
Seorang gadis remaja terlihat duduk dengan manisnya di sebuah ranjang berukuran single bed dengan seprai putih yang melapisinya. Seragam pasien membalut tubuhnya. Masih terlihat wajah pucat dan mata sayunya meskipun dia terus mencoba tersenyum kepada beberapa orang yang datang menjenguknya.
Ya. Situasi tersebut terjadi di sebuah ruang rawat inap Sander Hospital. Tentu saja sang pasien adalah Haura. Selang infus masih terpasang di tangannya. Juga kaki kirinya yang masih terbungkus perban elastis. Sudah tiga hari Haura di rawat di rumah sakit pasca kakinya yang terluka dan juga demam yang menyerangnya akibat kejadian tempo hari.
Sebenarnya gadis itu tidak mau di rawat di rumah sakit mengingat ibunya pasti sangat kerepotan jika harus menemani dirinya disana. Tapi untungnya teman-temannya ikut membantu untuk menemaninya. Jika malam hari Bu Lastri menemani Haura di rumah sakit, maka pada siang harinya teman-temannyalah yang menemaninya, Luna, Adel dan tentu saja Nevan. Tidak ketinggalan sosok gadis yang beranjak remaja juga ikut menemaninya yaitu Luisa.
Malam ketika Gian pergi bersama Niko untuk mencari Haura, Luisa terus mendesak agar kakaknya Gian mengatakan apa yang terjadi. Alhasil Luisa tahu bahwa Haura sakit dan di rawat di rumah sakit. Entah mengapa Luisa sangat menyukai sosok Haura. Oleh karenanya ketika hari pertama Haura di rawat di rumah sakit, Luisa ikut menjenguknya bersama Zayn.
Hingga pada hari ini, adik dari Gian itu datang kembali ke rumah sakit ketika jam pulang sekolah. Apalagi disana ada Luna dan Adel, tentu saja dia akan sangat betah. Mengingat dirinya tidak punya kakak perempuan. Haura dan teman-temannya adalah teman baru yang sangat menyenangkan untuk Luisa.
“Kita apain kak?” tanya Luisapada Luna dan Adel.
“Gimana kalau kita kuncir dua,” jawab Adel memberi saran.
“Yahhh.... masak di kuncir lagi. Setiap harinya kan udah di kuncir,” Luna tidak setuju dengan saran Adel. “Emmmm.... gimana kalau kita gerai. Kayaknya bakal cantik deh.”
“Lui setuju. Kita gerai aja.”
“Oke... kita coba.” Adel ikut menyetujui saran Luna.
Sedangkan yang punya rambut hanya diam saja mndengar percakapan antara Luna, Adel dan Luisa.
Sekarang ketiga remaja cantik yang menemani Haura di rumah sakit sedang mencoba bereksperimen dengan surai panjang milik Haura. Mereka mencoba menata rambut Haura agara terlihat berbeda.
“Ra, kamu duduk tenang aja. Biar kita bertiga yang akan merapikan rambut kamu,” perintah Adel.
Padahal tanpa Adel minta pun, sejak tadi Haura sudah duduk tenang sambil mendengar celotehan mereka. Sesekali Haura tersenyum dengan percakapan ketiganya. Meskipun saat ini gadis itu di rawat di rumah sakit, akan tetapi berkat kehadiran sahabat-sahabatnya, Haura tidak pernah merasa kesepian. Ada saja celotehan dari mereka yang bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa.
“Emmmmm.... gimana kalau sekalian kita dandani aja kak Haura?” kembali terdengar Luisa memberi saran. Gadis cantik tersebut seakan menemukan hal baru yang bisa di jadikan bahan percobaan lainnya terhadap Haura.
Namun kali ini sebuah usulan yang Luisa ajukan tentu akan mendapat penolakan keras dari Haura. “Gak... kalau dandan kak Haura gak mau. Pasti akan aneh jadinya.”
“Kenapa gak mau sih kak? Lui janji gk bakalan lama dan gak bakalan menor. Please... mau ya kak Haura?” Gadis itu meminta dengan penuh harap sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Tidak lupa mata pandanya mengerjap-ngerjap agar Haura luluh dan mengizinkannya untuk mendandani Haura.
