(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Ada Aku


__ADS_3

Nevan menembus jalanan Ibukota dalam derasnya guyuran hujan. Remaja laki-laki itu tidak peduli dengan dinginnya air hujan yang telah membasahi tubuhnya dengan sempurna. Dalam pikirannya hanya ada satu hal yaitu segera menemukan Haura.


Ketika orang lain memilih untuk berteduh dari derasnya hujan yang mengguyur bumi malam itu, atau juga membungkus tubuh mereka dengan selimut tebal dan hangat, Nevan sekan tidak membutuhkan itu semua. Hujan dan petir malam itu seakan ikut menemaninya di sepanjang perjalanan untuk menemukan Haura.


Sebisa mungkin Nevan terus memaksa pikirannya untuk berfikir positif. Bahwa sekarang ini Haura pasti baik-baik saja. Haura tidak dalam bahaya.


Dalam hatinya Nevan terus merutuki kebodohannya karena meninggalkan Haura sendiri. Seharusnya dia memastikan terlebih dahulu apakah Haura telah benar-benar pulang atau belum. Jika saja terjadi sesuatu pada Haura, maka orang pertama yang harus di salahkan adalah dirinya.


Derasnya hujan pada malam itu membuat Nevan tidak bisa melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Karena jarak pandang yang terbatas. Sesuatu yang patut di syukuri karena remaja laki-laki itu masih bisa berfikir bijak dengan tidak mengendarai motornya secara ugal-ugalan.


“Tuhan, semoga Haura baik-baik aja. Tolong jaga Haura.” ucap Nevan lirih. Entah remaja itu menangis atau tidak, tapi saat ini matanya terasa perih. Antara air hujan dan mungkin juga air mata, Nevan tidak dapat membedakan dua hal itu.


Remaja laki-laki itu terus berdoa dalam hatinya. Berharap Haura berada di tempat yang aman.


“Haura, kamu harus baik-baik aja. Harus.” Rasa sesal semakin memenuhi dada Nevan. Sepanjang perjalanan Nevan terus menyalahkan dirinya karena meninggalkan Haura sendiri.


Sesekali Nevan juga mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan, mungkin saja Haura berada di suatu tempat untuk berteduh dari derasnya hujan. Tapi nihil. Sosok yang di carinya tidak terlihat sama sekali.


Setelah memakan waktu hampir satu jam, akhirnya Nevan sampai di sekolahnya. Nevan memarkirkan kendaraannya tepat di depan pos keamanan. Mendapati putra pemilik sekolah datang ke sekolah di malam hari di tambah lagi dalam kondisi basah kuyup membuat petugas keamanan yang sedang asik menikmati secangkir kopi panas langsung menghampiri Nevan.


“Nak Nevan, kenapa kesini malam-malam begini? Ada apa?” tanya salah seorang petugas kemanan yang bernama Rahmat sesuai yang tertulis pada seragamnya.


“Saya mau cari teman saya pak.” Jawab Nevan cepat.


“Teman? Sepertinya semuanya sudah pulang. Tidak ada lagi siapa-siapa di dalam sana,” tambah petugas keamanan satunya lagi yang bernama Hendra.


Nyatanya kedua petugas itu tidak tahu dengan pasti apakah benar-benar sudah tidak ada siapapun di dalam sana. Karena mereka belum berpatroli. Hujan menjadi alasan kedua petugas keamanan itu untuk bermalas-malasan.


“Kita coba cek dulu, bisa pak?” pinta Nevan kepada kedua petugas keamanan yang berjaga disana. “Teman saya namanya Haura. Yang setiap hari pergi dan pulang sekolah sama saya,” jelas Nevan lagi.


“Oooohhhh… iya.. iya..” jawab petugas keamanan tersebut serentak. “Kalau begitu ayo coba kita cek di dalam.”


“Baik pak, terimakasih.”


“Lebih baik ketika menyusuri ke dalam, kita memanggil nama Haura, supaya kalau memang nak Haura masih di dalam, dia bisa mendengar bahwa kita mencarinya.” Usul pak Rahmat.


“Iya pak, kalau gitu saya akan cari Haura di lantai dua dan tiga.” Nevan memberi usul. Dirinya memilih untuk mencari di lantai paling atas dari gedung sekolahnya. Mengingat kedua petugas keamanan tersebut sudah tidak muda lagi, pasti akan lama jika naik menuju lantai dua dan tiga.


“Baiklah kalau seperti itu, saya akan mencari di sekita kantin dan lapangan olahraga dan pak Rahmat akan menyusuri bangunan dasar,” ucap Pak Hendra menyetujui saran Nevan. "Kalau kami sudah memeriksa semua tempat di sini, maka kami akan segera menyusul ke atas."


