
Anin melepaskan mukenanya dan melipatnya tapi di atas sajadah, sedangkan ustad Farid melepas kopyahnya dan menunggu Anin, ia duduk di tepi tempat tidur.
Anin perlahan mendekat dan duduk di samping sang suami. Meskipun udara di luar sangat dingin karena baru saja hujan, tapi tiba-tiba di dalam kamar terasa panas terlihat dari keringat yang sesekali muncul di bawah hidung dan kening Anin.
Jantungnya terasa berdegup kencang, tangannya juga tengah memilin apapun yang bisa di pegangnya.
Krettt
Suara decitan ranjang menjadi terasa begitu nyaring saat Anin duduk, suasana begitu hening bahkan ustad Farid pun tidak mengeluarkan suara.
Keberanian Anin yang tadi tiba-tiba hilang,
srekkk
Tiba-tiba tangannya di pentang oleh ustad Farid membuat jantung Anin hampir saja copot, beruntung Anin tidak sampai berteriak. Tangannya menjadi begitu dingin karena keringat.
"Dek," panggil ustad Farid.
"Emmm,"
"Mas mulai sekarang ya?"
Ya ampun kenapa meski tanya sih ...., batin Anin dan Anin pun hanya bisa menganguk, tubuhnya terasa kaku.
Apalagi saat ia merasakan perlahan ustad Farid mendekatkan tubuhnya ke arah Anin. Nafasnya ia tahan, sekali lagi decitan dari ranjang membuat jantungnya semakin dag dig dug.
Anin memejamkan matanya, bersiap menerima segala perlakuan dari sang suami.
Perlahan tangan ustad Farid menarik tubuh Anin dan rebahkannya ke tempat tidur.
Tangan mengusap kepala anin, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Dek, Terimakasih ya sudah menerima mas."
Anin membuka matanya kembali dan mengangukkan kepalanya pasrah. Meskipun ia tidak yakin bisa, tapi ia sudah siap menyerahkan jiwa raganya malam ini untuk sang suami.
Perlahan tangan ustad Farid mulai membuka kancing baju Anin.
Malam yang dingin itu, tiba-tiba menjadi malam yang panjang bagi sepasang suami istri itu. Bersamaan dengan peluh yang membasahi tubuh di sertai *******.
***
Anin mengerjapkam matanya saat merasakan sentuhan pada kepalanya dengan suara lembut yang berbisik di telinganya,
"Dek, bangun dek, bentar lagi subuh."
Ustad Farid sudah begitu segar dengan baju Koko dan sarung lengkap dengan kopyahnya.
"Mas," Anin begitu berat membuka matanya karena seluruh tubuhnya terasa sakit. Rasanya seluruh tulangnya ingin lepas satu per satu.
"Bangun dek, mas sudah siapkan air hangat."
"Bentar lagi ya mas, tubuh anin sakit semua." keluh Anin dengan suara serak, ustad Farid tersenyum dan menggecup bibir Anin membuat Anin terkejut.
"Mas, kenapa cium Anin?"
__ADS_1
"Memang apa masalahnya, dek?"
"Anin masih bau."
Ustad Farid tersenyum dan kembali mencium bibir Anin,
"Massss."
"Ini aromanya harum, dek. Mas suka!" ucap ustad farid sambil mengusap bibir Anin membuat Anin tersipu malu.
"Mau ke kamar mandi sendiri atauas gendong."
"Nggak ah mas, Dewe iso (Sendiri bisa)."
"Ya sudah mas ke masjid dulu ya."
"Iya."
Beri saja ustad Farid mengambil sajadahnya, tiba-tiba Anin yang hendak berjalan tiba-tiba mengeluh.
"Aughhhh."
Hal itu membuat ustad Farid mengurungkan niatnya untuk pergi, ia segera menghampiri Anin yang kembali duduk di tempat tidur.
"Kenapa dek?"
"Iki mas, rasane loro ( Ini mas, rasanya sakit)." ucap Anin sambil menunjuk tubuh bawahnya.
"Ya sudah mas bantu ya, maaf kayaknya mas terlalu bersemangat semalam."
"Sudah mas, Sampek sini aja
Nanti Anin bisa sendiri ke kamarnya. Mas ke masjid aja, itu sudah azan."
"Tapi dek, nanti kembalinya gimana?"
"Insyaallah kalau setelah mandi agak enakan."
"Ya udah mas berangkat ya."
"Hmmm."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
***
"Mas, nggak ke sekolah?" tanya Anin saat melihat suaminya masih belum siap-siap, ia malah sibuk memeluk tubuhnya terus.
"Boleh nggak ya hari ini ijin dulu!?" ucapnya manja sambil menyusupkan wajahnya ke temgkut Anin, rasanya sayang untuk melepaskan tubuh Anin.
"Memang mau ijin apa mas?"
"Ijin pengantin baru."
__ADS_1
"Siapa yang pengantin baru?"
"Kita dong dek."
"Sudah kelewat mas pengantinnya baru."
"Tapi kan malam pertamanya baru semalam."
"Siapa suruh." gumam Anin lirih, "Kemarin-kemarin aja kayak nggak butuh, sekarang nggak mau lepas." ucapnya lagi membuat ustad Farid menatap ke arahnya.
"Jadi dek Anin nggak suka?"
"Suka banget."
"Gimana kalau sebelum mas berangkat, kita lakuin lagi? Mas masih pengen."
"Ngaaaakkkk!" ucap Anin dengan cepat, "Masih sakit mas,"
"Tapi cium aja boleh ya?"
"Cium aja loh ya." ucap Anin memastikan dan ustad Farid pun menganggukkan kepalanya.
Cup
Tidak butuh waktu lama, ustad Farid sudah menyambar bibirnya. Tapi bukan seperti ciuman biasanya, kali ini ustad farid benar-benar ketagihan. Beruntung Anin segera menahannya agar tidak kebablasan.
"Mas, sudah jam tujuh loh. Nanti lagi ya, Anin juga mau pijet dulu, badan Anin sakit semua."
Walaupun sebenarnya enggan, tapi ustad Farid tidak bisa menolaknya. Ia memang harus ke sekolah.
Ini kali pertama ustad farid datang terlambat ke sekolah.
"Ustad Farid sakit ya?" tanya Bu Hasna.
"Enggak Bu,"
"Nggak biasanya loh ustad datang terlambat, saya kira sakit. Kayaknya ustad juga kurang tidur."
"Ohhhh ini, semalam lembur Bu."
"Memang ustad, kalau awal-awal semester gini banyak pekerjaan. Harap maklum, ustad."
"Iya Bu, ya sudah Bu kalau begitu saya ke kelas dulu."
"Iya pak, silahkan."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1