(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Sangat Suka


__ADS_3

Setelah drama panjang tentang penentuan teman sebangku, akhirnya keputusan kembali ke awal sesuai dengan keinginan si anak baru, yaitu Luna berpindah posisi duduk sebangku bersama Adel. Sebenarnya Luna sangat tidak ikhlas melakukan hal itu, apalagi jika melihat wajah penuh kemenangan seorang Nevan. Ingin rasanya Luna memberikan cap lima jari miliknya di wajah tampan Nevan. Proses pertukaran teman sebangku terjadi karena azas keterpaksaan.


Sementara si pembuat masalah, Nevan. Dengan tidak merasa bersalah sama sekali duduk dengan santai di bangku kosong yang baru saja didapatkannya dengan cara menggusur pemilih sahnya.


Jangan tanyakan bagaimana reaksi Haura. Saat ini Haura seakan kehilangan kata-kata melihat sikap majikan sekaligus teman sekelasnya itu. Haura masih menimbang-nimbang apa tujuan Nevan memaksa untuk duduk sebangku dengannya. Yang pasti mulai hari ini, Haura harus selalu waspada dalam posisi siaga satu. Gadis itu harus bersikap sebaik mungkin kepada Nevan, mengingat kondisi dirinya dan ibunya. Haura harus menjaga sikap agar tidak berdampak buruk bagi pekerjaan ibunya dan pendidikannya juga. Karena pemberi beasiswa untuk pendidikan Haura adalah Tuan Liam Sander, orang tua dari Nevan.


Bu Yuli kembali menjelaskan materi pelajaran setelah terjeda beberapa saat lalu karena drama pagi hari yang diciptakan oleh si anak baru. Atensi semua siswa kembali tertuju kepada penjelasan Bu Yuli, kecuali Nevan. Si anak baru tersebut justru tidak peduli sama sekali dengan penjelasan sang guru. Nevan terlihat asik memainkan gadget miliknya.


*******


Meskipun bel tanda istirahat telah berbunyi, banyak siswa kelas XI IPA 2 masih bertahan di kelas mereka. Bukan tanpa sebab, mereka sedang mendiskusikan mata pelajaran matematika. Terlihat siswa terbagi dalam beberapa kelompok belajar demi berhasil memecahkan soal mata pelajaran keramat tersebut.


Setelah perdebatan tadi pagi antara Nevan dan Haura, keduanya tidak terlibat percakapan lainnya. Nevan sangat ingin mengajak Haura berbicara, akan tetapi Haura seakan menjaga jarak darinya. Tidak sedikit pun Haura berpaling melihatnya. Hal itu sangat membuat Nevan tidak suka. Remaja laki-laki itu pun memilih untuk meninggalkan kelas dengan perasaan dongkol karena diabaikan lagi oleh Haura.


Fakta sebenarnya adalah Haura sangat merasa tidak nyaman karena harus duduk sebangku bersama Nevan. Bahkan dari tadi jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Hingga akhirnya Haura memilih untuk tidak menghiraukan Nevan. Dia sangat gugup dengan situasi yang terjadi sekarang. Apalagi jika harus mengajak Nevan untuk berbicara. Haura masih belum siap untuk melakukannya.


Ketika Nevan sedang mengayunkan langkahnya bersiap meninggalkan kelas tiba-tiba seorang siswa perempuan yang bukan penduduk asli kelas tersebut datang menghampiri Nevan.


“Nevan, ini beneran lo, ‘kan?” suara seorang siswa perempuan terdengar memenuhi seisi ruang kelas XI IPA 2. Semua perhatian penghuni kelas tertuju pada si pemilik suara tersebut. Dia adalah Rhea. Tuan putri Sander International High School.


