
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai didepan restaurant dan mengajak Raisya untuk makan disana.
" Duduk dulu disini biar aku yang pesan ! . Kalian mau pesan apa?". tanya Brian kepada kedua kakak beradik ini .
"Nasi goreng saja ". jawab Salsa ,nasi goreng adalah makanan favorit salsa .
" Kamu Raisya?". tanya Brian kepada Raisya .
Raisya nampak bingung dengan menunya Karena dia tidak pernah ke restaurant dan tidak pernah memesan makanan di restaurant.
" nasi goreng saja kak, sama seperti kak Salsa". jawab Raisya nampak ragu namun dia tidak tahu mau pesan apa akhirnya dia memesan seperti Salsa pesan .
" Ok ".
Beberapa menit kemudian pesanan sudah jadi. Raisya nampak sudah tidak mampu menahan rasa laparnya . Berkali - kali dia menelan ludah saat hidangan di sajikan di atas meja. Aromanya sungguh sangat menusuk hidung hingga perutnya berbunyi lagi.
Kruucukkkk....
Secara bersamaan Salsa dan Brian menoleh ke arah Raisya ,dan Raisya hanya mengembangkan senyumnya.
"Makanlah Raisya! " . suruh Salsa .
Raisya tidak membalas perkataan Salsa dia hanya tersenyum dan kemudian mengambil sendok dan garpunya dia mulai melahap nasi goreng didepannya.
" Heemm.. enak sekali .. ". Gumam Raisya ketika dia mencicipi satu sendok nasi goreng .
Salsa dan Brian hanya tersenyum melihat kelakuan Raisya,hingga akhirnya dia tersedak karena terlalu lahap makan .
Uhuk..uhuk...
Salsa segera memberikan minum dan mengelus punggung Raisya .
" Pelan - pelan Raisya !".
Raisya tidak menjawab namun butiran bening muncul tiba - tiba di sudut matanya . Menandakan sebuah kebahagiaan dan kesedihan. kebahagiaan nya adalah dia sudah terbebas dari ibu nya yang menjual dirinya dan yang kedua dia bisa menikmati makanan yang sebelumnya dia tidak pernah rasakan ,yang ketiga dia akan bertemu lagi dengan kakaknya Mila . Kesedihan nya adalah Kakak nya Mila sedang sakit di rumah sakit yang kedua dia merasa kasihan kepada ibu Wati walaupun dia sangat jahat padanya .
Melihat Raisya menangis Salsa tak kuasa juga ikut menitihkan air mata , kemudian secara refleks dia memeluk Raisya dan menenangkannya walaupun hati Salsa juga sama sedihnya seperti Raisya namun dia mencoba menguatkan adiknya Raisya .
Melihat kedua kakak beradik itu berpelukan Brian pun terharu dia memegang erat tangan Salsa. .
Setelah adegan terharu birunya selesai dan setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalan ke kota.
####
__ADS_1
Pagi ini Edvan sedikit malas ke kantor , dia masih ada di apartemen berada di balkon sambil menyiram bunga milik Mila dan juga membersihkan lukisan - lukisan Mila yang masih tertata rapi .
Ting.. tong..Ting tong ..
Bi inem segera membuka pintu .
" Dimana tuan Edvan? ". tanya Riko tergesa - gesa dan gelisah .
" Ada di balkon tuan ". jawab Bi inem .
Tanpa basa-basi lagi Riko berjalan cepat menuju balkon menemui Edvan .
" Tuan .. tuan ". panggil Riko
" Ada apa ?". Tanya Edvan sambil menyirami bunga.
" Tuan belum mengetahui kabar hari ini tentang perusahan ?". Riko balik bertanya kepada Edvan .
" Kabar perusahaan?".
" Iya tuan ".
Edvan bergegas menuju ruang kerjanya dan membuka laptopnya .
" Kurang ajar !". pekik Edvan sambil menggebrak meja .
" Baik tuan ". jawab Riko menurut saja dengan perintah Edvan.
####
Setelah sampai dari kantor Edvan menuju ruangan nya dan berapa terkejutnya ketika yang berada di tempat kebanggaannya adalah Steffi .
" Hah.. ". Edvan terkejut ketika Steffi sedang duduk manis di tempat duduknya sambil memutar-mutarkan roda kursinya Steffi nampak begitu santai .
