
Di lapangan basket terlihat Nevan sedang bermain basket bersama Gian, Niko dan beberapa siswa laki-laki lainnya. Sementara itu di bangku penonton di penuhi oleh para siswa perempuan yang telah selesai mengikuti pelajaran olahraga. Akan tetapi karena masih ada sisa waktu sebelum jam pelajaran berakhir, mereka memilih untuk menyaksikan permainan dari para siswa tampan sekolah mereka.
Sejak tadi teriakan demi teriakan yang terus menggemakan nama Nevan, Gian dan Niko terdengar sahut menyahut. Suara para gadis remaja tersebut seperti tidak pernah ada habisnya menyebutkan tiga nama murid laki-laki paling populer di sekolah mereka. Nevan dan Niko seolah memekakkan telinga mereka mendengar nama mereka di teriakkan sedemikian rupa. Hanya Gian yang sesekali melambaikan tangannya ke arah kumpulan kaum hawa tersebut. Saat hal itu terjadi, maka sontak saja teriakan yang menyebutkan nama Gian semakin nyaring terdengar.
Dalam kerumunan para gadis remaja tersebut juga ada Rhea dan Bella. Akan tetapi mereka duduk di kursi penonton paling depan. Hanya Rhea dan Bella. Karena tidak ada satu pun murid lain yang berani duduk di sebelah mereka. Perbedaan kasta seolah sangat terlihat di sana.
Sebenarnya sejak tadi Nevan tidak fokus pada permainannya.Bukan karena teriakan yang terus memanggil namanya.Akan tetapi sejak tadi Nevan menyapukan pandangannya ke setiap sudut lapangan untuk mencari keberadaan Haura. Sayangnya sosok yang di cari Nevan tak kunjung menampakkan batang hidungnya hingga jam pelajaran olahraga akan berakhir.
"Gue cabut duluan," ucap Nevan sambil melemparkan bola basket yang berada di tangannya ke arah Niko.
"Buru-buru amat sih, Van?" tanya Gian ketika mendengar Nevan menyudahi permainannya. "Kita masih punya waktu dua puluh menit lagi buat main."
"Gak, gue mau udahan. Dan kalian lanjut aja.” Nevan pun mengambil botol air mineral dan meneguk isinya hingga menyisakan setengah.
Permainan basket tersebut pun bubar karena Gian dan Niko juga ikut meninggalkan lapangan dan menghampiri Nevan.
"Lo kenapa, Van. Gue perhatikan permainan lo sangat buruk hari ini?" tanya Niko.
"Gue gak pa-pa.Cuma lagi gak mood aja."
"Gak mood kenapa? Lo punya masalah?" tanya Niko lagi. Karena memang sejak tadi Niko memperhatikan Nevan. Sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Seolah ada sesuatu yang saat ini sedang mengganggu fikiran Nevan.
"Gue cabut dulu." Bukannya menjawab, Nevan malah pergi meninggalkan Niko dan Gian begitu saja.
"Sepertinya gue tau apa yang membuat Nevan bad mood," Ucap Gian dengan tersenyum penuh makna.
"Gue harap lo bisa menjaga rahasia ini. Jangan katakan apapun pada siapapun,” kata Niko yang terdengar
seperti sebuah perintah.
“Mulut gue gak se-lemes itu kali. Lo tenang aja. Gue tau batasan.” Setelah mengucapkan itu, Gian meraih botol minumam miliknya yang isinya hanya tinggal setengah dan menenggaknya hingga tandas.
Jujur saja Gian seperti melihat sisi lain dari seorang Nevan ketika bersama Haura. Tidak biasanya Nevan peduli kepada seorang perempuan. Kecuali seorang gadis yang pernah mengisi hati Nevan satu tahun yang lalu. Setelahnya Nevan tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun selain Haura. Bahkan pada Rhea pun, Nevan hanya bersikap biasa saja.
Bisa di katakana jika perhatian yang Nevan berikan kepada Haura melebihi perhatian Nevan kepada mantan pacarnya yang berada di Sydney. Gian tentu saja tahu bagaimana kisah cinta Nevan dulu. Karena memang Gian
sangat sering mengunjungi Nevan ke Sydney.