Tanpa ba-bi-bu Rhea pun menghampiri Nevan dan langsung memeluk erat Nevan tanpa peduli dengan tatapan berpasang-pasang mata yang melihat ke arahnya. Rhea sangat bahagia karena Nevan benar-benar kembali ke Indonesia. Bagaimana tidak bahagia, Nevan yang notabene-nya adalah cinta pertama Rhea. Meskipun cintanya tak pernah terbalas, karena sampai sekarang pun Nevan hanya menganggap Rhea sebagai sahabatnya. Meski demikian, Rhea tetap berusaha agar Nevan memandangnya lebih dari pada sahabat.


"Van, ini beneran lo kan?" tanya Rhea lagi. "Kenapa lo gak bilang ke gue kalau lo udah balik?" Rhea pun terus melanjutkan pertanyaannya tanpa menunggu jawaban dari Nevan.


Sementara Nevan yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Rhea hanya diam tak bergeming. Tidak ada niatan dari Nevan untuk membalas pelukan Rhea atau melepas pelukan itu. Dia hanya membiarkan Rhea terus memeluknya.


Aksi mereka pun menjadi perhatian seluruh penghuni di kelas itu. Sungguh perpaduan yang sangat pas. Nevan dengan ketampanannya yang di atas rata-rata dan Rhea si princess yang kecantikannya tak bisa di anggap remeh.


“Iya, ini gue. Apa kabar, Rhe?” tanya Nevan kepada Rhea yang belum juga melepas pelukannya dari Nevan.


“Gue baik, Van. Malah sekarang gue baik banget karna ketemu lo. Apalagi kita satu sekolahan," jawab Rhea sambil melerai pelukannya dan menatap lekat wajah tampan Nevan. Kebahagiaan terpancar di mata gadis itu. Akhirnya dia satu sekolahan dengan cinta pertamanya.


"Gue kangen sama lo, Van." ucap Rhea jujur. Jika bersama Nevan, atmosfir arogan dari seorang Rhea seakan menguap entah kemana. Jika biasanya dia tidak ingin akan pernah bertegur sapa dengan anak-anak lainnya, tapi sekarang Rhea bahkan mengakui bahwa dia sangat merindukan Nevan di depan para siswa lainnya.


"Makasih, Rhe," balas Nevan.


"Makasih doang? Emang lo gak kangen sama gue?" tanya Rhea seakan tak percaya bahwa Nevan tidak membalas ungkapan rindu dari dirinya.


Bukan Nevan tidak merindukan Rhea, Bagaimana mungkin dia tidak merindukan semua sahabatnya di Indonesia. Nevan merindukan mereka semua. Tapi Nevan tidak ingin membuat Rhea salah paham. Karena Nevan tahu bahwa Rhea sudah lama menyukai dirinya.


"Gue kangen kalian semua," ucap Nevan.


"Semua? maksudnya?" tanya Rhea lagi.


"Gue kangen semua sahabat gue disini, makanya gue balik. Gue kangen kalian, semuanya.'" Kini arah mata Nevan menatap seseorang untuk beberapa detik lamanya.


Ya, yang Nevan tatap adalah Haura. Meskipun hanya sesaat Haura menyadari bahwa tatapan Nevan tertuju padanya meski hanya untuk beberapa detik.


"Itu artinya gak ada seseorang yang spesial yang lo kangenin?" Rhea kembali bertanya. Gadis cantik itu berharap agar Nevan menyebut namanya sebagai seseorang yang istimewa untuk dirindukan. Rhea berharap semoga Nevan sudah menganggapnya lebih dari sahabat.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Rhea, Nevan hanya tersenyum.


Ada seseorang yang sangat gue rindu, batin Nevan.


"Van, kenapa lo bisa di kelas ini?" tanya seorang siswa laki-laki yang kedatangannya tidak disadari oleh Nevan.


Mendengar suara Gian, kini Nevan mengalihkan perhatiannya kepada pertanyaan tiba-tiba yang di lontarkan Gian ketika pertama sekali memasuki kelasnya. "Karena pihak sekolah yang menempatkan gue disini?" jawab Nevan berbohong. Karena pada kenyataannya Nevan sendiri lah yang meminta agar di tempatkan di kelasnya yang sekarang.


