
Ustad Farid dengan cepat menerima telpon dari Anin, ia teringat dengan pesan Anin sebelum berangkat,
"Assalamualaikum dek," sapa ustad Farid tanpa menunggu jawaban dari sang istri, ustad sudah lebih dulu melanjutkan bicaranya, "Iya. dek bentar lagi mas pulang!" ustad Farid masih teringat dengan pesan sang istri sebelum pergi, ia sudah meninggalkan sang istri lebih dari satu jam.
"Waalaikum salam, mas! ya Allah bukan kayak gitu mas,"
Ustad Farid mengerutkan keningnya, sedangkan ustad Zaki memberi isyarat bertanya dengan menggerakkan bibirnya, dan ustad Farid mengangkat kedua bahunya.
"Nggak usah cepet-cepet kembali ya,"
"Kenapa?"
"Aku masih pengen banyak ngobrol sama Zahra! Sudah ya, kalau bisa yang lama, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam." jawab ustad Farid dengan wajah bingungnya.
"Ada apa sih? kita pulang sekarang?" tanya ustad Zaki melihat ekspresi ustad Farid yang tampak bingung itu.
Ustad Farid menyakukan kembali ponselnya dan kembali duduk,
"Enggak!" jawabnya singkat membuat ustad Zaki menyodorkan minuman dingin milik ustad Farid.
"Minumlah!"
Ustad Farid pun segera menyesap minuman itu menggunakan sedotan, setelah menelan minumannya ia pun menatap sahabatnya itu,
"Kamu ngerasa nggak?" tanyanya tiba-tiba.
"Apanya?" tanya ustad Zaki bingung.
"Kamu ngerasa nggak kalau wanita itu susah di mengerti?"
"Baru tahu ternyata dia," gumam ustad Zaki sambil tersenyum. "Kamu punya pemikiran seperti itu dari sudut pandang mana dulu nih? Kayaknya perlu di kupas satu per satu deh." ucap ustad Zaki yang merasa ustad Farid tengah butuh pencerahan. Maklum lah, meskipun sudah terpisah lama ia cukup tahu bagaimana ustad Farid. Ustad Farid sejak kecil hidupnya terlalu lempeng, paling anti menerobos lampu merah.
"Kamu dengar kan, tadi pas berangkat. Dek Anin bilang kalau suruh jangan lama-lama, eh barusan malah bilang jalan pulang cepet soalnya masih betah ngobrol. Ini maksudnya gimana? Yang benar yang mana?" tanya ustad Farid dengan wajah bingungnya.
"Kenapa kamu merasa kalau ada perkataan istri kamu yang tidak sebenarnya alias ambigu?" tanya ustad Zaki.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu, kebetulan kami sudah memiliki kontrakan sendiri. Seharian aku ada acara, trus beberapa temen kedai ngajak ngopi sebelum pulang, aku kirim pesan dong sama dek anin, bilang kalau mau nongkrong bentar, eh tiba-tiba dek Anin telpon dia bilang gini, ' di puas-puasin nongkrongnya ya mas, Anin nggak pa pa di rumah sendiri'."
"Trus habis itu apa yang terjadi?"
"Pas aku pulang, sama sekali nggak di sapa Zak, dia ngambek sampai paginya!"
Ustad Zaki tiba-tiba tertawa, "Alhamdulillah, akhirnya kamu kena juga."
"Maksudnya gimana nih?" tanya ustad farid bingung.
"Lain kali di dengerin dengan benar gimana nada bicaranya Rid, jangan Sampek kita kena jebakan Betmen."
"Perasaan sama saja."
"Nanti kalau sudah satu atau dua bulan, kamu bakal tahu juga bedanya." ustad Zaki tersenyum penuh makna. "Dan yang lebih parahnya, kamu juga harus tahu kalau sesuatu yang tidak di ucapkan berarti kita harus cari jawabannya sendiri."
"Sesusah itu ya?" tanya ustad Farid dengan nada frustasi membuat ustad Zaki tersenyum.
"Nggak juga, justru itu kadang yang buat kita merasa dibutuhin banget sebagia seorang laki-laki."
"Lebih baik telpon lagi aja dan tanyakan apa perlu oleh-oleh atau tidak. Kalau dia bilang tidak perlu, maka beli saja yang menurutmu dia suka."
"Yang benar saja," keluh ustad Farid.
***
Selagi para laki-laki tengah bingung memikirkan para istri, ternyata di rumah ustad Zaki, Zahra dan Anin sudah benar-benar lepas tertawanya.
"Ya ampun, jadi mas Parid kena doa kamu?"
"Iya, dia itu paling anti sama wanita Jawa. Katanya nggak bisa eF,"
"Aku juga nggak bisa eF sih, emang awal-awalnya protes. Tapi mungkin sekarang sudah capek protes makanya pasrah aja aku panggil mas Parid."
Ha ha ha ...
Zahra benar-benar nggak bisa nahan tawanya saat ngobrol dengan Anin. Ternyata mereka satu server soal nyablaknya.
__ADS_1
"Ah iya, aku baru ingat. Nur lama banget ya nggak datang-datang." gumam Zahra kemudian sambil memeriksa ponselnya.
"Temen kamu ya?"
"Iya, dia sengaja libur kampus buat nengokin aku."
"Seneng ya punya temen kayak gitu."
"Ya cuma satu itu temennya Zahra. Kalau mbak Anin?"
"Kayaknya lebih baikan kamu, soalnya aku nggak punya temen sih."
Baru juga di bicarakan, wanita yang tengah dibicarakan akhrinya muncul juga.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam," jawab Anin dan Zahra bersamaan.
Langkah Nur terhenti di depan pintu, "Jah, kok nggak bilang sih kalau ada tamu," protes Nur,
"Nggak pa pa, masuk aja." ucap Zahra membuat Nur berjalan mendekati Zahra dan duduk di sampingnya.
"Kenalkan, ini mbak Anin. Istrinya ustad Farid." ucap Zahra membuat Nur terdiam sesaat.
"Cantik ya!" ucap Nur dengan senyum yang sulit diartikan.
Maaf ya semuanya, akhir-akhir ini keteteran banget up nya. Soalnya lagi sibuk-sibuknya di dunia nyata, lagi musim mau ujian sekolah soalnya, semoga maklum ya,
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1