kalau begitu!"
Akhrinya mereka pun mengakhiri obrolan mereka saat bapak-bapak yang lain juga mulai meninggalkan masjid, pak Suroso menghampiri kyai dan ustad Farid.
Mereka pun berpamitan utbin pulang, seperti saat berangkat saat pulang pun mereka masih jalan kaki. Pak Suroso tampak penasaran dengan yang di bicarakan kyai Hasan snaggan menantunya itu,
"Nak Farid, kalau boleh tahu, kyai Hasan tadi membicarakan apa sama nak Farid?"
"Oh itu pak, Farid di mintai tolong untuk bantu-bantu ngajar ngaji anak-anak!"
"Kamu setuju?"
"Insyaallah pak, tapi nggak bisa setiap hari!"
"Kyai Hasan tidak membicarakan hal lain?" tanya pak Suroso membuat ustad Farid menoleh padanya tapi kembali lagi ia menatap ke depan,
"Eh maksudnya, tentang anaknya?"
"Oh itu," ucap ustad farid tapi segera pak Suroso terkejut.
"Jadi kyai Hasan membicarakan anaknya?"
"Iya, sedikit pak. Hanya membicarakan tentang anaknya yang sedang belajar di pesantren!"
"Hanya itu?" tanya pak Suroso begitu terlihat penasaran. Ustad Farid pun menghentikan langkahnya menguat pak Suroso ikut berhenti.
"Iya pak, apa ada masalah?"
"Ohhh tid_tidak! bukan apa-apa! Ayo, sudah sangat terang pasti ibumu sudah nunggu-nunggu!" ucapnya lagi dengan sedikit gugup lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1