“Apa menurut lo, Nevan menyukai Haura?” tanya Gian lagi.
Niko hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan Gian. “Gue cuma berharap semoga Nevan gak menjadikan Haura sebagai pelariannya. Karena gue gak mau kalau Nevan sampai menyakiti Haura.”
“Lo naksir sama Haura?” tanya Gian yang kaget ketika mendengar Niko mengkhawatirkan Haura.
Bukannya menjawab pertanyaan Gian, Niko justru pergi meninggalkan Gian seorang diri.
“Sial…. Kalian berdua memang menyebalkan.” Gian terus saja mengumpat sambil mengikuti langkah Niko.
*******
Nevan menajamkan penglihatannya ketika dari kejauhan melihat Haura sedang berjalan menuju ke kelas mereka.
“Haura…. Tunggu!” Nevan pun memanggil nama Haura dengan sangat kencang agar si empunya nama dapat mendengar panggilannya.
Pada kenyataannya bukan hanya Haura yang dapat mendengar suara Nevan, tapi anak-anak lain yang berada disana juga dapat mendengar panggilan Nevan. Hingga kini yang terjadi adalah tatapan mereka tertuju pada si
pemilik nama tersebut, Haura.
__ADS_1
Dengan setengah berlari, Nevan datang menghampiri Haura.
“Kenapa kamu pakai hoodie?” tanya Nevan heran ketika melihat Haura bukannya menggunakn seragam sekolahnya, tapi justru menggunakan sebuah hoodie yang Nevan yakini itu bukanlah milik Haura. Karena tadi pagi saat pergi ke sekolah Haura hanya memakai seragam sekolah tanpa sebuah hoodie.
“Terus ini hoodie punya siapa?”
“Tadi baju aku basah waktu ke toilet. Jadi aku pakai hoodie milik Luna supaya gak masuk angin,” jawab Haura mencoba mencari alasan yang tepat agar Nevan tidak curiga bahwa sebenarnya dirinya memakai Hoodie milik
Luna untuk menutupi luka di lengannya.
“Kalau gitu kita beli seragam baru untuk kamu di koperasi sekolah.” Nevan langsung menggenggam tangan Haura untuk menuju koperasi sekolah.
“Gak usah, Van. Bentar lagi baju aku bakalan kering. Lagian aku lebih nyaman pakai ini, karena aku sedikit kedinginan. Mungin karena efek baju aku yang basah dan gak langsung aku ganti.”
Nevan mengerutkan alisnya menatap penuh selidik kepada Haura. “Yakin mau gini aja?”
“Yakin, Van,” jawab Haura cepat.
“Satu lagi, kenapa tadi aku gak ngeliat kamu waktu jam pelajaran olahraga?” tanya Nevan memulai investasi lainnya kepada Haura.
“Tadi aku gak bisa ikut pelajaran olahraga,” jawab Haura sekenanya saja. Mana mungkin Haura mengatakan apa yang menjadi alasan sebenarnya hingga dirinya tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga.
“Kenapa?” Tanya Nevan lagi dengan menaikkan sebelah alisnya. Nevan sedang menelisik raut wajah Haura yang mulai menunjukkan gelagat tidak nyaman. Remaja laki-laki itu sangat paham bahwa setelah ini Haura pasti akan memberikan sebuah jawaban yang sangat ambigu.
“Emmm…. Aku gak bisa kasih tau ke kamu alasannya.”
“Kenapa sih, Ra, kamu selalu buat aku harus bertanya berulang kali pada satu pertanyaan yang sama. Kenapa kamu gak pernah mau jawab dengan jujur setiap pertanyaan yang aku kasih ke kamu,” ucap Nevan lagi karena dirinya merasa pasti saat ini ada yang di sembunyikan Haura dari dirinya.
“Nevan, gak semua hal harus aku ceritakan ke kamu,” Haura berkata dengan penuh kelembutan agar Nevan berhenti bertanya padanya.
