Ustad, Nikahi Aku!

Ustad, Nikahi Aku!
Bab 91


__ADS_3

Hingga akhirnya ustad Fais memberanikan diri untuk bertanya, "Kapan bah?"


"Sekitar enam atau tujuh bulan lalu."


Flashback on


Hari ini Fais lulus dari pesantrennya, ia sudah bersiap-siap untuk pulang sebelum seseorang menghampirinya.


Beliau ustad besar pesantren,


"Maaf jika kedatangan saya ke sini menggangu aktifitas ustad Fais."


"Sungguh tidak begitu kyai, saya seharusnya yang meminta maaf hingga membuat kyai datang ke kamar saya. Jika kyai ada perlu sama saya, saya pasti akan sowan teng kyai."


"Tidak pa pa, sekalian saya jalan-jalan tadi. Saya dengar dari Ustad yang lain, ustad Fais berencana untuk pulang hari ini? Apa itu benar?"


"Iya kyai, saya pikir karena masa pendidikan saya sudah selesai saya berencana untuk pulang hari ini, kyai."


"Sayang sekali, sebenarnya pesantren ini masih sangat membutuhkan tenaga ustad. Saya berharap ustad Fais bisa memikirkan kembali keputusan, ustad untuk tetap tinggal di sini barang satu tahun lagi."


"Maaf ustad, saya belum bisa memutuskan sekarang. Beri saya waktu hingga nanti ba'dha isya'."


"Baiklah, kalau begitu saya tunggu kabar baiknya."


"Insyaallah."


Setelah kyai meninggalkan kamarnya, ustad Fais pun kembali termenung, pasalnya rencananya untuk pulang hari ini berkaitan dengan telfon dari seseorang.


Ustad Fais kembali memegangi ponselnya, ia masih bimbang harus memutuskan yang mana.


Ustad Fais pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan beres-beres, ia memilih mengambil wudhu dan menggelar sajadah di lantai kamarnya. Ustad Fais pun mulai melakukan sholat Sunnah dua rakaat.


"Ya Allah, mantapkan hatiku untuk memilih salah satu dari dua pilihanMu ini. Aku tidak tahu jalan mana yang terbaik untukku, tapi jika dia memang Engkau takdirkan menjadi jodoh hamba, tetaplah jaga dia hingga aku kembali ya Allah. Biarkan aku memilih untuk memulyakan agamamu sebelum ibadah terpanjangku."


Setelah mengakhiri doanya, ustad Fais pun meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada seseorang.


"Assalamualaikum," sapanya.


"...."


"Maaf dek, aku nggak bisa pulang tahun ini. Insyaallah aku akan pulang tahun depan."


"..."


"Insyaallah jika dek Anin memang jodoh mas, Allah yang akan menjaga dek Anin buat mas."


"...."


"Assalamualaikum,"

__ADS_1


"...."


...Flashback off...


Sejatinya Ustad Fais begitu terkejut saat mengetahui jika istri ustad Farid adalah Anin, wanita yang sempat hendak ia lamar saat pulang dari pesantren. Tapi ternyata jodoh berkata lain, mungkin memang Anin bukan jodohnya. Tapi tetap saja, hatinya berat menerima semua ini.


***


"Mas, hari ini Anin mau ke pasar. Mas Parid pesan sesuatu nggak?" tanya Anin sambil menyiapkan sebuah tas yang biasanya ia bawa ke pasar.


"Mas pesen cenil aja ya dek, insyaallah nanti sebelum dhuhur mas akan pulang. Maaf ya mas nggak bisa ngantar soalnya hari ini mas ada pemotretan untuk baju busana muslim terbaru."


"Iya mas, nggak pa pa. Lagi pula Anin malah nyaman pergi sendiri ke pasar dari pada di ikuti mas."


"Ya sudah, hati-hati ya. Biar pintunya mas yang tutup nanti."


"Siap mas, assalamualaikum." ucap Anin sambil meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.


"Waalaikum salam, " ustad Farid tidak pernah lupa meninggalkan kecupan di setiap inci wajah Anin.