Haura menghela nafanya. Ada-ada saja permintaan Luisa. “Lui, kak Haura gak pernah ber-make-up. Jadi aneh rasanya kalau harus menggunakan make-up. Pasti nantinya wajah kak Haura jadi kayak badut. Apalagi sekarang kak Haura lagi sakit. Masak iya, pasien dandan. Aneh kan?” Haura terus mencoba menolak dengan cara yang lembut.
“Justru karna kamu lagi sakit makanya kita dandani. Biar gak pucat. Biar seger gitu keliatannya.” Celetuk Luna yang ikut-ikutan ingin mendandani dirinya.
“Kita gak bakalan dandani kamu kayak ondel-ondel. Kamu tenang aja, Ra. Pokoknya akan terlihat se-natural mungkin. Kayak kita.” Adel pun menyetujui pemikiran konyol Luisa. Sahabat-sahabat Haura seakan memang sengaja mengerjainya saat ini.
Haura pun menjatuhkan bahunya. Pertanda pasrah dengan permintaaan ketiga remaja cantik di depannya. “Terserah kalian deh. Tapi janji setelah itu segera di hapus.”
“Oke...” ketiganya menjawab serentak dan sangat kompak.
Luna, Adel dan Luisa kompak mengeluarkan peralatan make-up sederhana yang selalu mereka bawa di dalam tas mereka masing-masing. Ada bedak, BB Cream, lipstik, maskara, eye liner, blush on dan penjepit bulu mata.
"Let's start." Seru ketiganya bersamaan.
Jemari mereka sangat lihai dalam urusan merias wajah. Haura hanya memasrahkan wajahnya kepada tiga orang yang sedang berkreasi di sana. Memamerkan keahlian mereka pada wajah pucat miliknya.
Dalam situasi ini, Haura seakan menahan nafasnya karena sangat gugup memikirkan akan jadi apa wajahnya nanti.
Sesekali terdengar suara ketiga MUA dadakan tersebut berkompromi untuk menentukan warna lipstik atau blush-on apa yang cocok untuk di aplikasikan pada wajah Haura.
"Gimana kalau lipstiknya pakai punya aku aja," Luna menunjukkan lipstiknya yang berwarna nude pada Adel dan Luisa.
__ADS_1
"Kayaknya jangan nude deh kak? kan kak Haura lagi sakit, kita kasih warna yang lebih fresh, gimana?"
Meskipun Luisa baru berusia lima belas tahun, tapi gadis yang beranjak remaja itu sangat memahami perkara kecantikan. Apalagi ketika dewasa nanti Luisa memang sangat ingin terjun dalam bidang fashion dan juga kecantikan. Oleh karenanya, meskipun masih sangat muda, Luisa sedikit banyak telah mulai mempelajari hal-hal yang berbau fashion dn kecantikan.
"Aku setuju, pakai lipstik aku aja. Rose pink, cocok gak?" Adel ikut mengajukan pendapatnya.
"Cocok kak." Luisa menyambar cepat lipstik milik Adel. Dengan sangat telaten mengaplikasikannya pada bibir pucat Haura.
"Buka mulutnya kak!"
Haura langsung saja menurut mendengar perintah Luisa. Gadis kecil itu benar-benar sukses memerankan sosok MUA yang handal. Sedangkan Luna dan Adel adalah asistennya yang selalu siaga membantunya.
Acara mendandani Haura telah berlangsung lima belas menit. Haura sudah mulai bosan karena tak kunjung selesai. Ini adalah pengalaman pertamanya menggunakan make-up. Karena memang biasanya Haura hanya memakai bedak baby untuk melapisi wajahnya dan juga lip balm untuk bibirnya. Tidak pernah sekalipun Haura tahu bagaimana cara memakai maskara ataupun eye liner.
"Merem kak Hauara." Intruksi lainnya dari Luisa kembali terdengar.
"Untuk apa?" tanya Haura heran.