"Come on, Van. Lo fikir gue bakalan percaya?" tanya Gian lagi.


"Terserah lo mau percaya atau enggak," jawab Nevan lagi. Nevan sadari bahwa seorang Gian pasti tidak akan percaya dengan jawaban yang dirinya berikan.


"Hai Nevan, apa kabar?" tanya seorang siswa perempuan lainnya lagi.


Kini dua orang asing yang bukan penduduk asli kelas XI IPA 2 ikut mengunjungi kelas itu. Mereka adalah Niko dan Bella.


Situasi yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang langka. Tidak pernah sebelumnya siswa-siswa yang menjadi idola pertama sekolah tersebut berkunjung ke kelas lainnya. Karena biasanya para siswa lain lah yang akan berkunjung ke kelas XI IPA 1 hanya untuk melihat wajah-wajah tampan dan cantik dari The Most Wanted sekolah tersebut.


"Hai, Bel. Gue baik," jawab Nevan.


"Pantesan lo ngilang begitu jam istirahat, taunya lo disini," kata Bella yang ditujukan kepada Rhea.


Ketika bel istirahat berbunyi, Rhea langsung meninggalkan kelas tanpa berkata apa pun pada Bella. Hal itu membuat Bella merasa heran karena mereka selalu kemanapun bersama-sama.


"Se kangen itu lo?" bisik Bella ketika sudah berdiri tepat di samping Rhea.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Bella, Rhea pun hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


Nevan tersenyum mendengar kata-kata dari Niko. Sahabatnya itu sangat lah tahu jawaban yang akan diberikan olehnya.


*******


Di sisi lain, Haura cs sesekali ikut memperhatikan interaksi antara Nevan dengan para Idola sekolah mereka, begitu pun siswa lainnya. Bukan sebuah kejutan bagi Haura dan lainnya jika Nevan bersahabat dekat dengan Niko dan yang lainnya. Hal itu di karenakan oleh nama belakang Nevan yang sudah pasti merupakan milik keluarga besar Sander.


"Niko..... Kenapa sih gantengnya pakek banget," terdengar Luna lagi-lagi mengagumi Niko dengan lebay nya.


"Satu sekolah juga tau kalau Niko ganteng. Gak usah lebay gitu napa," ucap Adel. Sungguh dia tidak habis pikir bagaimana bisa Luna menyukai Niko sedemikian rupa.


"Tau ah... Iri bilang bos," jawab Luna dengan nada sewot.


Haura dan Adel memilih untuk tidak menjawab lagi kata-kata Luna. Karena jika di teruskan maka perdebatan mereka tidak akan ada ujungnya.


"Eh... bentar. Menurut kalian Rhea siapanya Nevan sih?" Pertanyaan Luna di tujukan kepada kedua sahabatnya.


"Mana aku tahu, kan aku belum melakukan wawancara eksklusif bersama mereka," jawab Adel.


"Aneh deh kamu. Kalau emang penasaran maunya kamu tanya langsung ke mereka. Bukan tanya ke kita," Haura ikut buka suara mendengar pertanyaan Luna. "Lagian nih ya, kalau pun mereka ada hubungan, bukan urusan kita juga," lanjut Haura lagi.


Sebenarnya Haura juga ingin tahu lebih lanjut tentang hubungan sebenarnya antara Nevan dan Rhea. Melihat interaksi mereka, sudah dapat di pastikan bahwa mereka sangatlah dekat. Karena dari aksi Rhea tadi yang memeluk Nevan tanpa canggung.

__ADS_1


"Iya nih. Lagian nih ya, kalau mereka pacaran juga gak ada ngaruhnya sama kita. Temen bukan, apalagi sodara, lebih-lebih bukan," Adel kembali buka suara.


"Gimana kalau kita ke kantin aja," ajak Haura.