"Ini kunci setiap ruangan yang ada di lantai dua dan tiga. Nak Nevan bisa menggunakannya." Pak Rahmat menyerahkan seikat kunci ruangan yang cukup banyak. Ada nama di setiap kunci untuk memudahkan membuka ruangan agar tidak ada kunci yang tertukar.


Tanpa berkata-kata lagi, Nevan langsung berlari memasuki bangunan sekolahnya. Lantai dua adalah tujuan pertamanya.


Ketika remaja itu berlari tergesa-gesa, handphone miliknya kembali berdering.


Niko. Nevan langsung menggeser lambang hijau untuk menerima panggilan itu.


“Lo dimana?” sambar Niko cepat ketika Nevan menerima panggilan darinya.


“Gue di sekolah.”


“Oke… Gue susul kesana. Haura gak ada di rumah Luna maupun Adel.”


Nevan langsung mematikan sambungan teleponnya. Pikirannya semakin kalut mengetahui Haura tidak berada di rumah kedua sahabatnya.


Sepanjang koridor di lantai dua gedung sekolah tersebut terlihat sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda adanya orang disana. Akan tetapi Nevan tidak peduli. Remaja laki-laki itu menyusuri setiap koridor dan mengecek ke setiap ruangan yang ada di sana.


"Haura... Aku Nevan. Kamu dimana?" Nevan terus berteriak memanggil nama Haura sambil mengecek setiap ruangan yang di laluinya.


Senyap. Tak ada jawaban sama sekali. Nama yang sedari tadi di panggil oleh Nevan seakan tidak ada di sana.

__ADS_1


Setiap ruang kelas yang di masuki Nevan hasilnya nihil. Haura tidak ada di kelas mana pun.


Toilet. Ya, toilet. Mungkin saja Haura di sana dan terkunci di dalamnya hingga tidak bisa keluar.


Nevan berlari langsung menuju toilet siswa yang ada di lantai dua. Dengan tergesa-gesa Nevan membuka satu persatu pintu toilet. Bukan hanya milik siswa perempuan. Tapi Nevan juga mengecek ke dalam toilet laki-laki. Entahlah, tapi Nevan tidak ingin melewatkan satu tempat pun.


Perasaan remaja laki-laki itu semakin kacau karena Haura juga tidak ada di toilet.


"Haura kamu dimana? jangan bercanda gini. Aku minta maaf karena ninggalin kamu." Nevan terus saja bergumam seperti itu sepanjang langkahnya. Sesekali dia kembali memanggil nama Haura.


Nevan menaiki lantai tiga. Lantai yang menjadi tempat ruangan ekskul sekolah tersebut.


Sambil memanggil nama Haura, Nevan berharap bahwa sahabatnya itu ada di sana. Remaja itu membuka satu persatu ruangan dengan menggunakan kunci yang di berikan Pak Rahmat tadi.


"Haura, jawab aku kalau kamu memang ada di sini." Lagi-lagi Nevan berteriak untuk memanggil Haura.


*******


Di sebuah ruangan, seorang gadis remaja meringkuk dengan memeluk lututnya di lantai dingin tanpa di lapisi oleh apapun. Tubuhnya menggigil. Matanya sembab menandakan dia baru saja menangis.


Haura tertidur di dalam ruangan ekskul teater setelah lelah menangis. Matanya mengerjap-ngerjap perlahan. Menyesuaikan cahaya yang seakan sangat menyakiti matanya yang bengkak dan perih.


Setelah mampu membuka kedua matanya dengan sempurna, gadis itu melirik arloji miliknya. Hampir tengah malam. Benar-benar tidak ada yang datang untuk menolongnya. Begitulah pikirnya.


Terdengar jelas bahwa hujan belum juga reda. Masih sama derasnya seperti beberapa jam yang lalu. Tanpa permisi cairan bening kembali lolos dari kedua mata sembabnya.


Dengan perlahan Haura bangkit untuk mendudukkan tubuhnya. Pergelangan kakinya semakin membengkak. Begitu juga lututnya juga terasa sangat sakit. Di tambah lagi kepalanya yang terasa sangat pusing serta tubuhnya yang menggigil. Di usapnya air matanya dengan kasar.


"Aku gak boleh terus-terusan nangis. Pasti ada cara supaya aku bisa keluar dari tempat ini." Haura kembali meyakinkan dirinya. Gadis itu menguatkan dirinya sendiri untuk tidak menyerah.


