
Ternyata Niko membawa Haura ke ruang broadcast. Ruangan ekskul yang sering di gunakan oleh Niko dan teman-temannya untuk berkumpul. Haura sudah tidak asing lagi dengan tempat tersebut karena memang dirinya pernah beberapa kali ke ruangan itu bersama Nevan.
Rasanya hampir semua hal dan semua tempat yang di lalui oleh Haura di sekolah tersebut selalu mengingatkannya kepada sosok Nevan.
Hanya ada Haura dan Niko disana. Sebelumnya Niko telah terlebih dulu mengunci pintu ruangan tersebut agar tidak ada satu orangpun yang masuk. Mereka akan membicarakan sesuatu yang serius, begitu yang Haura simpulkan.
Namun ada rasa gugup yang melanda Haura. Gadis itu tiba-tiba menjadi takut jika dirinya mendapatkan kabar buruk tentang Nevan. Terlebih sejak pesan terakhir yang Nevan kirimkan untuk dirinya, Nevan sudah tidak bisa di hubungi lagi. Beberapa kali Haura mencoba menghubungi Nevan, akan tetapi nomor Nevan tidak dapat terhubung.
Banyak hal yang ingin Haura tanyakan kepada Niko, akan tetapi gadis itu tidak tahu harus memulai dari mana. Haura memilih berdiri di depan jendela ruangan yang berada di lantai tiga sekolah elit tersebut. Seluruh taman sekolah dapat terlihat dengan jelas dari atas sana.
"Apa lo bisa menghubungi Nevan?" tanya Niko memulai pembicaraan antara dirinya dan Haura. Laki-laki itu tahu bahwa saat ini kabar dari Nevan adalah hal yang paling ingin di ketahui oleh Haura. Juga Niko memulai pembicaraan karena sudah pasti Haura akan membisu jika dirinya tidak memulai untuk bertanya.
"Nggak..." Jawab Haura singkat. Gadis itu masih melihat ke keluar jendela. Enggan menatap lawan bicaranya. Karena Haura takut Niko bisa membaca semua kekhawatirannya. Mungkin saja telah terbaca sepenuhnya.
"Aku gak bisa menghubungi Nevan sejak kemarin," jelas Haura lagi.
"Entah apa yang sebenarnya terjadi." Haura masih betah menatap keluar sana. Tidak banyak siswa yang berada di taman sekolah pada hari itu. Mendung menjadi sebab utama hal itu terjadi. Jika biasanya taman sekolah di penuhi siswa-siswa yang selalu hilir mudik di sana, namun tidak demikian dengan hari itu.
"Apa aku boleh khawatir kaya gini?" tanya Haura lirih.
"Apa aku pantas terlalu mengharapkan kabar darinya?" sambung Haura lagi. Itu bukan pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban. Lebih tepatnya Haura hanya bertanya pada dirinya sendiri. Menyuarakan apa yang ada di hati gadis itu.
__ADS_1
Niko masih diam menunggu Haura selesai dengan perkataannya. Semuanya terlihat begitu sulit bagi Haura. Meskipun Niko tidak berteman baik dengan Haura, namun dirinya tahu seberapa besar Haura mencintai sepupunya Nevan. Bahkan mungkin lebih besar dari apa yang dirinya pikirkan.
"Entah apa yang sebenarnya aku khawatirkan. Mengkhawatirkan dia atau mengkhawatirkan diri aku sendiri," gadis itu tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. Ada gurat kesedihan disana. Belum lagi wajah Haura yang terlihat layu karena kurang tidur.
"Rasanya sangat sulit dan seharusnya semua gak pernah aku mulai," Haura menarik nafas dalam dan membuangnya secara bersamaan.
"Apa yang membuat lo berfikir kaya gitu?" tanya Niko akhirnya. Kedua remaja itu menatap keluar jendela. Berdiri bersama dengan posisi yang cukup berjarak.
Niko menatap langit lagi. Mendung belum juga usai. Bahkan mungkin langit sedang bersiap menurunkan hujan lagi. Padahal sudah Januari, seharusnya hujan tidak turun terlalu sering layaknya Desember.
Gadis itu masih belum menatap lawan bicaranya. Bagi Haura seperti ini adalah cara terbaik agar orang lain tidak melihat seberapa rapuh hatinya saat itu. Haura benar-benar di kalahkan oleh perasaannya sendiri. Mencintai Nevan dan memilih memendam cintanya ternyata tidak semudah yang ia pikirkan.
"Dia gak akan menghilang," jawab Niko.
Akhirnya Haura mengalihkan tatapannya pada Niko.
"Dia akan datang. Hanya saja semua butuh waktu," ujar Niko lagi.
Ada senyum getir yang terlukis jelas di sudut bibir Haura. "Apa aku boleh tau apa yang sebenarnya terjadi?"
Niko menghela nafas panjang. Laki-laki itu mencoba mencari jawaban terbaik agar Haura tidak salah paham pada Nevan. Meskipun hubungan Haura dan Nevan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, namun Niko berharap agar keduanya bisa bersama. Mereka harus berjuang dan bertahan untuk cinta mereka.
__ADS_1
"Biarkan dia menyelesaikan semuanya disana. Beri dia waktu untuk menyelesaikan masa lalunya," jawab Niko.
Deg...
"Masa lalu?" batin Haura.
"Nevan akan memenuhi janjinya untuk kembali. Percaya pada Nevan." Niko mencoba meyakini Haura.
Percaya. Baik Niko maupun Gian mengucapkan kalimat yang sama. Meminta Haura untuk percaya pada Nevan.
Fikiran Haura melayang jauh kesana. Ketempat Nevan berada. Tempat dimana Haura tidak pernah mengetahuinya sama sekali. Itu artinya ada seseorang disana. Ada seseorang yang sedang menunggu Nevan kembali. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedang menanti, tetapi ada orang lain yang namanya tidak Haura ketahui terlebih dulu menanti kedatangan Nevan.
Hati Haura semakin bersedih karena kebenaran yang baru saja diketahuinya dari Niko. Ada seseorang yang hatinya masih sangat terpaut pada Nevan. Haura merasa seperti hadir di antara Nevan dan juga masa lalu laki-laki itu. Masa lalu yang entah siapa, namun pasti sangat berarti bagi Nevan.
Meskipun Niko berkata bahwa Nevan sedang menyelesaikan masa lalunya, namun masa lalu itu bisa saja kembali dengan saling memperbaiki. Menyelesaikan atau bisa saja kembali bersama.
Haura mengingat janji yang Nevan ucapkan pada dirinya bahwa laki-laki itu akan segera kembali menemuinya. Ingatan tentang janji itu perlahan mulai redup. Janji itu telah terabaikan.
"Apa dia akan kembali untuk aku? Atau kembali bersama dia."
Cinta Haura semakin meringkuk jauh di dalam lubuk hati gadis itu. Mencoba bersembunyi dalam riuhnya ketidakmungkinan untuk bersama. Inikah waktunya untuk Haura mengubur cinta itu selamanya? Ataukah Haura membiarkan saja cinta itu menentukan jalannya sendiri.
__ADS_1