(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta

(Bolehkah) Aku Jatuh Cinta
Rindu Tetaplah Rindu


__ADS_3

Tolong tinggalkan jejak yah sayangkuh semuanya🥰


Yang belum follow akun aku, plissss tolong di follow dulu


Happy reading guys🌹🌹


...****************...


Seorang gadis menatap pada jam dinding yang terus berdetak. Setiap detik, menit dan jam terus berganti. Padahal waktu telah menunjukkan larut malam. Namun gadis itu belum juga memejamkan kedua matanya. Indra pendengarannya terus mencoba menangkap adakah suara deru mobil yang datang atau pun pergi dari rumah mewah tempatnya tinggal. Sayangnya hingga waktu pagi tiba tidak ada tanda-tanda kedatangan seseorang ke rumah mewah tersebut.


Selama dua hari berturut-turut hal itulah yang selalu di lakukan oleh Haura. Gadis itu sampai mengorbankan waktu tidurnya untuk menunggu kedatangan Nevan. Sungguh di sayangkan, hingga waktu libur sekolah telah usai, Nevan tak kunjung kembali dari Sydney.


Berbagai fikiran buruk berkecamuk dalam benak Haura. Dirinya khawatir hal buruk terjadi pada laki-laki yang di cintainya itu.


Sementara itu Zayn seolah tahu apa yang sedang di fikirkan dan di nantikan oleh Haura. "Nevan baik-baik aja Ra, kamu jangan khawatir?"


"Nevan pasti akan segera kembali," itulah yang di ucapkan Zayn dua hari yang lalu.


Kalimat penenang yang di ucapkan oleh Zayn tidak cukup untuk membuat Haura tidak mengkhawatirkan Nevan. Semua itu karena Nevan bagaikan mengabaikan dirinya selama dua hari terakhir. Banyak pesan yang Haura kirimkan namun sangat jarang di balas oleh Nevan. Juga banyak panggilan telepon dari Haura yang di tolak oleh Nevan. Hal tersebut membuat Haura sangat bersedih. Tapi sebisa mungkin gadis itu mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


Yang terkahir Haura mengirimkan pesan yang begitu panjang kepada Nevan. Gadis remaja itu mengungkapkan isi hatinya tentang kerinduannya juga ke khawatirannya kepada Nevan.


Setelah beberapa jam menunggu jawaban dari Nevan, akhirnya notifikasi pesan di ponsel Haura pun berbunyi. Itu adalah notifikasi pesan dari Nevan, "Aku baik-baik aja disini. Jangan khawatirkan apapun. Jaga diri kamu disana. Ada sesuatu yang ingin aku katakan saat aku pulang nanti. Aku kangen kamu... juga aku selalu sayang kamu, Haura."

__ADS_1


*******


Hari pertama sekolah semester genap pun di mulai.


Haura meneliti lagi penampilan dirinya pada sebuah cermin di kamar gadis itu. Seragam sekolah yang terlihat sangat rapi, rambut yang terkuncir sempurna, namun wajah gadis itu terlihat sangat kusut. Lingkar hitam di kedua mata Haura terlihat sangat kentara. Bagaimana tidak, gadis itu telah mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk menunggu kabar dari Nevan.


Semangat Haura seakan meredup. Kepergian Nevan telah mengambil sebagian dari kebahagian Haura. Biasanya gadis itu begitu ceria menyambut hari-hari sekolahnya karena akan bertemu dengan kedua sahabatnya yaitu Luna dan Adel.


"Semangat Haura... harus semangat," ujar Haura pada pantulan dirinya yang terlihat lewat cermin.


"Harus belajar yang rajin biar bisa bahagiakan Ibu." Gadis itu memasang senyum di wajahnya.


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Haura berangkat menuju sekolahnya. Tidak adanya Nevan membuat Haura kembali ke rutinitasnya yang dulu sebelum kedatangan laki-laki itu. Haura berangkat ke sekolah menggunakan jasa angkutan online.