Selain karena memang perutnya sudah mulai memanggil, Haura juga ingin segera pergi dari ruang kelasnya. Entah kenapa ada rasa tidak nyaman melihat kedekatan Nevan dan Rhea. Apalagi jika memikirkan kemungkinan jika Nevan dan Rhea mempunyai hubungan lebih dari sahabat.


Jika boleh jujur, Haura sangat ingin Nevan bersikap baik padanya juga. Bersikap baik sebagai seseorang yang pernah menjadi sahabat dalam hidup Nevan.


"Boleh... mendingan kita ke kantin." Adel menyetujui usulan Haura.


"Bentaran napa sih? Kan aku masih mau liatin Niko," protes Luna menolak ajakan Haura dan Adel. Luna masih betah di kelas karena ada laki-laki yang dia sukai di kelasnya.


"Kalau kamu gak mau ikutan, aku sama Adel ke kantin duluan ya, Lun," kata Haura lagi karena beberapa saat yang lalu tatapan mata Nevan kembali tertuju padanya. Haura sangat ingin segera melarikan diri dari tempat itu.


"Ihhh.... Haura gak asik. Biasanya kamu paling pengertian sama perasaan aku," ucap Luna lagi. Tapi kemudian Luna ikut beranjak untuk bergabung dengan kedua temannya menuju kantin.


"Gitu dong, Lun." Haura menarik tangan Luna lalu menggandengnya. "Kita isi energi dulu, biar kamu makin bertenaga untuk kembali mengagumi Niko," bisik Haura kepada Luna.


Mereka bertiga pun berjalan menuju pintu keluar kelas melewati para siswa idola sekolah yang masih berbicara dan berdiri tidak jauh dari arah pintu. Alhasil, Haura dan kawan-kawan pun harus melewati mereka jika ingin meninggalkan kelas.


*******


Percakapan antara Nevan dan yang lainnya masih berlanjut.


"Sekarang lo kasih jawaban yang masuk akal, kenap lo gak sekelas sama kita?" tanya Niko lagi.


"Gue rasa, gue gak harus jawab," jawab Nevan.


"Lo gak asik, Van. Seharusnya kita sekelas. Kenapa lo harus di kelas ini? Gue yakin kalau lo sendiri yang minta untuk di tempatkan di kelas ini," kata Gian penuh selidik.


"Terserah lo mau berfikir apa," ucap Nevan. "Satu hal yang pasti, gue suka di kelas ini." Perkataan yang Nevan ucapkan dapat di dengar dengan jelas oleh Haura. Karena saat ini Haura sedang menuju kearah Nevan dan teman-temannya.


"Suka? Gue gak salah dengar?" kini Rhea yang bertanya karena merasa heran dengan jawaban ambigu dari seorang Nevan. "Jadi maksudnya, Lo gak suka sekelas bareng kita," tambah Rhea lagi.


Nevan tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Rhea.


Mendengar perkataan Nevan, Niko pun berjalan selangkah untuk berdiri tepat di hadapan Nevan.


"Suka?" tanya Niko. "Seberapa suka?" sambung Niko lagi sambil menaikkan sudut bibirnya tersenyum penuh makna ke arah Nevan.


Sementara yang lainnya masih tidak mengerti dengan arah pertanyaan Niko.


"Bukan gitu maksud gue, Nik," Nevan mengetahui maksud dari pertanyaan Niko.


Niko pun meraih kerah baju Nevan seakan-akan sedang merapikan seragam sahabatnya itu. "Gue tau lo, Van," ucap Niko penuh dengan teka-teki tapi dapat di pahami dengan baik oleh Nevan.


"Sangat suka?" lagi-lagi Niko memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal menurut Gian dan lainnya.


"Ya, sangat suka," jawab Nevan sambil manik coklat miliknya menatap ke arah Haura. Pada saat itu bertepatan dengan Haura yang berjalan melewati Nevan dan teman-temannya.

__ADS_1


Pendengaran Haura menangkap dengan jelas jawaban dari Nevan atas pertanyaan yang Niko ajukan. Sangat suka? Kenapa? fikir Haura.


__ADS_2