"Tolong... tolong.... Siapapun di luar. Tolong, aku terkunci di sini." Dengan suara yang mulai serak, Haura kembali berteriak untuk meminta pertolongan kepada siapapun yang mendengarnya. Entah itu manusia atau setan sekalipun. Haura tidak peduli. Selama dia bisa segera keluar dari ruangan itu dan pulang secepat mungkin. Gadis itu sangat yakin bahwa sekarang Ibunya pasti sangat gelisah menanti kepulangannya. Apalagi handphonenya mati. Haura sangat yakin bahwa di rumah sana Ibunya tidak henti menangis karena tak kunjung mendapat kabar darinya.


Nihil. Tidak ada siapapun yang mendengar teriakannya.


Sebuah tongkat kayu sebagai properti teater terletak di sudut sebelah kiri dari tempat Haura sekarang. Mungkin bisa di gunakan untuk membuka pintu, batin Haura.


Gadis remaja itu mencoba berdiri dengan berpegangan pada handle pintu sebagai alat bantu.


Bughhhh.... Belum juga sempat kakinya menapak, tubuhnya kembali terjatuh. Cedera di pergelangan kakinya benar-benar membuatnya tidak bisa berdiri.


"Awwwww....." Haura kembali meringis kesakitan. Tapi gadis itu tidak menyerah. Dia mencoba lagi untuk berdiri. Akan tetapi hasilnya masih sama, Haura kembali terjatuh. Bahkan sakit di kakinya semakin menyiksa.


Tak ingin putus asa, Haura tetap berusaha untuk mengambil tongkat tersebut meskipun tidak bisa berjalan. Gadis itu menyeret tubuhnya ke sisi kiri tempat dimana alat bantu yang dibutuhkannya berada.


"Akhirnya." Rasa lega karena berhasil meraih tongkat tersebut. Tanpa membuang waktu Haura kembali lagi ke arah pintu untuk segera mencoba peruntungannya. Memaksa pintu itu terbuka meski hanya bermodal tongkat kayu sederhana. Setidaknya dia telah mencoba. Begitulah yang Haura fikirkan.


"Ayah.... Ibu.... Tolong Haura." Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai aksinya. "Haura pasti pulang Bu." Bermodalkan tenaga yang tidak seberapa Haura mencoba membuka paksa pintu tersebut.


Setelah percobaan ke sekian kalinya, bukannya berhasil tapi justru tongkat kayu yang di gunakannya patah. Gadis itu menatap nanar pada tongkat yang telah patah dua itu.


"Apa Haura harus nyerah, Bu? Apa Haura harus di sini sampai besok pagi?" Sekuat apapun Haura meminta matanya untuk tidak menangis, nyatanya matanya lagi-lagi mengkhianatinya. Isakan kembali terdengar di ruangan sepi itu.


Sayup-sayup pendengarannya menangkap seseorang memanggil namanya. Jauh. Suara itu terdengar jauh. Tapi Haura yakin bahwa yang di panggil itu benar-benar namanya.


Haura menajamkan pendengarannya. Menempelkan telinganya pada pintu.


"Aku gak salah, itu benar suara orang panggil nama aku." Tersenyum. Akhirnya Haura berhasil tersenyum setelah menangis untuk waktu yang lama.


"Nevan. Itu suara Nevan." Rasa lega menghinggapinya. Akhirnya Nevan datang untuk menjemputnya.


Semakin lama suara itu semakin dekat. Dan Haura semakin yakin bahwa itu benar-benar Nevan.

__ADS_1


"Nevan... Aku di sini." Seakan tenaganya kembali terkumpul. Haura mampu berteriak dengan sangat kencang. Berlomba dengan derasnya suara hujan yang masih merindukan bumi. Enggan untuk berhenti.


"Haura.. Aku Nevan kamu dimana?" Suara Nevan kembali terdengar memanggil namanya.


"Nevan... aku di ruangan teater. Aku terkunci disini."


Nevan menghentikan langkahnya. Memastikan bahwa benar dirinya seperti mendengar suara Haura.


"Nevan... Aku di ruangan teater." Meski samar-samar Nevan sangat yakin bahwa itu Haura. Dan ruangan teater. Ya. Nevan tidak salah. Bahwa yang di dengarnya adalah ruangan teater. Sangat masuk akal, karena Haura memang anggota ekskul teater. Jadi sangat mungkin jika Haura di sana. Mengapa dia tidak langsung ke ruangan itu. Lagi, Nevan menyesali kebodohannya.


Nevan berbalik arah menuju ruangan teater yang berada di paling ujung koridor lantai tiga. Berlari. Itulah yang di lakukan remaja laki-laki itu sekarang. Dia ingin segera menemui Haura.


Dari kejauhan Nevan dapat melihat penerang ruangan tersebut menyala. Itu artinya benar ada seseorang di dalam sana.