Gadis itu menyusuri setiap koridor sekolah melewati beberapa ruang kelas untuk menuju ke ruang kelasnya. Sambil berjalan Haura melihat sekeliling lingkungan sekolahnya. Gadis itu tersenyum ketika mengingat Nevan yang selalu memaksanya untuk ikut bersama dirinya. Selalu saja mereka menjadi bahan tontonan siswa yang lainnya.


Dulu Haura merasa semua sikap Nevan sangat berlebihan. Tidak jarang pula Haura menjadi bahan cibiran teman-temannya karena mereka menganggap Haura lah yang menggoda Nevan. Kini gadis itu justru merindukan itu semua. Merindukan Nevan yang menggenggam tangannya, melewati koridor yang di penuhi oleh banyak siswa. Bahkan Haura tidak mau peduli lagi dengan pandangan tidak suka dari semua siswa disana.


"Cepat kembali Nevan. Aku kesepian."


Semilir angin yang menyejukkan menerpa tubuh gadis itu. Seperti nyanyian rindu dari musim penghujan yang menantikan langit menyapa bumi. Langit pagi itu terlihat sangat mendung. Sebuah pesan rindu dari langit kepada bumi seperti akan kembali tercurah lewat rintik hujan.


Haura membuka pintu kelasnya. Tidak ada siapapun disana. Langkah kakinya langsung menuju tempat duduknya. Di pandangnya kursi di sebelahnya. Haura hanya tersenyum. "Aku kangen kamu."

__ADS_1


Satu persatu siswa mulai berdatangan. Perlahan namun pasti suara riuh siswa kembali terdengar. Begitu pun dengan kelas Haura. Teman-teman sekelasnya satu persatu memasuki ruangan tersebut.


"Hauraaaaa....." seorang gadis remaja cantik memanggil nama Haura dan segera memeluk gadis berlesung pipi itu.


"Luna... Aku gak bisa bernafas," protes Haura pada sahabatnya Luna. Benar, yang memanggil nama Haura adalah Luna sahabatnya.


"Aku kangen kamu Ra," Luna tidak memperdulikan protes dari Haura.


Haura tersenyum mendengar ucapan Luna, "Aku juga sangat kangen kamu."


"Aku juga kangen Adel," ucap Haura pada Adel yang baru saja ikut bergabung bersama mereka.


Mendengar nama Adel, Luna pun langsung melepaskan pelukannya pada Haura. Gadis cantik itu beralih ingin memeluk sahabatnya Adel.


"Stop Luna... Jangan seolah kita telah berpisah bertahun-tahun," protes Adel menghentikan Luna yang hendak memeluk dirinya.


Luna memanyunkan bibirnya. Begitulah Adel selalu saja menolak setiap dirinya ingin memeluk Adel. Namun bukan Luna namanya jika mengikuti apa yang Adel dan Haura katakan.


Detik itu juga Luna langsung memeluk Adel erat. Tidak kalah erat dengan pelukannya kepada Haura tadi. "Aku kangen banget sama kamu juga. Kangen ya tetap kangen gak peduli kalau pun kita hanya berpisah satu hari."


Ya, benar.... Rindu adalah rindu. Tidak peduli sesingkat apa sebuah perpisahan. Bahkan sebagian orang bisa merindu meskipun sedang bersama. Rindu bukan hadir karena jarak yang tercipta tetapi rindu ada karena seseorang telah hidup di dalam hati kita.


Haura tersenyum melihat kedua sahabatnya itu. Luna dan Adel sedang berdebat mempersoalkan kata rindu. Hal tersebut sudah sering terjadi di antara keduanya. Bila itu terjadi, Haura selalu saja berperan sebagai penengah di antara mereka.

__ADS_1


"Ya... rindu tetaplah rindu," lirih Haura pada dirinya sendiri.


__ADS_2