“Tapi aku mau kamu selalu menceritakan apapun ke aku. Baik itu hal yang kamu anggap penting atau bahkan hal sepele sekali pun. Semuanya.”
“Haura, Kamu bentak aku?” Nevan semakin yakin dengan dugaannya bahwa saat ini ada sesuatu yang sedang Haura tutupi darinya.
“Bukan gitu, Van. Aku…” Haura menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. “Aku seperti ini karena…”
“Karena Haura sedang datang bulan.” Terdengar suara Luna berkata tepat di belakang Nevan.
Nevan menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Luna dan Adel telah berada di sana. Tepat di belakangnya.
“Maksud lo apaan?” kini Nevan bertanya kepada Luna.
“Maksud gue, Haura lagi datang bulan makanya dia gak bisa ikutan pelajaran olahraga. Lo pernah dengar kan, kalau cewek lagi datang bulan, biasanya akan mengalami keram pada perutnya. Jadi, tadi Haura milih untuk istirahat di UKS agar keram perutnya sedikit berkurang,” Luna menjelaskan dengan panjang lebar kepada Nevan tanpa peduli dengan ekspresi Haura yang sedang membuka rahangnya dengan lebar karena perkataan yang baru saja dirinya ucapkan.
Haura menatap heran kepada Luna. Dirinya tidak habis fikir, bagaimana bisa Luna memberikan alasan se-memalukan itu. Menurut Haura banyak alasan lainnya yang bisa Luna berikan, seperti demam misalnya, tapi kenapa harus datang bulan.
“Ooooo….. jadi karena itu.” Nevan pun kembali memfokuskan manik coklat miliknya kepada Haura. Laki-laki tampan itu memegang kedua pundak Haura, “Kenapa kamu gak bilang kalau kamu lagi datang bulan? Kan aku bakalan ngerti,” ucap Nevan dengan tersenyum manis kepada Haura.
Sedetik kemudian Nevan pun mencubit gemas kedua pipi Haura. “Seharusnya kamu jawab jujur, gak perlu marah-marah gitu ke aku.”
Haura belum menjawab sepatah kata pun dari perkataan Nevan. Dirinya heran melihat Nevan seakan biasa saja ketika membahas masalah datang bulan. Padahal Nevan sama sekali tidak pernah mengalaminya. Apalagi bagi Haura membicarakan masalah datang bulan di hadapan laki-laki adalah sesuatu yang tabu dan memalukan. Tapi mengingat Nevan yang pernah tinggal di luar negeri tentu saja hal itu adalah pembicaraan yang wajar menurut Nevan.
“Besok-besok kalau kamu mengalami keram lagi saat datang bulan, kamu bisa bilang ke aku.” Perkataan Nevan membuat Haura, Luna dan Adel membulatkan mata mereka dengan sempurna.
“Kenapa aku harus bilang ke kamu? Apa kamu fikir jadwal datang bulan aku adalah sebuah pengumuman penting yang harus di ketahui oleh banyak orang?” kini Haura benar-benar di buat pusing dengan perkataan Nevan.
“Gak bakal ada orang yang tahu. Cuma aku yang tahu. Siapa tahu aku bisa bantuin kamu untuk menghilangkan keram di perut kamu,” jawab Nevan nyengir.
__ADS_1
“Bantuin aku? Bantuan gimana maksud kamu?” Tensi darah Haura tiba-tiba naik karena ucapan Nevan.
“Ya aku gak tahu gimana cara bantunya,” jawab Nevan sambil mengusap tengguknya dan tersenyum nyengir. “Kan kamu tinggal bilang ke aku bantuan apa yang kamu butuhkan. Jadi aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan.”
“Nevan….” Ucap Haura sambil menggeram.
“Kenapa marah lagi sih, Ra?”
“Satu lagi yang lo harus tahu sebelum menawarkan bantuan kepada Haura.” Adel menyela pembicaraan antara Haura dan Nevan.
“Apaan yang gue harus tahu?” tanya Nevan dengan memasang atensi ekstra karena dirinya memang benar-benar penasaran dengan apa yang akan di ucapkan Adel.