"Lui mau mengaplikasikan eye liner."
Tanpa banyak tanya lagi, Haura langsung menutup kedua kelopak matanya.
"Masih berapa lama lagi?" tanya Haura sambil merasakan sesuatu menyentuh kelopak matanya.
"Bentar lagi juga siap, Ra." jawab Luna.
Gadis berlesung pipi itu kembali menghela nafasnya. Sebentar lagi adalah waktu yang lama untuknya. Bagi Luna, Adel dan Luisa mendandaninya adalah hal yang menyenangkan. Akan tetapi bagi Haura itu adalah hal yang membosankan.
Haura fikir lebih baik mereka menghabiskan waktu untuk bermain permainan jadul seperti kemarin. Bermain game Ludo. Itu lebih menyenangkan. Bagi yang kalah akan mendapat coretan di wajah menggunakan lipstik dan tidak boleh di hapus sampai pulang ke rumah.
Anehnya lagi, mereka menuruti peraturan tersebut. Tidak ada yang menghapus coretan lipstik di wajah mereka hingga benar-benar tiba di rumah. Meskipun sepanjang jalan dari ruang rawat Haura menuju parkir, orang-orang memberikan tatapan aneh dan ada juga yang tersenyum-senyum sendiri melihat wajah Luna, Adel dan Luisa. Mereka tetap mematuhi peraturan permainan.
Selesai dengan wajah Haura, ketiga remaja itu beralih pada rambut panjang Haura. Adel melepas kuncir ekor kuda sahabatnya itu.
"Kita gerai kan?' tanya Adel lagi.
Luna dan Luisa hanya menggangguk sebagai jawaban.
"Gak usah di apa-apa-in juga udah cantik," Ucap Adel lagi sambil membenahi rambut Haura agar terlihat lebih rapi.
"Di berantakin aja dikit. Biar terkesan lebih wow." Luna mengambil alih untuk membuat rambut Haura terlihat lebih berantakan.
"Perfect." Ucap Luna yang merasa berhasil membuat penampilan Haura lebih cantik.
Wajah polos Haura seakan hilang entah kemana. Dengan make-up natural dan rambut yang di gerai dengan sedikit acak-acakan memberikan kesan dewasa untuk Haura.
"Yes, perfect." Adel dan Luisa mengacungkan kedua jempolnya tepat di depan wajah Haura.
"Liat sini kak!" Cekrek.... Luisa mengambil foto Haura menggunakan handphone miliknya.
"Lihat kak hasilnya. Cantik kan?" Haura menyerahkan handphonenya yang menampilkan foto Haura yang baru saja di ambil olehnya.
Haura tertegun melihat foto dirinya. Bohong jika dia mengatakan tidak cantik. Faktanya memang wajahnya sangat cantik dalam foto itu.
Gadis berlesung pipi itu pun tersenyum kepada ketika ketiga gadis cantik yang duduk si ranjang pasien miliknya. "Emmmm.... cantik. Sangat cantik. Makasih."
__ADS_1
"Yes... itu artinya kita berhasil." pekik Luna.
Ketiga remaja cantik itu pun saling menepuk telapak tangan satu sama lain sebagai ungkapan senang atas keberhasilan mereka menyulap seorang pasien yang pucat menjadi putri cantik bermodalkan peralatan make-up alakadarnya. Satu lagi, sang putri hanya menggunakan seragam pasien. Bukan gaun indah bak cinderella.
"Kita foto bareng dulu." Luna segera mengambil handphonenya dan segera ke empat remaja itu merapat untuk mengambil foto bersama.
Bukan hanya satu foto. Tapi banyak foto yang mereka ambil dengan berbagai macam pose. Mulai pose cantik sampai pose jelek dan konyol.
Ketika ketiganya sedang asik berselfie ria. Tanpa mereka sadari sejak tadi ada tiga pasang mata yang terus saja mengamati kegiatan mereka. Nevan, Niko dan Gian. Sekitar sepuluh menit yang lalu ketiga remaja tampan itu sudah berdiri di sana menyaksikan ke empat gadis remaja tersebut asik berselfie lengkap dengan pose-pose aneh dan terkadang norak.