"Haura," panggil Nevan lagi.


"Nevan aku di ruang teater. Kamu bisa dengar aku?" Haura semakin berteriak kencang. Berharap Nevan segera datang ke tempat itu.


Setelah berada tepat di depan ruangan teater, Nevan segera mencari kunci ruangan itu. Dengan tergesa-gesa dan tangan yang gemetar Nevan mencari kunci ruangan itu dalam sekelompok kunci yang ada di tangannya. Seakan Nevan tidak sabar lagi untuk segera mengeluarkan Haura dari sana.


"Haura, tenang ya. Aku akan segera mengeluarkan kamu dari dalam sana." Ucap Nevan di sela-sela kegiatan menemukan kunci. Entah karena apa, seolah kunci tersebut bersembunyi. Tidak mau untuk segera di temukan.


"Iya Nevan." Jawab Haura dengan tersenyum. Seakan Nevan dapat melihat senyumannya.


Lima menit waktu yang di butuhkan Nevan untuk menemukan kunci keramat itu. Dengan frustasi Nevan segera memasukkan kunci itu ke dalam tempatnya.


Ceklek.... Pintu ruangan itu terbuka.


Manik coklat milik Nevan membulat sempurna menemukan Haura yang terduduk di lantai dengan keadaan yang sangat kacau. Kaki yang cedera dan matanya yang sangat sembab. Dia sangat yakin bahwa beberapa jam yang lalu Haura menangis dengan sangat hebat.


Haura tersenyum pias melihat Nevan. Syukur, itulah yang dia rasakan.


"Nevan." Suaranya tercekat. Haura tidak dapat melanjutkan lagi kata-katanya. Gadis itu menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Setelahnya hanya isakan yang terdengar. Matanya itu seperti bendungan yang terisi banyak air. Tidak pernah habisnya.


Segera Nevan berjongkok di hadapan Haura dan langsung membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluk erat tubuh Haura. Mencoba memberi ketenangan bahwa semuanya telah berakhir. Semuanya sudah baik-baik saja.


"Tenang. Ada aku." Ucap Nevan lirih sambil mengelus lembut puncak kepala gadis yang terisak dalam pelukannya. Tubuh Haura bergetar dalam tangisan yang terdengar sangat pilu.


"Ada Aku. Jangan takut." Nevan mencium puncak kepala Haura berkali-kali. Hatinya seakan begitu terluka mendengar tangisan Haura. Andai saja tadi dia tidak meninggalkan Haura, pasti sekarang gadis itu tidak perlu merasa takut seperti sekarang ini.


Cukup lama kedua remaja itu tidak beranjak dari ruangan itu. Nevan masih mendekap erat Haura. Tidak ada lagi tangisan yang terdengar. Hanya sesekali terdengar suara sesenggukan sisa tangisan Haura.


"Kita pulang... Hmmmm..." ucap Nevan setelah merasa Haura semakin tenang.


Hanya anggukan yang Haura berikan sebagai jawaban.


Nevan menatap wajah sembab Haura. Menghapus sisa air mata di wajah sahabatnya itu.


"Semuanya sudah baik-baik aja. Ada aku. Kamu gak perlu takut lagi." Seakan kata ada aku tak pernah cukup Nevan ucapkan untuk meyakinkan Haura bahwa dirinya akan selalu ada untuk Haura.


Seakan seperti sebuah mantra, kata ada aku mengikat kedua remaja itu dalam sebuah janji tersirat yang tak pernah terucap.


Arti ada aku untuk Nevan adalah janji yang di ucapkannya bahwa dia akan selalu ada untuk Haura dalam keadaan apapun.


Dan arti ada aku untuk Haura seperti sebuah janji dari Nevan untuknya bahwa laki-laki itu akan selalu bersamanya dalam keadaan apapun.


Hujan di malam itu menjadi saksi bisu dua hati remaja yang telah terpaut dalam kata cinta yang tak terucap. Cinta yang terlelap dengan tenang di balik selimut persahabatan. Cinta yang pada akhirnya akan menyakiti dan tersakiti untuk keduanya.


Hi readers.... Seperti biasa aku masih menunggu like dan comment dari kalian untuk karya aku yang serba biasa ini.


Satu like dan comment dari kalian adalah sesuatu yang sangat istimewa untuk aku.

__ADS_1


Kalau readers aku berbaik hati, tambahkan juga ke dalam rak buku favorit kamu.


Salam sayang dari author untuk semua pembaca setia "Bolehkah Aku Jatuh Cinta?" Aku hanya butiran debu tanpa readers ku tersayang.


__ADS_2