
Akhrinya acara yang di tunggu-tunggu tiba, rumah Anin tampak sibuk.
Para tetangga sudah datang untuk membantu pak Suroso dan Bu Eiji.
Mereka tampak membagi tugas. Tenda sed3hana milik desa sudah terpajang di halaman luas pak suroso.
Di dalam kamar Anin, seorang perias tengah sibuk merias Anin.
Sedangkan pak Suroso dan Bu Wiji yang sudah memakai kebaya tampak sibuk menjamu tamu yang datang. Meskipun dadakan satu kampung sudah mendengarnya.
Meskipun tidak di undang, mereka sebagai datang untung memberi selamat.
Satu jam lagi acara ijab Qabul di mulai,
"Buk, sana cepat lihat anak kamu. Sudah siap apa belum!" ucap pansuroso pada sang istri.
"Iya pak!"
Bu Wiji pun segera masuk ke dalam rumah, ia menuju ke kamar Anin untuk melihat putrinya.
"Mbak, Pye? wes rampung to? (gimana sudah selesai kah?)" tanyanya pada perias.
"Kedap maleh Bu (bentar lagi Bu)!"
"Mobil e wes teko, ibuk Karo bapak nunggu nek ngarep Yo (mobilnya sudah datang, ibuk dan bapak nungui di depan ya)!" kali ini Bu Wiji bicara pada Anin.
"Nggeh Bu (iya Bu)!"
Bu Wiji pun akhrinya kembali meninggalkan Anin dan periasnya. Mereka akan mengadakan ijab Qabul di masjid kampung, memang tidak jauh tapi kasihan jika Anin jalan kaki dengan tapih yang di pakainya, dia pasti akan kesulitan untuk jalan.
Raut wajah semua yang datang dan berada di sana memancarkan kebahagiaan kecuali satu orang. Budhe Harti_, Budhenya Anin. Ia tampak duduk sendiri dengan wajah yang di tekut tidak senang. Ia benar-benar menginginkan pernikahan ini tidak terjadi.
Hingga akhrinya Anin selesai juga di rias, ia pun di antar keluar oleh periasnya. Semua yang ikut ke masjid pun bersiap-siap, tidak terkecuali Novi juga.
Tapi ada yang kurang,
"Budhe mana pak?" tanya Anin saat tidak menemukan wanita itu.
"Nggak tahu, kayaknya masih di dalam biar bapak lihat!"
"Nggak sudah, bapak masuk saja ke mobil. Biar Anin yang panggil!"
"Baiklah!"
Anin pun kembali, sebenarnya itu cuma alasan saja, yang benar ia tengah menetralkan degup jantungnya yang semakin kencang saat detik-detik pernikahannya semakin dekat. Ia tidak menyangka akan secepat ini dengan pria pilihannya juga.
Setelah menarik nafas dan menghembuskan beberapa kali, Anin merasa sudah lebih baik. Ia melanjutkan langkahnya untuk mencari sang budhe.
Rupanya wanita itu tengah duduk santai di dapur sambil menikmati kopinya,
__ADS_1
"Budhe, budhe nggak ikut ke masjid? Semua sudah siap loh?"
"Nggak!" jawabnya dengan nada sinis.
"Kenapa? Budhe masih marah ya?" Anin semakin mendekat.
"Menurutmu? Dasar bocah nggak ngerti matur swon, jauh-jauh budhe ke sini, nyariin kamu jodoh yang baik eh malah milih ustad yang nggak tahu mau di bawa kemana rumah tangganya nanti."
"Budhe, kenapa selalu meremehkan ustad sih budhe?"
"Ya lihat aja, noh si Rozikin, anaknya Sampek lima tapi kayak cacing kepanasa semua kayak nggak di kasih makan. Itu ustad, Anin! Atau si Hasan kampung sebelah, rumah aja numpang terus!"
"Ya Allah budhe, setiap orang tuh nggak sama."
"Kalau ustad, ya rata-rata sama. Wong pekerjaannya ngulang ngaji (mengajar ngaji)! Mana sempet cari uang buat anak istri, makanya mikir!"
Anin Sebenarnya begitu kesal Dangan pemikiran Budhenya, tapi di hari yang seperti ini tidak lah baik utbin berdebat, ia pun menghela nafas untuk mengurangi rasa sesak di dalamnya.
"Ya udah, kalau budhe nggak mau ikut, Anin berangkat! Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!" jawab sang budhe saat Anin sudah berlalu dari hadapannya.
Di tempat lain, tampak rombongan surad Farid juga tengah riuh mempersiapkan semuanya.