" Sayang.. suami kesayangan ku sudah datang ."Steffi berdiri dan menghampiri Edvan namun dengan perilakunya yang sedikit mengejek .
" Kenapa kamu ada disini ?". tanya Edvan sambil menghindar dari Steffi .
" Kenapa ? ini kan perusahaan ku sayang ?. Aku bisa juga bisa menggantikan posisimu sayang . jika kamu macam - macam ". bisik Steffi sambil mendekati Edvan dan mengelus bahu Edvan dengan perilaku mengejek .
" Apa maksud mu Steffi ?". pekik Edvan sedikit emosi sambil menepis tangan Steffi dari bahunya .
" Apa kamu belum baca berita hari ini dan mendengar keputusan dewan pemegang saham ? ". tanya Steffi dengan gestur tubuh meremehkan.
__ADS_1
" Keputusan belum di tentukan jadi kamu tidak berhak ada di ruangan ini seenaknya ". pekik Edvan lagi penuh emosi dengan sorot matanya yang tajam
" Belum di tentukan ? Tapi akan di tentukan hari ini jadi aku berhak atas perusahan ini ". jawab Steffi dengan senyum sinis nya.
Edvan tidak berkata dan membalas perkataan Steffi dia hanya menatap tajam penuh kemarahan ke arah Steffi .
" Dan satu lagi aku harap kamu jangan macam - macam dan jangan coba - coba menceraikan aku jika kamu ingin tetap di posisi ini . Dan satu lagi kamu harus belajar mencintai ku dan menjadi suami yang baik !". kata Steffi dengan senyum sinis nya.
" Dengar Steffi ...! . Aku lebih baik kehilangan posisi ini daripada aku harus terjerat hubungan dengan mu dan menjadi boneka mu ". Jawab Edvan sambil mengacungkan jarinya .
Steffi tidak berkata sepatah katapun namun dia merasa geram dengan jawaban Edvan . Giginya gemertakan kemudian dia meninggal kan ruangan Edvan dengan amarahnya.
" Dasar brengsek...!!! ". umpat Edvan sambil mengusap rambutnya kasar dan merasa putus asa.
" Tuan apa yang harus kita lakukan ". Tanya Riko ketika dia masuk kedalam ruangan Edvan .
Edvan tidak berkata apapun namun dia mengangkat tangan menandakan dia frustasi.
Edvan terduduk lesu dia hampir tidak menemukan jalan keluar dari masalah ini .
" Tuan apa kita harus meminta bantuan kepada tuan besar ? ". tanya Riko
" Ya ...ya...ide bagus Riko ". jawab Edvan sambil menjentikkan jarinya.
" Ayo kita berangkat! " . ajak Edvan .
Sebelum Edvan dan Riko meninggalkan ruangan tiba - tiba pak Richard masuk kedalam ruangan Edvan .
" Papa ...?". panggil Edvan terkejut .
Pak Richard hanya menatap Edvan dengan sedikit kekecewaan. Kemudian memberi isyarat kepada Riko dan juga assisten nya untuk keluar dan memberi kesempatan dia mengobrol dengan Edvan .
" Duduklah Edvan ! ". perintah pak Richard .
Edvan menurut saja . Dia duduk dengan sedikit takut dan juga gugup . Yang Edvan rasakan saat ini bercampur aduk entah dia tidak bisa merasakan .
" Edvan sebaiknya kamu menghentikan rencana mu untuk menceraikan Steffi dan lakukan saja keinginannya demi perusahaan ini !". perintah pak Richard lagi yang bertentangan dengan keinginan Edvan .
"Tapi pa .. apa tidak ada cara lain ?. Aku sudah tidak mencintai Steffi pernikahan ini hanya akan menyiksa ku dan juga Steffi ". tutur Edvan mencoba menjelaskan situasi rumahtangga nya.
" Edvan ikuti saja permintaan ku tidak ada cara lain untuk menyelamatkan perusahaan ini . Jangan egois Edvan pikirkan nasib perusahaan dan juga nama baik papa ". desak pak Richard
Edvan masih terdiam dia tidak menjawab desakan pak Richard .
__ADS_1
" Lebih penting perusahan ini daripada perasaan kalian , nama baik papa di pertaruhkan disini ". tutur pak Richard lagi berharap kata-katanya bisa merubah keputusan Edvan
" Perusahan ini lebih penting daripada perasaan ku dan kebahagian pa ?". tanya Edvan dengan raut wajah sedikit emosi .