"Mas, kapan Anin berangkatnya kalau mas pegangi terus kepala Anin." keluh Anin dan barulah ustad Farid melepaskan kepala istrinya.


"Hati-hati ya, hubungin mas kalau ada masalah."


"Siap."


Anin membeli beberapa keperluan dapur dan tidak lupa plastik untuk mengemas keripiknya.


Setelah hampir satu jam berkeliling pasar, Anin pun segera pulang.


Tapi sepertinya ia lupa mengisi bahan bakarnya, hingga tepat di tengah jalan motornya mati.


"Astaghfirullah hal azim, kenapa selalu lupa sih ngisi bensin. Bikin kesel aja." gerutu Anin,


Ia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia tidak menemukan penjual bensin. Terpaksa Anin menuntun motornya mencari menjual bensin eceran karena ia tahu sekitar tempat itu tidak ada pom bensin.


"Nin, motornya kenapa?"


Anin mengenal suara itu, walaupun sudah lama tidak mendengarnya, tapi ia yakin itu orang yang sama. Anin pun segera mencari sumber suara, ternyata pria itu berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Mas Pais." Anin hampir saja atetpaku, tapi dengan cepat ia mengalihkan tatapannya begitu mengingat ia sekarang sudah menjadi istri orang, "Ini mas, bensinnya habis."


"Di sini penjual bensin masih jauh, biar aku bantu dorong ya."


"Nggak usah mas, nggak pa pa . Biar Anin sendiri yang dorong."


"Apa perlu saya ijin suami kamu dulu?"


Seketika Anin terpaku, ia mengentikan langkahnya dan menatap sehelai pada pria yang berjalan beriringan dengannya walaupun di samping motor.

__ADS_1


"Saya sudah tahu, Nin. Biar saya telpon suami kamu ya,"


"Nggak usah mas."


"Ya sudah, kalau begitu saja bantu ya."


"Mas Pais nggak bawa motor?" tanya Anin saat tidak menemukan motor di sekeliling mereka.


"Tidak, kebetulan tadi naik angkot. Kau lihat kamu lagi dorong motor makannya aku turun."


Akhirnya Anin pun menyerah, ia membiarkan ustad Fais menggantikannya mendorong motor.


Mereka saling diam sambil terus berjalan hingga ustad Fais memulai obrolan,


"Nin, boleh saya tanya sesuatu?"


"Silahkan!" ucap Anin bahkan tanpa berani menatap ustad Fais.


"Kenapa kamu menikah lebih dulu? Bukankan kita sudah pernah berjanji, dan kamu akan menungguku pulang?" tanya ustad Fais.


"Maaf mas, bukankan waktu itu Anin sudah menghubungi mas Fais!? Anin tidak bisa menunggu terlalu lama karena Anin sudah terlanjut berjanji sama bapak jika akan menikah setelah lulus kuliah. Jika saat itu Anin tidak segera mencari calon suami, makan bapak yang akan mencarikannya untuk Anin. Dan Anin tidak mau."


"Jadi ustad Farid pilihan kamu?"


"Insyaallah dia tanya terbaik buat Anin."


Ustad Fais menghentikan langkahnya membuat Anin ikut berhenti,


"Apa kamu mencintainya?"


"Kami punya tujuan yang sama, cinta adalah bonus. Saat rasa kagum itu ada, insyaallah Allah sendiri yang akan menumbuhkan cinta di dalam mahligai pernikahan." ucap Anin dengan begitu yakin.


"Itu penjual bensin mas, biar Anin sendiri yang dorong sampai toko." ucap Anin sambil mengambil alih motornya.


"Senang bisa bertemu dengan mas Pais lagi, semoga mas Pais juga segera mendapatkan jodoh terbaik untuk mas Pais, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawab ustad Fais sambil menatap Anin yang semakin menjauh.


Ingin rasanya segera melupakan dan merelakan Anin, tapi nyatanya hatinya masih belum rela. Ia sudah menunggu Anin sejak Anin duduk di bangku SMA, saat itu ia ingin melamar Anin setelah lulus SMA, tapi Anin masih berniat untuk menikah setelah lulus S1.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2