Nevan hanya memfokuskan tatapannya pada si pasien yang tampil beda dengan make-up di wajahnya dan rambut yang tergerai indah. Cantik. Satu kata yang tidak akan pernah mungkin di ucapkannya.
"Hai... hai.... udah selesai pemotretannya?" Gian yang segera memasuki ruangan tersebut sambil berceloteh ria.
Dari kata-kata Gian dapat di pastikan bahwa ketiga remaja laki-laki itu telah berada di sana dan melihat aksi para gadis remaja yang berada di dalam ruangan.
Mendengar seseorang datang, ke empat gadis remaja itu gelagapan. Pasalnya mereka sedang berpose dengan berlagak sok sexy.
Haura langsung membulatkan matanya ketika melihat Nevan berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang tertuju padanya.
Blush... wajah Haura merona menahan malu. Haura segera menundukkan wajahnya dan tangannya digunakan untuk menutupi wajahnya. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih terdapat make-up disana.
Begitu juga dengan Luna yang sangat merasa malu karena Niko ada di sana. Meskipun Niko hanya menatapnya sekilas dan tidak berkomentar apapun. Tapi tetap saja Luna merasa malu karena kelakukan konyolnya di saksikan oleh orang yang dia sukai.
Sementara Adel dan Luisa bersikap masa bodo dengan kedatangan Nevan, Niko dan Gian. Mereka tidak peduli karena memang tidak ada yang harus di perdulikan.
"Haura," panggi Gian.
Namun Haura tak kunjung menjawab. Dia tak bergeming sama sekali.
"Haura, kamu liat sini dulu." Lagi, Gian mencoba memanggil Haura agar melihat ke arahnya.
Dengan perlahan Haura mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Gian.
"Wow.... Cantik. Kamu cantik, Ra," celetuk Gian. Sang playboy itu memang berkata jujur bahwa saat ini Haura memang terlihat lebih cantik.
"Cantik kan?" tanya Gian kepada Nevan dan Niko yang sejak memasuki ruangan itu belum mengeluarkan sepatah katapun. Mereka hanya duduk tenag di sofa yang ada di ruang rawat inap itu.
"Emmmm...." Gumam Niko sebagai jawaban atas pertanyaan Gian.
Nyessss..... Entah kenapa hati Luna seakan sedih mendengarnya. Meskipun hanya sebuah gumaman, tapi Luna tahu betul bahwa itu adalah jawaban dari Niko yang membenarkan bahwa Haura memang cantik.
Luna menatap sedih ke arah Niko. Sementara Niko seakan tidak peduli meskipun dia tahu bahwa sejak tadi Luna terus menatapnya.
Adel hanya memperhatikan raut wajah sedih Luna tanpa berkata apapun. Begitu juga Haura, yang ikut menatap Luna dengan tatapan bersalah.
"Cantik kan, Van?" mulut Gian tidak hentinya berceloteh. Dia seakan tidak menyadari atmosfir di ruangan itu mulai suram.
"Enggak. Gak cantik sama sekali," jawab Nevan dengan tetap menatap lekat wajah Haura.
Kini giliran hati Haura yang seakan di remas mendengar jawaban Nevan. Dia sempat berharap bahwa Nevan akan memujinya cantik. Tapi, Haura seakan ingin menertawakan dirinya sendiri karena harapan tak tahu malu itu. Meski berdandan bagaimana pun, Haura tidak akan pernah terlihat cantik di mata Nevan.
Ayolah Haura, sadar diri. Batin Haura terus merutuki dirinya sendiri.
"Hai bocah, kamu cantik kok." Sebuah suara asing memenuhi ruangan yang sedang hening tersebut.
__ADS_1
Tatapan milik semua orang yang ada di sana beralih pada sosok pendatang yang langsung memasuki ruangan itu tanpa sungkan sama sekali. Farel.
"Upssss.... Persis seperti drama korea. Akan sedikit rumit." celoteh Luisa sambil nyengir dan menatap Farel yang melangkah menghampiri Haura.