Ustad Farid tampak begitu tampan dengan setelan jas dan kopyah serba putih khas pengantin, berbeda dari penampilan biasanya. mereka sudah menyewa dua mobil untuk membawa rombongan.
Kyai Syam dan sang istri juga sudah datang, ustad Zaki tidak bisa ikut, mereka datang bersama Amir.
Entah sudah berapa kali ia bolak balik ke kamar mandi, rasanya ini belum menegangkan saat ujian skripsi.
"Jadi apa yang di bawa?" tanya Ambu pada Aan yang tengah menyiapkan semuanya.
"Untuk acara ijab Qabul cukup mas kawin saja, Ambu!"
"Trus yang lainnya?"
"Nanti saat acara temu manten, seyakg acara ijab Qabul!" ucap Aan menerangkan, Aan di temani orang tua istrinya untui menjelaskan tentang adat pernikahan di Jawa.
"Baiklah, kalau gitu kita berangkat!" ucap Abah saat melihat semua sudah siap.
"Baik bah!"
Semua orang sudah masuk ke dalam mobil tapi malah ustad Farid yang tidak ada,
"Loh si Farid kemana?" tanya Abah.
"Masih di kamar mandi bah!" ucap Wahid yang baru datang.
"Ya Allah, sudah berapa kali dia ke kamar mandi!" keluh Abah sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Hingga akhrinya ustad Farid dan rombongan pun berangkat menuju ke lokasi ijab Qabul.
Benar saja saat mereka sampai, pak penghulu sudah lebih dulu datang,
"Maaf, kami terlambat!" ucap kyai Syam pada pak penghulu.
"Tidak pa pa kyai, insyaallah masih ada waktu setengah jam lagi hingga acara di tempat lain!"
"Alhamdulillah kalau begitu!"
Setalah menunggu beberapa menit,
akhrinya mobil rombongan pengantin wanita pun sampai juga di masjid tempat ijab kabul.
Karena pak penghulu terburu-buru, ada yang harus ia nikahkan lagi setelah ini, mereka hanya saling bersalaman tanpa sempat mengobrol banyak.
"Sudah siap?" tanya penghulu pada ustad Farid yang tengah memakai baju serba putih khas pengantin dengan kalung bunga melati yang menggantung di lehernya, Anin pun sudah duduk di sampingnya, meskipun bersebalahan mereka bahkan sama sekali tidak berani saling pandang.
Sang mempelai wanita tidak kalah cantiknya dengan kebaya putih dan jilbab panjang bagian belakangnya hingga menjuntai ke lantai. Kain Jarit yang menjadi bawahan kebayanya membuatnya semakin anggun.
DI belakang mereka sudah duduk berjejer para kerabat yang sengaja di undang untuk menjadi saksi pernikahan mereka, tidak terkecuali dengan kedua orang tua ustad Zaki yang memang kebetulan ada di Jawa sedangkan ustad Zaki sendiri terpaksa tidak bisa datang karena masih harus menjaga sang istri.
"Siap!" jawab ustad Farid dengan begitu lantang.
"Baiklah ikuti saya pak!" ucap pak penghulu sambil membimbing pak Suroso.
"Saya nikahkan engkau Farid Ramadhan bin Dadang dengan putri saya ayu anindita dengan mas kawin tersebut tunai!"
Dan dengan cepat ustad Farid menyahut ucapan pak Suroso.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Anindita binti Suroso dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ustad Zaki berhasil melafalkannya hanya dengan sekali tarikan nafas.
"Sahhhhh!" suara itu menggema di sebuah masjid yang berada di salah satu desa kecil yang ada di kabupaten Tulungagung.
"Alhamdulillah!"
Baik ustad Farid maupun Anin segera mengatupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Ada kelegaan di hati mereka.
Lantunan doa dari penghulu mengiringi pernikahan mereka, dan di Aminin semua yang datang, pernikahan itu di sambut haru oleh semua yang datang.
"Silahkan mempelai laki-laki membacakan doa untuk sang istri!" ucap penghulu dan ustad Farid dan juga Anin saling berhadapan. Mereka saling berhadapan, dnwgan degup jantung yang saling bersahutan ustad Farid memberanikan diri untuk menempelkan telapak tangannya di atas kepala anin dan mulai membacakan doa untuk wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya.
Desiran halus tiba-tiba menyusul ke ulunhati Anin saat mendengarkan doa yang di lantunkan sang suami. Rasanya seperti sesuatu yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Begitu hebat dan membekas.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...