“Cewek yang sedang datang bulan juga suka moody-an. Jadi suka sensitive gitu. Kadang bisa nangis, marah dan bahkan suka mukul sembarangan. Kayak gini,” ucap Adel sambil memberi satu pukulan yang sangat kuat tepat di lengan atas milik Nevan.
“Lo apa-apa-an sih main sembarangan pukul gue. Sakit tau,” protes Nevan karena aksi Adel yang tiba-tiba saja memukul lengannya dengan sekuat tenaga. Pukulan Adel sama kuatnya dengan pukulan seoarang laki-laki. Karena memang Adel menguasai beberapa ilmu bela diri.
“Kalau tahu sakit, seharusnya lo gak usah banyak tanya lagi. Karena saat ini kita bertiga sedang datang bulan dan mood kita juga lagi berantakan. Jadi, kita butuh seseorang untuk melampiaskan semua kekesalan kita,” lagi-lagi Adel memberi ancaman kepada Nevan.
Glek…
Nevan menelan salivanya dengan kasar saat melihat Haura, Adel dan Luna sedang menatapnya dengan tatapan setajam elang yang telah berhasil mengunci mangsa.
“Oke… Oke… Gue gak bakalan nanya apa pun lagi.” Nevan pun mengangkat kedua tangannya pertanda bahwa dia telah menyerah dan akan berhenti untuk bertanya.
“Sebaiknya sekarang lo….”
“Oke gue pergi.”
Belum sempat Adel menyelesaikan perkataannya, Nevan memilih untuk mengalah dan pergi meninggalkan ketiga gadis remaja yang sedang kedatangan tamu bulanan tersebut.
Haura, Luna dan Adel tidak bisa menahan tawa ketika melihat Nevan meninggalkan mereka dengan terburu-buru. Kebohongan mereka sukses mengelabui Nevan.
“Kenapa kamu bisa kepikiran tentang datang bulan sih, Lun?” tanya Haura ketika telah memastikan bahwa saat ini Nevan benar-benar telah pergi jauh dari mereka.
“Gak tau sih, mulut aku tiba-tiba reflek pas bilang kalau Huara lagi datang bulan,” jawab Luna.
“Tapi alasan spontan kamu keren, Lun,” ucap Adel dan memberikan acungan jempol kepada Luna. Haura pun ikut mengacungkan kedua jempolnya kepada Luna.
“Siapa dulu dong, Luna…” jawab Luna dengan mengibaskan rambutnya yang tergerai indah.
“Tapi gue heran deh, kok bisa ya Nevan segampang itu kita bohongin?” tanya Adel kepada kedua sahabatnya.
Haura dan Luna hanya mengedikkan bahu mereka sebagai jawaban atas pertanyaan Adel.
“Makasih ya, kalian udah bantuin aku lagi. Kalau gak ada kalian, aku pasti bingung buat kasih alasan ke Nevan kenapa gak ikut jam pelajaran olahraga.” Haura berkata dengan penuh ketulusan atas bantuan bertubi-tubi yang dia terima dari Luna dan Adel.
“Kamu tenang aja, Ra. Kita bakal selalu bantuin kamu. Se-enggaknya hari ini Nevan gak bakalan melakukan invenstigsi lanjutan ke kamu,” ujar Luna.
“By the way… kamu bakal kasih alasan apa kalau Ibu kamu nanya tentang luka di tangan kamu?” tanya Adel.
“Kalian tenang aja. Aku akan fikiran alasan yang masuk akal supaya Ibu aku percaya,” jawab Haura penuh keyakinan meskipun dirinya sama sekali belum memikirkan alasan apa yang akan dirinya berikan kepada Ibunya
nanti.
“Sebaiknya sekarang kita ke kantin. Karena aku mau ngapelin best friend aku yang ada di sini,” ucap Luna sambil menunjuk ke arah perutnya.
“Oke…” jawab Haura dan Adel secara bersamaan.
__ADS_1
Selanjutnya ketiga bersahabat itupun berjalan sambil bergandengan tangan dengan posisi Haura yang berada di urutan tengah menuju kantin sambil di selingi dengan candaan receh.